Tampilkan postingan dengan label Warangka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warangka. Tampilkan semua postingan
Mendak atau Cincin Keris

Mendak atau Cincin Keris

Mendak atau Cincin Keris

Mendak atau Cincin Keris - Mendak atau Mendhak adalah perlengkapan dari ukiran yang berada di bagian bawah hulu, berfungsi sebagai hiasan dan sekaligus sebagai penguat tancapan pesi pada ukiran. Mendak terbuat dari logam emas, perak, kuningan atau campuran keduanya. Mendak biasa dihias batu mulia mulai dari intan, berlian sampai manik-manik berwarna-warni merah dan hijau. Mendak demikian disebut Mendak Kendit, sedangkan Mendak yang tidak dihiasi dinamakan Mendak Lugas.
Mendak terdiri dari beberapa bagian yang saling berhubungan, bagian paling tengah berupa bentukan seperti kerucut terpancung yang dinamakan Srumbung. Bagian-bagian mendak dari atas ke bawah adalah sebagai berikut : 
  1. Meniran yaitu deretan butir-butir kecil berjumlah 30 s.d 31.
  2. Bingkai halus dimana meniran itu melakat
  3. Ungkat-ungkatan, berjumlah 8/9 - 16, tempat bergantung bola-bola kecil terletak di bagian atas.
  4. Untu Walang (gigi belalang) yaitu lempeng-lempeng tajam kecil.
  5. Widheng ialah tempat bertenggernya bola-bola batu mulia, terletak pada setiap untu walang dan setiap ujung ungkat-ungkatan. Pada Mendak Lugas, widheng ini polos. Bola-bola batu mulia ini melekat pada dasar cincin, disebut dhamping (penyokong, penahan).
  6. Ri Pandhan (duri pandan) ialah segitiga-segitiga kecil yang melekat pada cincin yang langsung berhubungan dengan bola-bola batu mulia, Ri Pandan ini berada pada sebuah cincin, disebut tumpang sari (tiga balok yang disusun seperti tangga pada atap bangunan pendapa).
  7. Sor-soran (bagian paling bawah) yaitu deretan butir-butir kecil yang terletak paling bawah, Meniran Klawang adalah meniran bagian atas sebagai kebalikan Meniran Sor-soran. Semua bagian tersebut melakat dalam sebuat tabung yang disebut srumbung. 
Selut 

Guna mempercantik keris, seringkali di atas mendak masih dilengkapi dengan Selut, yaitu cincin logam emas, perak atau logam lain di sekitar bungkul ukiran. Terdapat beberapa jenis Selut yaitu : 
Selut Trap-Trapan ialah selut yang dibuat dari beberapa bagian yang lepas.
Selut Tatahan ialah bilamana selut itu terbuat dari logam yang ditatah. 

Pada Selut Trap-Trapan, motif hiasannya bisa berupa :
  • Kembang Unthuk-Unthuk (Unthuk Busa).
  • Kembang Anggur.

Sedangkan Selut Tatahan, Motif hiasannya bisa berupa tatahan motif batik, seperti
  • Semen Jlengut
  • Wilaya
  • Kuma Iraawan
  • Lung Gadhung
  • Saton (bentuk adonan roti yang siap untuk di bakar/panggang)
  • Tlacapan (tumpal, tumpang, sarah, seret/cerat panjang), Selut biasanya dipasang berlekatan dengan mendak
Perbedaan mendak Surakarta dan Yogyakarta adalah sebagai berikut : 

No
Bagian Mendak
Surakarta
Yogyakarta
1
Meniran Klawang
32 Butir
32 Butir
2
Ungkat-Ungkatan
16
11
3
Untu Walang
16
11
4
Widheng Kendhit
9 Butir
9 Butir
5
Dhamping
ada
ada
6
Tumpang Sari
ada
ada
7
Ri Pandhan
13 Butir
13 Butir
8
Meniran Sor-soran
22
22

Berikut Beberapa Jenis Mendak yang Biasa Kita Ketemui :

