Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri empu keris. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri empu keris. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Empu-Empu Keris Pusaka Keraton Medhangkamulan, Keraton Purwacarito, Keraton Kedhiri, Keraton Pengging, Keraton Jenggala, Keraton Pajajaran dan Keraton Majapahit

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton Medhangkamulan, Keraton Purwacarito, Keraton Kedhiri, Keraton Pengging, Keraton Jenggala, Keraton Pajajaran dan Keraton Majapahit

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Sebagai Orang berilmu tinggi, seorang Empu selalu mendapat tempat yang terhormat pada suatu jaman pemerintahan kerajaan-kerajaan jaman dahulu. Walaupun sering sekali seorang Empu tidak tinggal di pusat-pusat kerajaan, melainkan di tempat-tempat terpencil di lereng-lereng gunung, namun Empu-Empu itu selalu mewakili  jamannya dan mewakili kerajaan serta pusat pemerintahan tertentu dan Empu-Empu dari kerajaan dan daerah tertentu itu, melahirkan kreasi Keris-Keris dengan Tangguh tertentu pula.

Yang dimaksud dengan Tangguh adalah penampilan gaya atau modelnya, seperti halnya mobil buatan Jepang, memiliki model dan gaya yang lain dengan model mobil Amerika atau pun Eropa. Demikian juga dengan Tangguh Majapahit akan berbeda dengan Tangguh Kartasura. Keris-Keris pada jaman dan daerah yang sama memiliki Tangguh yang serupa, walaupun dibuat oleh Empu yang berbeda. Penampilan gayanya secara umum akan sama dan serupa, hanya beberapa ciri khas saja yang membedakan keris ini buatan Empu A dan keris itu buatan Empu B. 

Jadi bagi mereka yang menekuni di bidang keris, akan dapat meneliti sebuah keris buatan jaman apa dan siapa pembuatnya. Bahkan bagi mereka yang ahli, dapat pula merasakan keris ini cocok untuk siapa dan untuk khasiat apa. 
Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Berikut para Empu-Empu Keris Pusaka yang terkenal pada jamannya yang diambil dari berbagai sumber : 
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Mendhangkamulan
  • Empu Ramayadi (142 Saka) : mengabdi di Medhangkamulan di kaki Gunung Pangrango dan Gede.
  • Empu Sakadi (218 Saka) : mengabdi pada Sang Raja Balya di Medhang Siwanda yang kemudian hari menjadi Madiun Jawa Timur.
  • Empu Sukasadi (230 Saka) : mengabdi pada Raja Berawa (Hyang Kala) di Keraton sebelah Utara Gunung Lawu atau Maendra di wilayah Hutan Tulyan di daerah Kuwu Grobogan.
  • Empu Bramakedhali (216 Saka) : mengabdi pada Raja Buddhawana (Hyang Brahma) di Mendhangsiwanda yang kemudian pindah ke Medhangkamulan.
  • Empu Saptagati (246 Saka) : mengabdi pada Raja Maha Prabu Buddha Kresno sebagai titisan Hyang Wisnu. Disebutkan Prabu Buddhawaka terpaksa keluar dari Mendhangkawulan karena kalah perang dengan Raja Berawa dari Hutan Tulyan. Negeri itu kemudian diduduki oleh Hyang Wisnu dan kemudian dinamakan negeri Purwocarito. Hyang Wisnu menjadi Raja di Negara itu.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Purwocarito
  • Empu Sunggata (412 Saka) : mengabdi pada  Prabu Sri Kala di Purwocarito.
  • Empu Janggito : mengabdi pada Prabu Watugunung yang menggantikan kedudukan mertuanya Maharaja Kano.
  • Empu Dewayasa (422 Saka) : mengabdi pada Prabu Basupati di Wiratha.
  • Empu Mayang (725 Saka) : mengabdi pada Prabu Drestarasto di Astinapura.
