Tampilkan postingan dengan label Bagian Keris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagian Keris. Tampilkan semua postingan
Mendak atau Cincin Keris

Mendak atau Cincin Keris

Mendak atau Cincin Keris

Mendak atau Cincin Keris - Mendak atau Mendhak adalah perlengkapan dari ukiran yang berada di bagian bawah hulu, berfungsi sebagai hiasan dan sekaligus sebagai penguat tancapan pesi pada ukiran. Mendak terbuat dari logam emas, perak, kuningan atau campuran keduanya. Mendak biasa dihias batu mulia mulai dari intan, berlian sampai manik-manik berwarna-warni merah dan hijau. Mendak demikian disebut Mendak Kendit, sedangkan Mendak yang tidak dihiasi dinamakan Mendak Lugas.
Mendak terdiri dari beberapa bagian yang saling berhubungan, bagian paling tengah berupa bentukan seperti kerucut terpancung yang dinamakan Srumbung. Bagian-bagian mendak dari atas ke bawah adalah sebagai berikut : 
  1. Meniran yaitu deretan butir-butir kecil berjumlah 30 s.d 31.
  2. Bingkai halus dimana meniran itu melakat
  3. Ungkat-ungkatan, berjumlah 8/9 - 16, tempat bergantung bola-bola kecil terletak di bagian atas.
  4. Untu Walang (gigi belalang) yaitu lempeng-lempeng tajam kecil.
  5. Widheng ialah tempat bertenggernya bola-bola batu mulia, terletak pada setiap untu walang dan setiap ujung ungkat-ungkatan. Pada Mendak Lugas, widheng ini polos. Bola-bola batu mulia ini melekat pada dasar cincin, disebut dhamping (penyokong, penahan).
  6. Ri Pandhan (duri pandan) ialah segitiga-segitiga kecil yang melekat pada cincin yang langsung berhubungan dengan bola-bola batu mulia, Ri Pandan ini berada pada sebuah cincin, disebut tumpang sari (tiga balok yang disusun seperti tangga pada atap bangunan pendapa).
  7. Sor-soran (bagian paling bawah) yaitu deretan butir-butir kecil yang terletak paling bawah, Meniran Klawang adalah meniran bagian atas sebagai kebalikan Meniran Sor-soran. Semua bagian tersebut melakat dalam sebuat tabung yang disebut srumbung. 
Selut 

Guna mempercantik keris, seringkali di atas mendak masih dilengkapi dengan Selut, yaitu cincin logam emas, perak atau logam lain di sekitar bungkul ukiran. Terdapat beberapa jenis Selut yaitu : 
Selut Trap-Trapan ialah selut yang dibuat dari beberapa bagian yang lepas.
Selut Tatahan ialah bilamana selut itu terbuat dari logam yang ditatah. 

Pada Selut Trap-Trapan, motif hiasannya bisa berupa :
  • Kembang Unthuk-Unthuk (Unthuk Busa).
  • Kembang Anggur.

Sedangkan Selut Tatahan, Motif hiasannya bisa berupa tatahan motif batik, seperti
  • Semen Jlengut
  • Wilaya
  • Kuma Iraawan
  • Lung Gadhung
  • Saton (bentuk adonan roti yang siap untuk di bakar/panggang)
  • Tlacapan (tumpal, tumpang, sarah, seret/cerat panjang), Selut biasanya dipasang berlekatan dengan mendak
Perbedaan mendak Surakarta dan Yogyakarta adalah sebagai berikut : 

No
Bagian Mendak
Surakarta
Yogyakarta
1
Meniran Klawang
32 Butir
32 Butir
2
Ungkat-Ungkatan
16
11
3
Untu Walang
16
11
4
Widheng Kendhit
9 Butir
9 Butir
5
Dhamping
ada
ada
6
Tumpang Sari
ada
ada
7
Ri Pandhan
13 Butir
13 Butir
8
Meniran Sor-soran
22
22

Berikut Beberapa Jenis Mendak yang Biasa Kita Ketemui :

Mendak Wajikan Surakarta

Mendak Kendhit Seling Mirah Surakarta

Mendak Kendhit Yogyakarta

Mendak Kendhit Surakarta

Mendak Robyong Yogyakarta

Mendak Parijatha Surakarta

Mendak Tumbar Pecah Surakarta

Mendak Meniran Cirebon

Mendak Meniran Surakarta

Mendak Tumpalan Surkarta

Mendak Widhengan Surakarta

Mendak Tumpang Sari Surakarta

Mendak Segara Muncar Surakarta

Mendak Bejen Surakarta

Mendak Bejen Yogyakarta
Mendak Bejen Yogyakarta
Gagang Keris Jawa dan Luar Jawa

Gagang Keris Jawa dan Luar Jawa

Gagang Keris Jawa dan Luar Jawa - Gagang Keris atau sering disebut Deder Keris memiliki berbagai macam bentuk, bahan pembuatannya juga beragam, mulai dari kayu. logam, gading, tulang hewan, tanduk, sampai fiber. Fungsi hulu keris adalah sebagai tempat genggaman yang ditancapi pesi bilah keris. Bentuk hulu keris mengandung maksud/harapan tertentu bagi pemakainya. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan yang bersangkutan misalnya :
  • Bentuk patung melambangkan kesaktian dan perlindungan
  • Bentuk kelopak bunga atau daun teratai melambangkan ketuhanan atau kesucian
  • Bentuk tokoh wayng melambangkan sifat tokoh yang digambarkan, misalkan tokoh Semar mengandung harapan agar pemakainya bersifat seperti tokoh sepuh Semar.
  • Bentuk hewan melambangkan harapan agar pemakainya mendapat perlindungan agar selamat.
  • Bentuk burung melambangkan dunia atas dan keselatan dan masih banyak lagi tafsir-tafsir lainnya.