Mendak Wajikan Surakarta

Mendak Kendhit Seling Mirah Surakarta

Mendak Kendhit Yogyakarta

Mendak Kendhit Surakarta

Mendak Robyong Yogyakarta

Mendak Parijatha Surakarta

Mendak Tumbar Pecah Surakarta

Mendak Meniran Cirebon

Mendak Meniran Surakarta

Mendak Tumpalan Surkarta

Mendak Widhengan Surakarta

Mendak Tumpang Sari Surakarta

Mendak Segara Muncar Surakarta

Mendak Bejen Surakarta

Mendak Bejen Yogyakarta
Mendak Bejen Yogyakarta
Gagang Keris Jawa dan Luar Jawa

Gagang Keris Jawa dan Luar Jawa

Gagang Keris Jawa dan Luar Jawa - Gagang Keris atau sering disebut Deder Keris memiliki berbagai macam bentuk, bahan pembuatannya juga beragam, mulai dari kayu. logam, gading, tulang hewan, tanduk, sampai fiber. Fungsi hulu keris adalah sebagai tempat genggaman yang ditancapi pesi bilah keris. Bentuk hulu keris mengandung maksud/harapan tertentu bagi pemakainya. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan yang bersangkutan misalnya :
  • Bentuk patung melambangkan kesaktian dan perlindungan
  • Bentuk kelopak bunga atau daun teratai melambangkan ketuhanan atau kesucian
  • Bentuk tokoh wayng melambangkan sifat tokoh yang digambarkan, misalkan tokoh Semar mengandung harapan agar pemakainya bersifat seperti tokoh sepuh Semar.
  • Bentuk hewan melambangkan harapan agar pemakainya mendapat perlindungan agar selamat.
  • Bentuk burung melambangkan dunia atas dan keselatan dan masih banyak lagi tafsir-tafsir lainnya.

Yang jelas bentuk ukiran itu bermaksud untuk menambahkan keindahan, kesucian dan kharisma keris. Bentuk ukurin yang paling tua adalah ukiran yang menyatu dengan bilahnya. Orang Barat menyebut keris dengan ukiran yang menyatu dengan bilah dengan istilah keris Majapahit. Ukiran keris demikian biasanya berbentuk area orang-orangan baik dalam posisi jongkok maupun dalam kedudukan bersedakep. Penamaan tersebut kurang benar karena belum tentu keris dengan ukiran menyatu dengan bilah buatan jaman Majapahit.

Deder Keris Jawa dan Luar Jawa

Penampilan luar sebuah ukiran mempunyai nilai tersendiri bagi sebuah keris. Misalnya, ukiran Jengker yaitu ukiran dengan gambaran garis-garis sejajar cincin melingkari ukiran mendapatkan penghargaan lebih dari pada ukiran tanpa jengker. Ada lagi ukiran Kendhit ialah ukiran yang bagian tengahnya dihias dengan cincin Kendhit. Konon keris dengan ukiran kendhit ini bertuah keselamatan dan bila dipakai pada saat punya hajat, bisa mengikat para tamunya hingga mereka belum pamit pulang bila belum dipersilahkan.
Begitu juga dengan ukiran-ukiran yang batang tubuhnya mengandung mata kayu disebut Unyeng, dinilai memiliki tuah tertentu bagi pemakainya. Unyeng biasanya terdapat pada ukiran kayu kemuning dan tayuman. Mata kayu yang berbentuk pusar-pusar ini jika terletak di punggung ukiran dinamakan Satriya Wibawa yang dipercaya memiliki khasiat kewibawaan, apa yang dikatakan selalu di dengar orang lain. 
nama bagian-bagian dari gagang keris

Dikatakan Satriya Kinayungan (Pinayungan) bilamana mata kayu itu berjumlah dua buat terletak di tengah-tengah punggung ukiran dengan posisi bawah-atas. Unyeng begitu dipercaya dapat menambah wibawa pemakainya dan selalu selamat dalam peperangan. Kecuali itu pemilik keris dengan ukiran Satriya Kinayungan dipercaya selalu disayang oleh atasannya, pemimpinnya atau raja bilamana ia menjadi abdi dalem keraton. 