  • Empu Sarpadewa (1062 Saka) : mengabdi pada Prabu Sri Maha Punggung.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Kediri 
  • Empu Yamadi (1082 Saka) adalah adik dari Empu Bratadiluwih, mengabdi pada Prabu Gendrayana di Mamenang Kediri.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Pengging (Kuno)
  • Empu Gandawisesa (1094 Saka) : mengabdi pada Raja Citrasoma di Pengging.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Jenggala 
  • Empu Jangga (1119 Saka) : mengabdi pada Prabu Lembu Amiluhur di Jenggala.

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Empu Keris Pusaka pada Jaman Kerajaan Pajajaran
  • Empu Windusarpa : oleh Prabu Kuda Laleyan ia diperintahkan membuat keris dapur Brojol dan Bethok (1170 Saka) disamping membuat duplikat (putran) pusaka-pusaka buatan sebelumnya.
  • Empu Andayasangkala : merupakan anak dari Windusarpa, Keris Pusaka buatannya berwatak keras dan sering dipergunakan untuk membunuh musuh. Oleh Prabu Banjaransari, Empu ini diperintahkan membuat Keris Pusaka dhapur Tilamupih dan Parungsari (1186 Saka) disamping membuat putran yang sudah ada.
  • Empu Kajatsari : merupakan anak dari Andayasangkala, oleh Prabu Mundingsari ia diperintahkan membuat keris dhapur Sinom dan Wora-wari (1228 Saka) disamping membuat duplikat keris-keris yang sudah ada.
  • Empu Kajatjatiwasesa : merupakan anak sulung dari Kajatsari.
  • Empu Bramakedhi atau Brahmakendhi : merupakan anak kedua Kajatsari.
  • Empu Kekep : seperti Empu Bramakedhi, dalam membuat Keris Pusaka, Empu ini selalu mengerjakan di lautan. Konon percikan apinya dapat menimbulkan penyekit cacar, sedangkan debunya dapat menyebabkan bisul cacar air dan gabagen/campak. Menurut kepercayaan kuno, penderita penyakit tersebut harus memanggil Empu Kekep da Empu Bramakendhi untuk menyembuhkannya.
  • Empu Anjani : merupakan anak Bramakedhi, terkenal suka bertapa di puncak gunung. Prabu Gandakusuma atau Sri Pamekas di Pajajaran memerintahkannya untuk membuata duplikat dari Keris dhapur kuna dan menciptakan keris dhapur Jalakngore dan Caritakalenthang (1260 Saka).
  • Empu Marcukundha, Empu Manca dan Kuwung : ketiganya pernah mengabdi pada Prabu Siyungwanara atau Maharaja Sakti di Pajajaran. Marcukundha membuat tombak dhapur Sigarjantung, Gereh Pethek, Ron Pring, Barengkeng dan Prajurit. Semua tanpa pamor, hanya besi dan baja, sifatnya ampuh meskipun tidak disepuh.
  • Empu Sanggabumi : merupakan anak sulung dari Marcukundha yang berkelana di tanah seberang dan kemudian menetap di Minangkabau. Karyanya berupa pedang Minangkabau yang sangat ampuh. 
  • Empu Manca : merupakan anak kedua dari Empu Marcukundha, buatannya berupa pedang, golok, towok dan panguntik. Semua berpamor Beras Wutah dan halus sekali, Semuanya disepuh dilat dan amat ampuh.
  • Empu Kuwung : merupakan anak dari Empu Manca, wajahnya tampan. Hasil karyanya biasanya juga cantik. Besinya ngelar glathik atau seperti kaca. Bersama Empu Manca, dia diperintahkan membuat putran pusaka kuna-kuna dan membuat Keris Pusaka dhapur Jangkung dan Pandhawa Cinarita (1284 Saka).  
  • Empu Hangga  atau sering disebut Hangga Tapan karena tinggal di Desa Tapan. Hasil karyanya semua kering seperti dijemur dan nglugut (seperti kawat-kawat halus). Suatu hari ia mendapat bisikan untuk membuat Keris di lautan dan berganti nama menjadi Empu Singkir. Hal itu terjadi di Jaman Majapahit, beliau diperintahkan semingkir dari rumahnya. Keris buatannya bertuah menolak api dan air. Ia pernah diperintahkan membuat keris dhapur Jala Sangu Tumpeng, Jalak Sumelang Gandring, Mangkurat dan Mangkunegoro (1303 Saka).