Yang jelas bentuk ukiran itu bermaksud untuk menambahkan keindahan, kesucian dan kharisma keris. Bentuk ukurin yang paling tua adalah ukiran yang menyatu dengan bilahnya. Orang Barat menyebut keris dengan ukiran yang menyatu dengan bilah dengan istilah keris Majapahit. Ukiran keris demikian biasanya berbentuk area orang-orangan baik dalam posisi jongkok maupun dalam kedudukan bersedakep. Penamaan tersebut kurang benar karena belum tentu keris dengan ukiran menyatu dengan bilah buatan jaman Majapahit.

Deder Keris Jawa dan Luar Jawa

Penampilan luar sebuah ukiran mempunyai nilai tersendiri bagi sebuah keris. Misalnya, ukiran Jengker yaitu ukiran dengan gambaran garis-garis sejajar cincin melingkari ukiran mendapatkan penghargaan lebih dari pada ukiran tanpa jengker. Ada lagi ukiran Kendhit ialah ukiran yang bagian tengahnya dihias dengan cincin Kendhit. Konon keris dengan ukiran kendhit ini bertuah keselamatan dan bila dipakai pada saat punya hajat, bisa mengikat para tamunya hingga mereka belum pamit pulang bila belum dipersilahkan.
Begitu juga dengan ukiran-ukiran yang batang tubuhnya mengandung mata kayu disebut Unyeng, dinilai memiliki tuah tertentu bagi pemakainya. Unyeng biasanya terdapat pada ukiran kayu kemuning dan tayuman. Mata kayu yang berbentuk pusar-pusar ini jika terletak di punggung ukiran dinamakan Satriya Wibawa yang dipercaya memiliki khasiat kewibawaan, apa yang dikatakan selalu di dengar orang lain. 
nama bagian-bagian dari gagang keris

Dikatakan Satriya Kinayungan (Pinayungan) bilamana mata kayu itu berjumlah dua buat terletak di tengah-tengah punggung ukiran dengan posisi bawah-atas. Unyeng begitu dipercaya dapat menambah wibawa pemakainya dan selalu selamat dalam peperangan. Kecuali itu pemilik keris dengan ukiran Satriya Kinayungan dipercaya selalu disayang oleh atasannya, pemimpinnya atau raja bilamana ia menjadi abdi dalem keraton. 

Unyeng Satriya Kembar (Satriya Sakembaran) adalah penamaan dua unyeng yang terletak sejajar di punggung ukiran. Unyeng demikian dipercaya bertuah derajat dan pangkat artinya ia bisa cepat mengangkat derajat dan pangkat pemiliknya. Yang istimewa adalah Unyeng Sotya ialah mata kayu yang berada di bagian dahi (bathuk) ukiran. Unyeng semacam ini dipercaya bertuah memiliki firasat jika akan terjadi sesuatu dan pandai memilih teman. Di masa dulu keris dengan unyeng Sotya ini banyak dicari para pedagang karena dianggap dapat mempertinggi firasat dagannya hingga dapat mengantarnya ke tingkat orang berharta. Orang ini disebut kuwat sugih lan kuat kebandhan
  
Unyeng Asmaradana adalah penamaan mata kayu yang terletak di tengah bagian cethik ukiran. Unyeng semacam ini dipercaya dapat menarik wanita/lelaki dan kuat menyimpan simpanan tanpa diketahui oleh anggota keluarganya.

Lain lagi yang disebut Unyeng Wetengan yaitu mata kayu yang berada di bagian tengah ukiran. Unyeng ini juga sering disebut Unyeng Sinaroja, dipercaya unyeng demikian bertuah kerejekian artinya mudah mencari rejeki. Ibaratnya "ora kurang sandhang pangane, lumintu rejekine".

Jika dirangkum jenis-jenis Unyeng tersebut diatas adalah : Unyeng Satriya Wibawa, Unyeng Satria Kinayungan, Unyeng Satriya Kembar, Unyeng Sotya, Unyeng Asmaradana, Unyeng Satriya Sinaroja (Unyeng Wetengan). Versi lain menyebutkan, Unyeng yang terletak di punggung ukiran dinamakan Unyeng Gendhong, Unyeng yang berada di dahi atau ubun-ubun dinamakan Unyeng Sunggi, Unyeng Bopong adalah penamaan Unyeng yang berada di bagian Weteng atau perut ukiran. Bagi pecinta keris yang fanatik terhadap tuah yang dianggap top khasiatnya adalah Unyeng Sunggi karena dipercaya dapat mengangkat derajat pemiliknya baik di dalam masyarakat maupun ekonominya.  