Unyeng Satriya Kembar (Satriya Sakembaran) adalah penamaan dua unyeng yang terletak sejajar di punggung ukiran. Unyeng demikian dipercaya bertuah derajat dan pangkat artinya ia bisa cepat mengangkat derajat dan pangkat pemiliknya. Yang istimewa adalah Unyeng Sotya ialah mata kayu yang berada di bagian dahi (bathuk) ukiran. Unyeng semacam ini dipercaya bertuah memiliki firasat jika akan terjadi sesuatu dan pandai memilih teman. Di masa dulu keris dengan unyeng Sotya ini banyak dicari para pedagang karena dianggap dapat mempertinggi firasat dagannya hingga dapat mengantarnya ke tingkat orang berharta. Orang ini disebut kuwat sugih lan kuat kebandhan
  
Unyeng Asmaradana adalah penamaan mata kayu yang terletak di tengah bagian cethik ukiran. Unyeng semacam ini dipercaya dapat menarik wanita/lelaki dan kuat menyimpan simpanan tanpa diketahui oleh anggota keluarganya.

Lain lagi yang disebut Unyeng Wetengan yaitu mata kayu yang berada di bagian tengah ukiran. Unyeng ini juga sering disebut Unyeng Sinaroja, dipercaya unyeng demikian bertuah kerejekian artinya mudah mencari rejeki. Ibaratnya "ora kurang sandhang pangane, lumintu rejekine".

Jika dirangkum jenis-jenis Unyeng tersebut diatas adalah : Unyeng Satriya Wibawa, Unyeng Satria Kinayungan, Unyeng Satriya Kembar, Unyeng Sotya, Unyeng Asmaradana, Unyeng Satriya Sinaroja (Unyeng Wetengan). Versi lain menyebutkan, Unyeng yang terletak di punggung ukiran dinamakan Unyeng Gendhong, Unyeng yang berada di dahi atau ubun-ubun dinamakan Unyeng Sunggi, Unyeng Bopong adalah penamaan Unyeng yang berada di bagian Weteng atau perut ukiran. Bagi pecinta keris yang fanatik terhadap tuah yang dianggap top khasiatnya adalah Unyeng Sunggi karena dipercaya dapat mengangkat derajat pemiliknya baik di dalam masyarakat maupun ekonominya.  

Gagang Keris Yogyakarta
Deder Keris Yogyakarta
Deder Keris Yogyakarta


Gagang Keris Surakarta
Deder Keris Surakarta
Deder Keris Surakarta
Deder Keris Surakarta
Deder Keris Surakarta

Gagang Keris Bali
Deder Keris Bali
Deder Keris Bali

Gagang Keris Madura
Deder Keris Madura
Deder Keris Madura
Deder Keris Madura
Deder Keris Madura

Gagang Keris Sumatra
Deder Keris Sumatra
Deder Keris Sumatra

Gagang Keris Cirebon
Deder Keris Cirebon

Gagang Keris Ukiran Klasik


Jenis-Jenis Pendhok Keris

Jenis-Jenis Pendhok Keris

Jenis-Jenis Pendhok Keris

Selubung logam pada gandar warangka keris disebut Pendhok atau Kandelan. Pendhok bisa dibuat dari bermacam-macam logam : emas, perak, kuningan emas putih (mamas), bahkan besi berpamor. Fungsi pendhok adalah sebagai pembungkus gandar dari kerusakan dan juga berfungsi sebagai hiasan. Di jaman dulu pendhok digunakan sebagai tolak ukur kekayaan seseorang. Semakin banyak perhiasan yang melekat pada pendhok semakin mahal harga pendhok yang dipakainya, semakin kaya kesan orang kepadanya.
Jenis-Jenis Pendhok Keris

Pendhok ada tiga macam :
Pendhok Bunton
Pendhok ini berbentuk selubung tanpa belahan dan ujungnya buntu.

Pendhok Topengan
Yaitu pendhok yang terbelah pada salah satu sisinya, tetapi belahan ini tidak sampai pada bibirnya, hingga terbentuk seperti topeng. 