  • Empu Keleng : Empu Keleng kemudian disebut Empu Kasa, anak ketiga Empu Manca. Keris buatannya nglugut dan pamornya patah-patah/nungkak. 
  • Empu Keleng juga disebut Wanabaya di Pituruh atau Empu Kasa di Madura. Merupakan adik dari Empu Kuwung. Semua keris nyatanpa pamor, hanya besi dan baja (kelengan). Sewaktu Muda Ia masuk dalam jaman Pajajaran. Keris buatannya berdhapur Sempana dan Jangkung. Ganja mengkurep, tengah bilang diolah bersih. Tombak karyanya : Ron Pring. Ron andhong, Gereh Pethak, Sigar Jantung dan Banyak Angrem. Walaupun tanpa pamor tetapi sangat ampuh, dewasa ini sulit menemukan karya Empu Keleng.
  • Empu Nimbok Sombro : merupakan Empu wanita yang cantik, anak perempuan Empu Manca. Pembuatan tosan aji tanpa api dan peralatan pandai besi. Karya Kerisnya berupa  dhapur Jalak Ngore, Tilam Upih, Sinom, Sepokal. Kebo Teki, Kebo Lajer, ciri-cirinya : ganja mengkurep, gandhik pendek, dhapur yang terkenal : dhapur brojol dengan bekas-bekas pijitan jari dan pesi utiran dengan lubang  di ujungnya. 

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Empu Keris Pusaka Pada Jaman Kerajaan Majapahit
Sebagian Besar Kerajaan Majapahit merupakan Empu dari Kerajaan Pajajaran dan Empu Wanabaya/Pituruh. Berikut Empu Keris Pusaka pada Jaman Kerajaan Majapahit : 
  • Empu Jigja di Mojolangu, putera Empu Singkir. Hampir semua buatanya mempunyai pesi ngandel meteng. Dhapur keris yang dibuat : Sempaner, Paniwen, Pendhawa, Brojol. Besinya halus dan berpamor. Warnanya hitam seperti ular dumung (Hitam). Ganja menngkurep, sangat ampuh. Jika tombak berdhapur : Kudhup, Totog, Cekel, Sadak Upas, Pecoksahang. Tosan Aji karyanya berwatak ampuh.Yang ketempatan selalu didekati rejeki dan keberuntungan.
  • Empu Angga atau Tapan atau Singkir atau Mendhe, berasal dari Pajajaran. Keris Tilam Upih karyanya berciri gandhik panjang besar (landhung). Ganja pendek, kanan kiri diberi alur (Kruwingan). Pesi pipih. Empu ini terkenal membuat Keris Singkir Air maupun Api. Kebanyakan tosan aji singkir karyanya ini pendek, banyak yang panjangnya hanya satu jengkal saja atau kurang. Tetapi terkenal ampuh.
  • Empu Dhomas : merupakan Empu kraton Majapahit jaman Brawijaya V (1429 Saka) membuat keris dhapur Panimbal, Jaruman, Sepokal, Nagasasra, Butoijo, Mendarang, Sabuk Inten dan Anoman. Ada yang menduga istilah Dhomas dimaksud sebagai kumpulan Empu.
  • Empu Sedhah : merupakan anak dari Empu Kalunglungan dari Blambangan.