Gagang Keris Yogyakarta
Deder Keris Yogyakarta
Deder Keris Yogyakarta


Gagang Keris Surakarta
Deder Keris Surakarta
Deder Keris Surakarta
Deder Keris Surakarta
Deder Keris Surakarta

Gagang Keris Bali
Deder Keris Bali
Deder Keris Bali

Gagang Keris Madura
Deder Keris Madura
Deder Keris Madura
Deder Keris Madura
Deder Keris Madura

Gagang Keris Sumatra
Deder Keris Sumatra
Deder Keris Sumatra

Gagang Keris Cirebon
Deder Keris Cirebon

Gagang Keris Ukiran Klasik


Membabar Keris Tangguh Madiun

Membabar Keris Tangguh Madiun

Membabar Keris Tangguh Madiun-Banyak orang mencibir seputar keris Madiun. Selain bentuknya yang dianggap agak aneh dari pakem yang dianggap agak aneh dari pakem pada umumnya, juga tak banyak ditemukan keris tangguh Madiun yang mewah dan indah bentuknya. Kalau toh ada yang berkinatah emas, biasanya detil ukurannya agak kurang rapih dan batas tepi emas terlihat tak beraturan.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Secara umum, keris tangguh Madiun selama ini dikenal dengan bentuk yang sangat sederhana dan cenderung wagu (kurang laras). Terkadang bahkan tak sesuai dengan pakem keris pada umumnya. Namun juga tak dipungkiri, bahwa dalam kesederhanaannya, sebagian besar keris-keris Madiun memiliki perbawa tersendiri, atau dalam bahasa orang perkerisan, keris-keris tangguh  Madiun itu terkesan nggegirisi-menyeramkan. Meskipun bentuknya terasa nyeleneh, tapi enak dipandang. Nyeleneh artinya berbeda dengan kebiasaan atau pekem keris pada umumnya. "Saya justru senang banget dengan bentuknya. Sangat artistik dan anggun. Agak aneh, tapi enak dilihat, "ujar seorang kolektor fanatik keris-keris gaya Madiunan, yang enggan disebutkan namanya.

Bentuknya terkesan agak ganjil, karena ciri khas yang ada pada keris Madiun hampir tak ditemukan pada mazhab keris pada umumnya. Sogokan dan blumbungan, misalnya selalu tak pernah imbang antara kanan dan kirinya. Pada gonjo-nya juga ada sedikit keunikan. Perut gonjo tampak tipis, sedangkan sirah cecaknya berbentuk lancip. Tikel alis cenderung mencuat ke atas dengan lengkung yang tajam. Lambe gajah bisa bersusun undhak-undhakan (seperti susunan tangga). Behkan terkadang dijumpai juga pada sirah cecak ada lambe gajah-nya.

Pamor yang ada pada keris-keris Madiun biasanya juga tak terlalu beragam. Yang banyak ditemui di tangan para kolektor lokal (mantan-mantan lurah atau sesepuh desa di Kabupaten Madiun) adalah keris-keris dengan pamor Wos Wutah, Uler lulut dan Buntel Mayit. Keris-keris Madiun agak jarang menggunakan ada-ada - bagian tengah bilah yang lebih menonjol.

Dhapur yang banyak dijumpai adalah Jangkung dan Mahesa, seperti Kebo Lajer, Kebo teki, atau Kebo Salurung. Panjang bilahnya sebenarnya relatif sama dibandingkan dengan keris-keris pada umumnya. "Keris-keris Madiun itu panjangnya sebenarnya sama dengan panjang keris pada umumnya, tapi kesannya memang lebih pendek," kata Teguh Iman Santoso, praktisi keris dari pemerati Tosan Aji Yogyakarta (Mertikarta). Ukuran bilahnya seukurang 4,5 kali panjang gonjo. Kalau panjang gonjo sekitar 8 hingga 9 sentimeter, maka panjang bilahnya sekitar 35 sentimeter. Sedangkan panjang pesi sekitar 7 sentimeter.

Ditambahkan Teguh Iman Santosa, bahwa penilaian kualitas untuk besi keris Madiun tak bisa di-gebyah uyah-disamaratakan. Tak semuanya jelek atau tak semuanya bagus. "Semua tergantung dari zamannya. Bila pada zaman majapahit banyak ditemui keris-keris tangguh Majapahit dengan bahan besi yang padat dan berserat rapat, maka keris-keris Madium juga menggunakan bahan yang mirip atau serupa," Katanya. 
Membabar Keris Tangguh Madiun

Hal senada juga disampaikan Benny Hatmantoro, praktisi keris Pasupati, Solo, bahwa melihat besi keris-keris Madiun harus dilihat sesuai dengan zaman kerajaan yang sedang berkuasa saat itu. Kalau zaman Majapahit, maka besi-besi keris Madiun juga akan mirip dengan keris-keris pada zaman itu. Jenis besi keris Madiun akan memiliki kemiripan dengan besi keris Mataram-kalau dibuat pada zaman Mataram dan seterusnya. Keserupaan ini kemungkinan disebabkan oleh ketersediaan bahan besi yang ada pada masa tersebut dan unsur distribusi dalam wilayah-wilayah kerajaan yang sedang berkuasa. "Maka untuk menangguh suatu keris Madiun, kecocokan dengan besi keris sezaman bisa dijadikan parameter penilain. Kalau mirip dengan besi Majapahit, maka keris Madiun yang dinilai berarti dibuat pada era yang sezaman katanya.