Pendhok Slorok (Blewah/Blewehan)
Yaitu pendhok yang terbelah pada salah satu sisinya hingga membelah bibir dan gandar terlihat dari luar. Pendhok semacam ini biasanya untuk warangka gandar iras, yaitu warangka dengan gandar satu kayu. Terkadang belahan ini diisi dengan lemmpengan logam berhias. Pendhok semacam ini lazim dinamakan pendhok slorok.

Bila pendhok ini dihiasi dengan permata, intan, yakut atau batu mulia yang lain, maka pendhok ini dinamakan pendhok ronyok. Pendhok silih asih adalah pendhok yang dibentuk dari perak dan emas. Pendhok kemalon adalah pendhok yang dilapisi dengan lak kemudian dicat dengan warna merah, coklat atau hitam.Di jaman dulu hanya Raja atau Putera Mahkota yang diperbolehkan memakai kemalon merah.

Pendhok biasanya ditatah dengan motif bermacam-mcam, kebanyakan dapat dikembalikan kepada motif batik yakni :
  • Sembagen Huk (hanya untuk Raja)
  • Kuma Irawan
  • Jenis-jenis semen, seperti semen ageng, semen manyura, semen jlengut, semen garuda dan sebagainya.
  • Jenis-jenis parang, seperti parang rusak, parang sumilir dan sebagianya.
  • Cemara Sewu (untuk banyu)
  • Gringsing
  • Jlengut
  • Saton
  • Lung-lungan
Sering kali pendhok tersebut dihiasi dengan email berwarna kuning, biru, dan hijau. Dapat pula pada pendhok ditatah lambang kerajaan seperti HABA, PB, Pakualaman dan Mangkunegara, tergantung dari selera pemesan.

Pendhok dari suasa, emas 10-12 karat, lebih dihargai dari pada pendhok dari emas 22 karat. Selain suasa lebih sulit membuatnya karena mudah pecah juga memiliki  daya tarik tersendiri. Pada ujung pendhok sering pula diberi perlindungan berupa logam dari emas meskipun pendhoknya sendiri dari perak atau logam lain. 
Kayu-Kayu yang Baik untuk Warangka Keris dan Ukiran

Kayu-Kayu yang Baik untuk Warangka Keris dan Ukiran

warangka Kayu Cendana
Kayu Cendana
Kayu yang baik untuk Warangka Keris dan Ukiran, secara tradisional kayu yang baik untuk ukurian adalah kayu kemuning, tayuman, dan cendana. Sedangkan untuk warangka keris ada banyak macamnya, namun yang pokok cuma beberapa saja, yaitu kayu timaha, trembalo dan cendana. Kayu untuk warangka dibatasi oleh persyaratan-persyaratan sebagai berikut : 
  1. Tidak menyebabkan karat pada bilah keris. Kayu Cendana yang mengandung minyak kiranya memenuhi syarat ini.
  2. Tidak mudah memuai maupun menyusut, jika terjadi perubahan kelembaban udara. Dengan demikian bilah keris tidak mudah lepas atau tergigit oleh warangka. Kayu kemuning dan jati gembol, kiranya kurang memenuhi syarat ini.
  3. Serat kayu halus hingga dapat dibentuk dengan baik dan tidak mudah retak atau patah.
  4. Dari segi keindahan kayu, memiliki garis-garis yang jelas dan indah karena memiliki pelet.
  5. Kayu tidak terlalu keras hingga tidak merusak bilah keris bila sering dihunus dan dimasukkan ke dalam warangka.
  6. Bukan dari kayu yang dari segi esoteris atau pandangan umum kurang menguntungkan. Sebagai contoh, kayu klengkeng, meskipun memiliki gambaran-gambaran yang indah namun kurang diminati karena dianggap pemakainya warangka, kayu ini akan menjadi "klengkengan", melolong seperti anjing.Jenis-jenis kayu untuk gandar keris seyogyanya dipilih yang lunak, seperti kayu Albazia, Suren, Mentos dan sebagainya.