Benarkah semua keris Madiun berbentuk wagu dan lugu? tentu saja, hal ini dibantah mentah-mentah oleh para praktisi keris dari Madiun. Empu Hary dari Paguyuban Pametri Budaya Jawa (PPBJ) Tundhung Madiun, misalnya, mengganggap bahwa pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Ada juga keris-keris Madiun yang bentuk dan garapnya bagus. Hal ini terutama pada awal abad 19-an, banyak keris-keris Madiun yang bermutu baik-yang dibuat oleh para empu dari Desa Sewulan, Dagangan, Madiun Selatan. Dari daerah ini, konon pada tahun 1500-an pernah bermukim Empu Darmo-yang makamnya juga terletak di desa tersebut.

Berdasarkan cerita tutur rakyat, Desa Sewulan merupakan tanah perdikan yang dihadiahkan seorang raja pada akhir Kerajaan Majapahit. Sewulan berasal dari kata Sewu dan Wuwul, Sewu adalah seribu, sedangkan Wuwul sama dengan ukuran tanah yang diperkirakan seluas satu hektar. Jadi kemungkinan Sewulan semula wilayah yang seluas kurang lebih seribu hektar yang dijadikan tanah perdikan-bebas dari pajak atau glondhong pengareng-areng. Konon, pada zaman Demak, ditanah perdikan ini tinggal seorang Empu keris dari kerajaan Islam pertama Jawa itu yang bernama Empu Suro-yang nantinya menurunkan generasi pembuat keris. Empu Suro ini diyakini oleh masyarakat perkerisan sebagai Ki Umyang dari Demak. Pada zaman Mataram Kartasura, Sewulan merupakan salah satu desa di Madiun yang  membuat keris untuk kepentingan keraton tersebut-sekitar pemerintahan Susuhunan Amangkurat II, Susuhunan Amangkurat III, Sunan PB I dan Sunan PB II.

Para Empu Sewulan juga mengalami masa keemasan pada masa Madiun dipimpin oleh Bupati Madiun, Raden Haryo Tumenggung Kusnodiningrat tahun 1900-1929. Karena pada masa itu, semua Lurah di seluruh Kabupaten Madiun mendapat hadiah berupa keris buatan para Empu dari Sewulan. "Sayangnya pada tahun 1970-an, para keturunan Empu yang  tinggal di Sewulan hanya membuat alat-alat pertanian. Mereka menjadi pande besi saja, "tutur Mas Gus, Empu terakhir yang dikenal dari Sewulan adalah Muhammad Slamet yang meninggal pada awal tahun 2000.

Salah Kaprah Sebutan Tangguh Mageti

Sebenarnya, sejumlah keris tangguh Madiun lama, banyak yang menyerupai bentuk-bentuk tangguh Mataram atau lebih tepatnya mirip dengan tangguh Mataram Kartasura. Ini bisa jadi berkaitan erat dengan hubungan masa silam Keraton Mataram Kartasura dengan para Empu keris dari Sewulan, Madiun. Jadi bisa dikatakan, tak sedikit keris-keris Madiun yang mempunyai bentuk dan garap yang istimewa.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Sebenarnya ada juga daerah para Empu di Madiun selain dari Sewulan. Tepatnya di daerah Kota Magetan sekaran. Keris-keris yang dibuat dari tangguh Mageti atau dhapur Mageti. Bahkan ada juga yang menyebut sebagai tangguh Tuban Mageti. Hal ini mungkin karena proporsi bilah kerisnya mirip dengan keris-keris tangguh Tuban.

Keris-keris tangguh ini rata-rata memiliki besi yang lumer, karena tempaan yang matang, memiliki kekerasan yang bagus dan urat besi yang rapat. Bentuknya juga lebih condong ke gaya Mataram. Garapnya rata-rata cukup baik. Gonjo dan wilah keris yang melekat erat seperti iras, tikel alis yang melengkung ke atas dan sejumlah keunikan lain keris Madiun. Hanya saja banyak praktisi keris yang sebenarnya salah kaprah menyebut keris tangguh Mageti. Karena Mageti ini sebenarnya nama seorang pemimpin yang tak ada hubungannya dengan sejarah keris.

Adalah Ki Gede Mageti, seorang tokoh yang diduga berasal dari Surakarta, pada awal abad 19, membabat hutan di wewengkon Kadipaten Madiun, yang nantinya menjadi cikal bakal kota Magetan. Tokoh inilah yang pertama kali membuka daerah dan menjadi penguasa pertama di desa yang kemudian bernama Magetan itu. Di daerah baru bernama Magetan yang semula masih kecil tersebut-yang waktu itu masih di bawah kekuasaan Kabupaten Madiun-ada seorang Empu keris kondhang yang bernama Ki Guno Sasmito.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Keris-keris karya Empu Guno sangat menonjol dalam garapnya dan menggunakan besi yang baik mutunya. Empu ini banyak membuat keris untuk Pangeran Diponogoro dan para panglimanya. Bahkan keris pusaka Basah Sentot Prawirodirdjo, seorang senapati perang dalam keprajuritan Diponogoro yaitu keris Kanjeng Kiai Balewiso adalah bautan Empu Guno ini.

Keris karya Empu Guno juga memiliki ciri khas lain, ya itu kerapatan bilah keris dengan gonjo yang sangat rapat dan ujung pesi yang berbentuk sirah gendelo-kepala capung. Masyarakat perkerisan menyebut ciri ujung pesi ini dengan kembang cengkeh atau ujung tiang bendera. "Saya fanatik sekali dengn karya-karya Mbah Guno. Besinya padat dan garapnya luar biasa, "ujar Mamo, seorang penggemar keris dari Madiun.

Keris-keris karya Empu Guno dan keturunannya inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai tangguh Mageti. "Padahal itu nggak ada hubungannya. Salah itu. Mageti itu nama tokoh pembuka hutan dan perintis Magetan, "ujar Empu Pakurodji, keturunan langsung Empu Guno.

Oleh : RS DANUMURTI (Majalah Keris)  
Makna Spiritual dalam Ricikan Keris

Makna Spiritual dalam Ricikan Keris

Makna Spiritual dalam Ricikan Keris - Ricikan keris, selain merupakan elemen estetik yang mempecantik penampilan keris, sebenarnya mengandung banyak makna. Dalam ricikan ada pesan dan pengharapan yang berkaitan erat dengan hubungan antara manusia sebagai makhluk ciptaan dengan Sang Pencipta, Tuhan yang Maha Esa.
Makna Spiritual dalam Ricikan Keris

Tak dipungkiri bahwa keris memiliki makna sendiri bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Selama ini sebilah keris dimaknai sebagai simbol keabadian yaitu bersatunya lelaki (pesi) dan perempuan (gonjo) atau juga bersatunya bapa angkasa (pamor dari langit) dan ibu pertiwi (wesi). 

Bahkan pemaknaan warongko manjing curigo manjing warongko (warangka yang membungkus bilah keris, dan bilah keris yang masuk dalam warangka) merupakan manifestasi dari ajaran Manunggaling Kawulo-Gusti yang benyak diugemi oleh masyarakat Jawa pada khususnya. Inti ajarannya adalah bahwa rasa sejati manusia sesungguhnya harus mencerminkan kehendak Tuhan yang Maha Esa.  

Menyangkut ricikan keris yang lebih detil, sebenarnya juga dibuat dengan landasan kepasrahan kepada Dzat Pencipta yang Maha Agung. Mengapdi dan menyembah kepada Sang Pencipta. Seperti yang sudah dipahami selama ini bahwa pesi merupakan simbol lelaki, gonjo adalah simbol perempuan, maka wilah atau bilah keris merupakan lambang panembah jati kepada Tuhan. Wilah yang meruncing ke atas, menyiratkan bahwa manusia harus selalu mengerucut ke atas, menyiratkan bahwa manusia harus selalu mengerucut olah batin-nya menuju kepada cahaya Allah yang benderang. Sementara sisi tajam di samping kanan-kiri bilah menyiratkan bahwa dalam menyembah harus menggunakan tatanan lahir dan batin atau syariat dan marifat.
Makna Spiritual dalam Ricikan Keris
Ada-ada-yang membentuk garis tengah dari atas sogokan menuju ke ujung keris adalah peringatan agar manusia dalam bertindak harus selalu berhati-hati. Ini artinya perilaku manusia menjadi hal yang utama. Lis atau Gusen merupakan pengambaran hawa nafsu. Bungkul adalah lambang tekad yang sudah bulat.  Tekad untuk menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik atau tekad untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Dalam kebulatan tekad itu, manusia juga harus memiliki landasan bati yang luas yaitu kesediaan untuk memaafkan kesalahan orang lain dan dirinya sendiri. Landasan ini dilambangkan dalam blumbangan yang berarti kesabaran.

Ricikan janur yang terletak di antara sogokan merupakan nasehat agar manusia mesti bersifat luwes dan tidak kaku. Sebagai makhluk yang selalu menyembah kepada Allah SWT, manusia harus bersikap toleran kepada sesamanya-termasuk dalam perbedaan beragama. Greneng yang berbentuk dua huruf Jawa "dha" yang bisa dibaca "dhadha" bisa diartikan kejujuran. Seperti ada ungkapan lama : iki dadaku, endi dadamu? (ini dadaku, mana dadamu?), maka greneng melambangkan orang yang bicaranya selalu jujur dan terus terang.

Ricikan thingil memberi gambaran agar manusia itu mesti rendah hati dan tak suka pamer. Bila memiliki kelebihan ilmu, seharusnya tak perlu ditonjol-tonjolkan, karena kalau memang berilmu, nantinya juga akan dikenal orang lain. Sogokan mencerminkan tetang seseorang yang selalu ingin mengetahui tentang kebenaran sejati. Jadi manusia diharuskan untuk mengungkapkan tentang kebenaran, bukan hanya sekadar tahu sebatas kulit luarnya  saja. Namun dalam mencari  dan mencoba mengungkapkan kebenaran itu, manusia harus selalu waspada-berhati-hati agar tak merugikan manusia lain yang tak bersalah. Tikel alis dimaknai sebagai lambang kewaspadaan.