Warangka Kayu Timaha
Kayu Timaha
Kayu Timaha
Kayu Timaha (Kleinhovia Hospita L) berat jenis sekitar 0,6. Jenis kayu ini mulai langka, dulu banyak diketemukan di hutan-hutan. Serat kayu halus dan relatif tidak keras. Sayangnya bila kayu tidak keris betul, mudah diserang penggerek (tete). Warna kayu putih, kuning keputih-putihan sampai dengan coklat.  
Tidak semua bagian kayu timaha yang mengandung pelet, yaitu corak-corak coklat sampai hitam. Pelet ditimbulkan oleh luka. Oleh karena itu, pelet juga dapat dipacu kehadirannya dengan melukainya. Karena pelet meninggikan harga kayu, maka banyak dimanipulasi oleh sementara pengrajin, yaitu dengan mengolesinya dengan cat rambut, direndam atau diolesi dengan cairan kalium permanganat dan sebagainya.
Bagian kayu yang berpelet biasanya yang berada di bagian bawah pokok pohon atau akar. Kayu timaha yang berpelet, sering dipalsukan dengan kayu asam yang dibusukkan.
Warangka Kayu Trembalo
Kayu Trembalo
Kayu Trembalo
Kayu ini banyak disukai karena memiliki gambaran doreng-doreng yang indah yang terkadang "nginghen". Meski kayu lebih keras dari pada kayu timaha, namun entah kenapa, kayu ini banyak diminati.
Kayu trembalo sering dikacaukan dengan kayu trembalo Jawa yang tidak lain dari kayu Filicium decipiens Th W yang banyak ditanam untuk perindang jalan. Jenis kayu ini pun manghasilkan gambaran-gambaran permukaan seperti trembalo. Sifat buruknya, kayu ini mudah retak jika pengeringannya tidak hati-hati.
Trembalo Aceh mungkin sekali dari jenis Dysoxylon acuntagulum Mia, dulu banyak didatangkan dari pulau Sumatera, khususnya Bangka dan Bilitung. Kayu ini juga memiliki gambaran indah seperti trembalo yang biasa. Kayu ini memang banyak digunakan untuk mebel. Ditanah asalnya, kayu ini dinamakan kayu balau bunga atau sungkai. Kayu yang paling baik untuk warangka adalah yang berasal dari akar papan (banir). Kayu ini juga bagus, tahan terhadap perubahan cuaca.

Kayu Awar-Awar (Ficus Septica Burm) berat jenis sekitar 0,6
Awar-awar kayunya sangat lunak, hanya bagian teras yang berpelet digunakan untuk warangka. Kebanyakan kayu diambil dari pohon yang sudah sangat tua. Diambil kayunya hanya untuk daya tuahnya saja.
warangka Kayu Cendana
Kayu Cendana
Kayu Cendana (Santalum Album L) berat jenis sekitar 0,7 - 0,8
Cendana kayunya berserat halus, berwarna kuning sampai coklat muda. Ada jenis yang mengandung minyak eteris ada pula yang tidak berbau. Dulu hanya terdapat di Indonesia bagian timur saja, namun sekarang sudah banyak yang dibudidayakan di Jawa. Sangat ideal untuk sarung keris karena secara tidak langsung, bilah kerisnya akan terjaga dari karat.

Kayu Adhem Ati (Litsea Chinensis Lamk)
Serat halus dan sering berpelet

Kayu Timuru
Sama dengan adhem ati

Kayu Randhu Kuning (Gossam Pinus Heptaphylla Bakh)
Serat kayu halus dan terkesan bersih jika sudah dikerjakan.

Kayu Urip
Serat halus dan seing berpelet

Ebony Nagasari, Setigi, Tesek dan lain-lain

Dewasa ini kecuali kayu-kayu yang sudah dikenal, juga banyak penggemar keris yang menggunakan kayu-kayu lain, seperti kayu hitam (ebony), nagasari, setigi, tesek dan sebagainya, bahkan ada pula yang mencoba kayu dari pokok kelapa.