Sementara salah satu ricikan keris yang paling terkenal sekar kacang (kembang kacang) merupakan imbauan agar manusia meniru dan memakai ilmu padi : semakin berisi semakin menunduk. Kerendahan inilah yang selalu diingatkan karena manusia mudah tergelincir dalam sikap sombong dan arogan. Kedua sikap ini gampang menjatuhkan manusia dalam alam kebejatan dan kenistaan. 

Gandhik menjadi cermin kapasrahan kepada Tuhan yang Maha Esa. Bentuk Gandhik yang agak miring merupakan lambang ketundukan hati terhadap Sang Pencipta. Dengan rasa yang selalu pasrah kepada Sang Ilahi, maka manusia akan lebih berhati-hati dalam berbicara. Semua ucapannya sudah dipikirkannya terlebih dahulu. Kehati-hatian dalam berbicara ini di dalam keris dilambangkan sebagai lambe gajah.

Manusia akan bisa menjalankan semua ajaran yang dicerminkan dalam bentuk-bentuk ricikan keris itu bila hati dan pikirannya dalam bentuk-bentuk ricikan keris itu bila hati dan pikirannya bersedia menerima nasihat luhur. Kesediaan menerima nasihat ini dilambangkan dalam bentuk sirah cecak pada gonjo. Sementara perhatiannya terpusat dengan seksama kepada orang pandai yang sedang memberi nasihat luhur kepadanya. Perhatian yang terfokus inilah disimbolkan oleh para empu keris dalam bentuk gulu meler-nya. Setelah menerima semua nasihat itu, yang bersangkutan akan mengikuti semua nasihat gurunya itu - dilambangkan dalam bentuk buntut urang yang terakhir, setelah semua langkah dipenuhi, makan manusia harus mengamalkan ilmunya yang telah diperolehnya itu. Seharusnya mengamalkan ilmu ini dimaknakan dalam bentuk sebit ron lontar.

Jadi pada dasarnya, ricikan keris merupakan lambang-lambang pengharapan dan doa bagi manusia yang mau ngugemi.

Oleh : Teguh Iman Santosa (Majalah Keris)
Bahan : Diolah dari Serat Purbobudoyo, Minggiran Yogyakarta

Bagian-Bagian Utama dari Keris

Bagian-Bagian Utama dari Keris

Bagian Keris

Keris adalah senjata tradisional khas nusantara. Ia tersebar luas sebagai suatu bentuk budaya di daerah-daerah bekas kekuasaan kerjaan majapahit, seluruh pulau jawa, madura, bali, lombok, nusa tenggara barat, sulawesi, philipina bagian selatan, seluruh pulau kalimantan dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, seluruh semenanjung melayu, kamboja, thailand bagian selatan, sumatera timur, riau, sumatera barat, sumatera selatan, bengkulu dan lampung.

Walaupun keris tergolong sebagai suatu senjata tikam, senjata genggam, namun pada dasarnya, keris dibuat tidak dengan maksud digunakan sebagai senjata pembunuh. Istilah senjata bagi sebilah keris, lebih bermakna batiniah, filosofis dan perlambang. Sebagaimana seseorang bisa mempersenjatai diri dengan sebuah ilmu maka begitu pulalah sifat senjata bagi sebilah keris.

Ditinjau dari bentuk, kontur, keris terbagi dalam ratusan macam bentuk. Dalam dunia perkerisan, pembedaan bentuk satu dan bentuk lainnya ditandai dengan mengamati ada tidaknya bagian-bagian tertentu dari bilah keris itu. Bentuk keris itu sendiri dalam istilah perkerisan di pakai istilah Dhapur, jadi Dhapur keris adalah bentuk standar sebilah keris. Sedangkan bagian-bagian keris yang digunakan untuk menandai nama Dhapur, disebut ricikan keris.

Namun sebelum samapai pada soal Ricikan keris, sebilah keris bisa dibagi menjadi tiga bagian besar/tiga bagian utama, yaitu : bilah keris, bagian Ganja dan bagian pesi. diantara ketiga bagian ini, hanya bagian pesi saja yang selalu sama bentuknya dan sebab tidak mempengaruhi soal penamaan Dhapur.

I. Pesi

Dibeberapa daerah disebut pula dengan istilah Paksi atau Peksi. Merupakan ujung tangkai yang masuk ke dalam pegangan keris (Ukipan/dedep/deder). Pegangan ini disebut juga Hulu Keris di semenanjung melayu, sebagian sumatera dan riau. sedangkan di daerah sabah, serawak, brunei, semenanjung melayu, riau dan sumatera selatan, Pesi sering disebut dengan istilah Puting atau Punting.

II. Ganja (dibaca "gonjo")

Ganja adalah bagian yang seolah merupakan alas dari kedudukan bilah keris. Pada tengah Ganja berlobang untuk lewat tangkai Pesi. Bagi sebilah keris, antara Bilah dengan Ganja merupakan suatu kesatuan yang sulit dipisahkan secara filosofi, karena kedua bagian ini mirip dengan perlambang Lingga dan Yoninya. Disemenanjung malayu dan kalimantan utara, bagian Ganja disebut Aring.

Bagian Ganja pada proses pembuatan keris dipotongkan dari pangkal bilah keris. Cara pembuatan semacam ini juga berlaku untuk Ganja Wulung yakni ganja tidak berpamor, jadi bagaimanapun, Ganja, Pesi dan Bilah merupakan satu kesatuan sejak dari awal pembuatan. Ganja yang menyatu bahannya dengan bilah keris disebut Ganja Iras.