Cara Mengkilapkan Kayu Warangka
Banyak cara digunakan untuk mengkilapkan warangka, diantaranya setelah warangka sudah jadi dibentuk, kayu itu dihaluskan dengan ampelas biasa atau dengan daun ampelas alam (Ficus Ampelas Burm) yang telah kering. Kemudian warangka itu bisa dipadatkan dengan "kuwuk" (rumah siput semacam kulit kerang), baru setelah itu digosok dengan kain flanel. Ada pula yang mengkilapkan warangka dengan dipelitur setelah warangka itu dihaluskan dengan kertas ampelas.

Mrangi sekarang kebanyakan menggilapkan kayu warangka dengan bahan sintetik seperti melamit, alteco dan perekat logam. pylox dan sebagainya. Termasuk ke dalam kelompok warangka adalah "Sandhang Walikat" yang berbentuk lebih sederhana. Jenis kayu yang dipilih tergantung dari selera pemesan.
Kayu Timoho, Antara Daya Gaib dan Keindahan Motif

Kayu Timoho, Antara Daya Gaib dan Keindahan Motif

Sarung Keris Kayu Timoho

Keindahan motif kayu Timoho yang tergambar jelas dalam warangka keris, agaknya menjadi alasan utama kenapa jenis kayu ini paling banyak digemari pecinta keris, dari kalangan atas hingga kelas terbawah. Bahkan para pecinta keris yang  memandang dari sisi isoterisnya, kayu ini diyakini mengandung suatu daya gaib yang memiliki tuah tertentu jika dipadukan dengan keris yang serasi.

Kayu timoho agaknya merupakan kayu yang paling digemari dari kalangan masyarakat perkerisan, karena alasan ini, kayu timoho memiliki nilai ekonomis yang tinggi dibandingkan kayu lainnya sebagai bahan utama untuk warangka (sarung keris). Masyarakat Yogyakarta, Bali dan Madura sangat fanatik dengan kayu jenis ini. Sementara masyarakat Surakarta menempatkan kayu Cendana Wangi pada urutan teratas untuk bahan warangka. Namun mereka tetap menganggapkayu timoho sebagai kayu yang sangat baik dan tepat untuk warangka.
Apa pun, kalangan yang rasional, tentu saja, memilih kayu ini karena pertimbangan keindahan kayunya, keuletan kayu dan sifatnya yang  tidak merusak bilah keris. Sedangkan kalangan yang menyukai sisi isoterisnya, tentu saja, meyakini kayu jenis ini memiliki daya atau kekuatan gaib jika dipadukan dengan keris-keris yang serasi.

Namun, agaknya, tak banyak yang tahu tentang bentuk pohon, dimana tempat tumbuhnya dan kenapa digemari. Kayu yang memiliki nama ilmiah Kleinhovia hospita ini bisa mencapai ketinggian sampai 25 meter, dengan diameter batang bawah sekitar i meter. dikenal sebagai jenis tanaman tropis yang mudah tumbuh dan banyak dijumpai di tanah-tanah yang tidak jauh dari pantai. Saking mudahnya tumbuh dengan stek batanagnya saja, tanaman ini bisa tumbuh.

Dulu, masyarakat sekitar pesisir Jawa Timur yang membentang dari Tuban hingga Gresik sering memanfaatkan kayu ini sebagai kayu bakar saja. Kini karena di anggap memiliki nilai ekonomis yang tinggi, masyarakat setempat tidak lagi sembarangan menebang pohon timoho sekedar untuk kayu bakar. Sementara di daerah pedalaman Jawa, pohon ini sering disejajarkan dengan pohon beringin yang acap kali dianggap memiliki penunggu dari golongan makhluk tak kasat mata. Maka tak aneh, untuk menebang pohon ini, terkadang dibutuhkan ritual sesaji, agar penebangan tidak menimbulkan kemarahan si penunggu. Bahkan untuk penebangan itu, seringkali si Blandhong (Penebang Kayu) harus melakukan puasa dan memilih hari dan bulan yang baik.

Keyakinan semacam inilah, agaknya yang membuat kayu dari pohon ini bila digarap untuk warangka keris, dianggap memiliki daya magis. Namun yang jelas kayu ini memiliki daya pikat bagi para penggemar keris kerena bentuk pola gambar yang indah. Warnanya yang  coklat susu dengan pola gambar berwarna coklat kopi (pelet), tentu saja menjadi kombinasi yang apik. Namun tak semua pohon timoho bisa dibuat warangka yang indah, karena tak semua batang atau cabang pohon ini memiliki pelet yang bagus.