Ricikan dari Ganja adalah sebagai berikut :

1. Sirah Cecak merupakan bagian terdepan dari Ganja, yang bentuknya seperti kepala seekor cecak, memang secara keseluruhan, bentuk Ganja jika dilihat dari bawah seperti binatang cecak.

2. Gulu Melet merupakan bagian leher dari Ganja, menyempit di bagian belakang Sirah Cecak.

3. Gendhok atau Wetengan atau Wadhuk, menurut bahasa indonesia artinya perut yaitu bagian tengah dari Ganja dan pada bagian itulah Ganja diberi lobang untuk masuknya Pesi.

4. Sebit Ron adalah bagian yang melandai antara Gendhok dengan bagian ujung belakang dari Ganja.

5. Buntut Cecak atau Buntutan atau Kepet atau Buntut Urang yakni bagian paling ujung belakang dari Ganja.

Ganja Kinatah adalah ganja yang deberikan hiasan emas atau bahkan intan. Ada juga gambaran itu berupa arca singa atau gajah atau lung-lungan.
Ganja Sekar atau Ganja Pamor adalah ganja yang berpamor menyolok dilihat dari atas ataupun samping.
Ganja Mas Kemambang adalah ganja yang berpamor sejajar dengan panjangnya ganja.
Ganja Wulung adalah ganja sederhana tanpa pamor atau hiasan lainnya. Biasanya bahan ganja wulung ini berbeda dengan bahan asli kerisnya.

III. Bilah atau Wilah atau Wilahan atau Awak-awak

Dibagi menurut tiga bagian besar yaitu bagian bawah dekat Ganja yang dinamai Sor-soran, lalu bagian tengah bilah yang disebut Tengah dan bagian ujung yang disebut Pucuk. Pucuk ini menurut bentuk konturnya, dibagi mencajadi 4 macam yakni Ngudhup Gambir (Bagaikan Kuncup Bunga Gambir), Mbuntut Tuma (bagaikan ekor kutu), Nggabah Kopong (bagaikan gabah padi tanpa isi) dan Nyujen (bagaikan bambu tusukan sate).


RICIKAN KERIS

RICIKAN KERIS

Seseorang bisa menandai atau menyebutkan nama dhapur keris apabila ia mengetahui dengan benar nama-nama bagian dari sebilah keris, karena itu sebelum kita membicarakan soal dhapur keris, kita harus lebih dulu mengetahui bagian-bagian keris yang menandakan dhapur keris. Sebilah keris yang lengkap mempunyai 26 macam bagian atau ricikan dan masing-masing ricikan memiliki nama. Untuk penamaan ricikan baku sifatnya dan sesuai dengan pakem. Nama-nama ricikan telah dipakai turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Dalam perjalanan waktu, bisa dipahami jika terjadi pula kelasahan dalam pengucapan, gaya bahasa tiap daerah dan pengucapan berdasarkan sinonim, sama maksudnya tetapi lain penamaannya.

Pada artikel kali ini sengaja diberikan sinonimnya, selain itu ricikan yang dipakai adalah yang menurut pakem Jawa, terutama Jogyakarta, Surakarta dan sedikit Madura. Dalam melihat ricikan keris, yang paling utama adalah dibagian sor-soran, berikut saya jabarkan ricikan keris untuk mempermudah membedakan dhapur suatu keris :

Pesi
Tangkai bilah keris yang terbuat dari bahan yang sama dengan bahan bilah kerisnya, terletak di bawah ganja. Untuk keris-keris tangguh/buatan pulau Jawa, Bali dan Lombok, ukurannya cukup panjang, antara 5,5 cm s,d 9 cm. Sedangkan keris buatan Palembang, Riau, Luwu, Makasar dan Semenanjung Melayu umumnya pendek, antara 4 cm s.d 6,5 cm. Pesi ini sering juga disebut dengan Peksi, Paksi, Puting atau Punting.

Ganja (dibaca Gonjo)
Ada yang terpisah dari bagian bilah, ada pula yang menyatu dan hanya dibatasi semacam guratan. Ganja yang menyatu dengan bilah disebut Ganja Iras. Ganja ini sering juga disebut dengan Aring atau Ariang.

Bungkul
Bungkul atau Sebungkul atau Bonggol. Bentuknya mirip irisan bawang. Bungkul ini merupakan kelanjutan dari bagian Janur yang bersinggungan dengan bagian ganja.

Blumbangan
Blumbungan atau Pejetan atau Pijetan, merupakan daerah lekukan di belakang bagian Gandhik. Keris-keris yang terbilang garapan baik, bentuk blumbangan ini digarap dengan manis.

Srewehan
Srewehan merupakan bagian melandai di belakang Sogokan sampai ke bagian Greneng. Srewehan disebut juga dengan istilah Sraweyan, Sarewehan atau Sreawahan.

Gandhik
Gandhik merupakan raut muka dari sebilah keris. Ada yang polos, ada yang dilengkapi dengan Kemang Kacang, Lambe Gajah dll. Gandhik biasanya terletak di bagian depan bilah keris. Tetapi ada pula yang berada di bagian belakang, antara lain pada dhapur Cengkrong. Bagian bawah pada Gandhik bersinggungan dengan Ganja.