Dalam bentuk-bentuk pelet itulah, sebuah makna atau pemaknaan muncul. Dalam perkembangannya, makna-makna itu diyakini akan memberi pengaruh terhadap pemiliknya, bersamaan dengan daya linuwih keris. Berikut ini jenis-jenis pelet kayu timoho yang dipercaya mengandung makna tertentu kepada pemiliknya :
warangka Kayu Timoho
Warangka Kayu Timoho

Pelet Kendhit ialah pelet yang melingkar pada kayu dengan warna yang lebih gelap dari warna kayu asalnya dan kelihatan mengilap seperti bara api. Pelet jenis ini berkhasiat memberikan kebahagiaan, kamudahan, kekayaan dan melindungi dari bahaya dan penyakit bagi pemilik atau penyimpannya.
Warangka keris Kayu Timoho

Pelet Tulak ialah pelet yang membentuk garis tebal dari atas ke bawah dengan warna mengilap yang hitam atau coklat tua/muda dan gambar yang ditengah lebih menyala dari gambar yang lain. Khasiatnya antara lain untuk melindungi pemiliknya dari senjata tajam dan bila dibawa dalam peperangan dapat terhindar dari senjata.

Pelet Pundhak Sinumpet ialah pelet yang menyerupai pelet tulak, hanya tidak mempunyai gambaran hitam. Khasiat kayu pelet ini juga seperti pelet kayu tulak.
warangka Kayu Timoho

Pelet Pulas Kembang ialah pelet yang menyerupai awan yang berarak dan pelet ini mempunyai khasiat menolak bahaya di laut dan sebagai penolak binatang buas di sungai (buaya, ular, dll).
Warangka keris Kayu Timoho
Warangka keris Kayu Timoho

Pelet Dhoreng ialah pelet dengan gambaran seperti lorengnya kulit harimau. Pelet ini berkhasiat kepada pemiliknya menjadi tegar/angker dan disegani sesama manusia. Jenis pelet seperti ini banyak dicari dan harganya cukup tinggi.
Sarung keris Kayu Timoho

Pelet Ngamal ialah pelet yang  berbentuk bintik-bintik besar (ceplok) dengan jarak sedikit jarang antara satu dengan yang lain. Khasiatnya memberikan kepuasan hidup dan selalu gembira. Pelet jenis ini sedikit memilih yaitu hanya pejabat yang dapat memakainya. 
Sarung keris Kayu Timoho
Pelet Pulas Groboh ialah pelet yang mempunyai gambar bintik-bintik besar dan kecil. Khasiatnya hampir sampai sama dengan pelet ngamal, hanya pelet ini tidak memilih pemilik.

Pelet Beras Wutah ialah sejenis pelet yang mempunyai gambaran titik-titik kecil dan merata pada seluruh kayu. Khasiat yang dimilikinya ialah untuk pengasihan (dicintai semua mahluk, baik manusia atau binatang). Jenis kayu yang  ber-pelet beras wutah ini banyak dicari dn harganya cukup mahal.
warangka Kayu Timoho

Pelet Ngirim (ngingrim) Kembang ialah pelet yang berbentuk besar dan panjang. Khasiatnya dihormati orang lain, dicintai lawan jenis. Biasanya kayu pelet jenis ini dipakai oleh mereka yang belum berkeluarga (jejaka, duda).
Sarung keris Kayu Timoho

Pelet Gandrung yaitu kayu yang peletnya berbentuk bulat-bulat dan tidak teratur dengan warna yang lebih mengilap dan terang. Khasiatnya pemiliknya hidup hemat dan cermat.
Sarung keris Kayu Timoho

Pelet Ceplok Kelor ialah pelet dengan gambaran bulat telur besar seperti daun kelor. Khasiatnya memberikan keselamatan kepada pemiliknya.
Sarung keris Kayu Timoho

Pelet Ceplok Bantheng ialah pelet yang hampir menutup seluruh kayunya, tetapi masih kelihatan disana-sini kayu aslinya. Pemilik kayu ini akan selalu dalam keadaan sehat wal' afiat.
Warangka Kayu Timoho

Pelet Segara Winotan ialah pelet yang terdiri dari satu, dua, atau tiga bintik-bintik yang teratur. Khasiatnya dihormati oleh setiap orang dan pelet seperti ini memilih, hanya pejabat tinggi yang pantas memakainya.

Pelet Gana ialah pelet yang mempunyai gambar seperti lukisan batu arca. Khasiat dari pelet ini adalah memberikan kesejahteraan dan menghimpun semua kebaikan dan kebahagian. Dahulu hanya dipakai oleh raja-raja atau penguasa tertinggi.
warangka Kayu Timoho

Pelet Sembur ialah pelet dengan gambar titik-titik kecil yang tersebar dipermukaan kayu. Kayu pelet sembur ini dapat menundukkan manusia maupun binatang, menghindarkan kemarahan orang lain dan umumnya kayu pelet ini memiliki kekuatan ghaib.
Sarung keris Kayu Timoho

Pelet Nyeret ialah jenis pelet yang bergambar garis-garis tipis, seperti gambaran pada sebuah marmer, kadang-kadang seperti huruf/tulisan. Khasiatnya ialah bahwa pemiliknya dapat hidup mandiri, percaya kepada diri sendiri dan selalu beruntung dan jaya dalam berusaha apa saja selalu berhasil.
sarung keris Kayu Timoho
Pelet Dewadaru ialah gambarannya seperti pada pelet nyeret, hanya garis-garisnya lebih tebal dan tajam, sehingga kadang-kadang sulit untuk membedakan dengan pelet nyerat. Khasiatnya ialah dapat melindungi pemilik dan keluarganya dari bahaya dan bencana, melindungi harta kekayaan pemiliknya. Biasanya pusaka yang memakai ranngka kayu pelet Dewadaru ini ditaruh dalam tempat penyimpanan harta, pelet ini terdapat pada pohon Beringin dan mempunyai nilai yang cukup tinggi dan sangat dihormati. 

Percaya atau tidak dengan keyakinan akan tuah-tuah kayu itu, namun kayu timoho secara khusus memang termasuk kayu yang ulet, lunak, dan tidak mudah retak. Kayu timoho bisa dikatakan sebagai salah satu jenis kayu tropis dengan seribu nama. Karena namanya berbeda-beda di setiap daerah di Nusantara, bahkan di Malaysia.

Di Jawa saja, timoho memiliki sebutan yang berbeda-beda. Di pantai utara Jawa Tengah, misalnya masyarakat setempat menyebutnya dengan nama kayu Kalomang. Di sekitar Kabupaten Madiun, orang menyebut kayu Mangar, sedangkan di beberapa daerah Jawa lain menamainya kayu Timongo. Orang Bali menyebut dengan nama kayu Purnama Sadha atau kayu Timahan. Orang Sunda di Jawa Barat menyebutnya kayu Tengkele atau Tangkolo. Masyarakat Sumbawa menjulukinya kayu Barora, sedangkan di pulau lebih timur lagi, Sumba menamakannya kayu Mundung.

Masyarakat lebih timur lagi, Flores menyebutnya sebagai kayu Kadanga. Orang-orang Maluku menyebutnya sebagai kayu Cattimarus. Menyeberang ke daratan negeri tetangga, di Semenanjung Melayu, Malaysia, kayu ini juga disebut dengan berbagai nama Misalnya, kayu Mangat, Katimahar, Kinar atau  Temhai.

Keragaman nama pohon ini juga menunjukkan bahwa pohon timoho jelas-jelas pohon tropis yang hampir bisa dijumpai di seluruh wilayah tanah air. Keragaman nama itu, barangkali juga menunjukkan pandangan masyarakat setempat terhadap kayu tersebut. Namun tak ada yang menghargai begitu tinggi kayu tersebut, kecuali masyarakat pecinta perkerisan.

Sumber : S. Lumintu dan Bambang Harsrinuksmo (Keris-Vol 06 2007)