Jalu Memet
Merupakan tojolan runcing pada bagian paling bawah dari Gandhik, paling dekat dengan Ganja.

Lambe Gajah
Lambe Gajah atau Bibir Gajah merupakan dua tonjolan runcing, atas bawah, pada bagian Gandhik, dekat dengan ujung Kembang Kacang. Walaupun kebanyakan Lambe Gajah ini rangkap dua, namun ada pula keris yang hanya memiliki satu Lambe Gajah.

Kembang Kacang
Kembang Kacang atau Tlale Gajah atau Belalai Gajah, bentuknya memang mirip dengan namanya. Bentuk Kembang Kacang ada beberapa macam yaitu : Gula Milir, Bungkem, Nguku Bima dan Pogok

Jenggot
Jenggot atau Janggut merupakan beberapa tonjolan tajam di bagian dahi Kembang Kacang. Jumlah tonjolan ini umumnya 3 buah.

Tikel Alis
Sebuah alur melengkung seperti Alis, mulai dari atas Gandhik ke atas, dengan panjang sekitar 3,5 cm. Alur Tikel Alis ini tidak sedalam alur Sogokan.

Jalen
Jalen merupakan tonjolan tajam, hanya sebuah, persis di ketiak Kembang Kacang. Ada sebagian yang berpendapat, yang disebut Jalen merupakan Jalu Memet, begitu juga sebaliknya. Memang dalam buku-buku kuno terdapat perbedaan pendapat, tidak ada alasan yang kuat untuk membenarkan salah satu pendapat atau menyalakan pendapat lainnya.

Sogokan Depan
Sogokan Depan, relatif lebih dalam dibandingkan dengan alur Tikel Alis, letaknya di belakang Tikel Alis. Bagian bawah Sogokan Depan langsung menyambung dengan Blumbangan atau Pejetan.

Lis-Lisan
Lis-Lisan atau Elis, merupakan garis batas sepanjang tepi bilah, dari atas Kembang Kacang atau Gandhik ke atas ujung bilah, melingkar turun ke bawah sampai ke dekat Greneng. Garis batas ini merupakan sudut tumpul dan merupakan batas daerah Gusen.

Gusen
Gusen adalah daerah sempit sepanjang tepi bilah yang dibatasi oleh tepi bilah yang tajam, dengan garis Lis-Lisan.

Kruwingan
Kruwingan atau Keruwingan merupak garis yang mendampingi Lis-Lisan, dalam jarak sekitar 1 cm. Kruwingan ini ada yang sampai ke dekat ujung bbilah, ada pula yang hanya setengah panjang bilah saja.

Ada-Ada 
Ada-Ada atau Sada, bisa dikatakan merupakan garis tengah dari bilah keris, yang agak menonjol dari permukaan bilah keris. Dengan mengamati bentuk potongan melintang bilah keris, terutama bagian Ada-Ada, maka kita bisa membedakan bilah keris yang Ngadal Meteng atau Nggingir Lembu.

Janur
Berbentuk alur yang membukit, yang memisahkan Sogokan Depan dengan Sogokan Belakang. Bagian atas dari Janur ini menyambung ke Ada-Ada, sedangkan bagian bawahnya menyambung ke Bungkul.

Sogokan Belakang
Sama seperti Sogokan Depan, hanya letaknya di bagian belakang, bersebelahan dengan Janur. 

Wadidang atau Wedidang
Wadidang atau Wedidang merupakan bagian tepi sebelah belakang daerah Sor-Soran.

Ron Dha Nunut
Ron Dha Nunut adalah rangkaian beberapa duri kecil di bagian Wadidang yang seolah membentuk huruf Dha menurut abjad Jawa. Letaknya di bagian sebelah bawah dari Wadidang.

Tungkakan
Bagian yang melengkung yang membatasi bagian buntut ganja dengan bagian bilah keris sebelah bawah paling pojok.

Greneng
Rangkaian beberapa duri kecil di bagian sebelah bawah Wadidang yang terdiri dari Ri Pandan atau Eri Pandan dan Ron Dha Nunut serta Ron Dha. Ada yang merupakan Greneng lengkap/utuh dan ada pula Greneng tidak lengkap atau disebut juga Greneng Wurung, yang bentuknya lebih sederhana.

Ri Pandan
Ri Pandan atau Eri Pandan, berujud seperti duri yang meruncing di antara Ran Dha dan Ron Dha Nunut atau antara dua buah Ron Dha.

Kanyut
Terletak di bagian ekor dari Ganja, wujudnya seperti duri tetapi biasanya agak melengkung ke atas, tepat di Buntut Urang dari Ganja.

Thingil
Berbentuk duri tumpul, lebih besar dari ukuran duri-duri pada Ri Pandhan atau Ron Dha. Kalau memakai Thingil, maka keris itu tidak memakai Greneng.

Pundhak Setegal
Pundhak Setegal atau Pundhak Sategal , bentuknya merupakan duri yang ukurannya lebih besar dari Thingil, mirip dengan kelopak bunga yang mencuat ujungnya keluar dari tepi bilah keris. Pundhak Sategal ini harus sepasang, yaitu di bagian depan dan di bagian belakang.

Sumber