  • Empu Supomadrangi : merupakan anak dari Empu Sodhah, kemudian lebih terkenal dengan sebutan Empu Supo atau Empu Jakasupa I, di kemudian hari diangkat menjadi Pengeran Sendhang Sedayu. Empu Supomadrangi juga dikenal dengan sebutan Ki Pitrang di Blambangan. Jadi Supo merupakan Supomadrangi merupakan Jakasupa I merupakan Pangeran Sendhang Sedayu merupakan Ki Pitrang (Blambangan). Jakasupo I beradik Kebodhag dan Supogati. Waktu muda Jakasupa I bertapa di Tuban. Alkisah Prabu Brawijaya sangat sedih karena kehilangan keris Kanjeng Kyai Sumelanggandring sewaktu penyerbuan di Pajajaran. Keris Pusaka itu terbawa oleh Prabu Bayu Sangara dari Blambangan. Raja Brawijaya kemudian memerintahkan mengumpulkan para Empu setanah Jawa, namun tidak ada yang sanggup menemukan Keris Pusaka yang hilang tersebut. Kemudian Jakasupa I diperintahkan mencari dan jika berhasil dijanjikan mendapatkan tanah seluas 500 karya di Tuban dan mendapatkan Puteri Keraton, disamping itu mendapatkan gelar Pangeran. Dalam perjalanannya, Jakasupa ditemani adiknya Supagati dan berganti nama menjadi Ki Pitrang. Mereka berdua sewaktu menuju Blambangan, juga membuat keris dhapur Pandhawa, Sempaner, Carangsoka dan Tilam Upih. Setibanya di Blambangan, ia disebut juga Empu Rambang karena membuat tosan aji di lautan. Rambang berhasil membuat duplikat Kanjeng Kyai Sumelanggandring yang berada di Keraton Blambangan sebanyak 2 buah. Yang tiruan dihaturkan kepada Sang Raja, sedangkan yang asli dibawa pulang Kerajaan Majapahit. Raja Blambangan karena puas menghadiahi Jakasupa I dengan adik perempuannya yang bernama Raden Ayu Upas. Sewaktu hamil 7 bulan, Ia di tinggal pulang ke Kerajaan Majapahit. Setiba di Majapahit, keris pusaka asli itu dikembalikan ke Prabu Brawijaya. Jakasupa kemudian diberi hadiah puteri da tanah di Sedayu. Ia diangkat menjadi pangeran dan kemudian bergelar Pangeran Sendhang Sedayu. Karya Empu Sedayu alias Jakasupa I ini berciri indah tetapi wingit, berpamor sanak, halus, berguwaya lungid hitam, terkadang jika luk kemba (hambar).
  • Empu Supogati : merupakan adik dari Jakasupa I yang ikut ke Blambangan. Sepulang dari sana, Ia mendapat hadiah seorang puteri dan tanah seluas 100 karya dan diberi pangkat mantri. Beliau bermukim di Majapahit dan diberi sebutan Empu Supadi.
  • Empu Jakasura : merupakan anak dari Jakasupa I ketika di Blambangan, kemudian menyusul ayahnya di Majapahit. Sepanjang perjalanan Ia membuat keris dhapur bethok yang diberi lubang agar dapat di renteng dengan tali. Ia berhasil bertemu dengan ayahnya di Sedayu dan diabadikan ke Keraton Majapahit.
  • Empu Dana : merupakan anak dari Empu Pethet. Hanya membuat pedang berpamor tambal.
  • Empu Wanawasa : merupakan anak dari Empu Dana yang kemudian pindah ke Cirebon di Jaman Majapahit. Hanya membuat pedang-pedang pendek.
  • Empu Sokawiyana : merupakan anak dari Empu Wanawasa yang berdiam di Karang. Keryanya hanya berupa pedang pendek, bengkok tetapi sangat tajam. Model pedang ini kemudian ditiru dengan ukuran lebih besar yang kemudian terkenal dengan nama dhapur Sokayana (Sokawiyana).
  • Empu Wangsa di Tembayat pindah dari Tuban. Hidup di jaman Majapahit. Hanya membuat keris Tilam Upih dan Tombak. Anaknya dua : Wanagati dan Surawangsa.
  • Empu Gedhe di Bayumas, merupakan anak dari Empu Loning di Jaman Majapahit. Karyanya berupa keris dhapur Balebang, Brojol, dan Tilam Upih. Ganja : mengkurep, Pemor : penuh, semuanya putih, Besi : Putih, mirip karya Sombro. Jika tombak : dhapur ron pring, sigar jantung, gereh pethek. Diberi menthuk seperti angkup kelopak (kuncup bunga). Sangat bagus untuk pemimpin pamong praja dan militer. Dijaman Sultan Agung, tombak ini banyak disarasah dengan emas.
Para Empu Tangguh Nom-Noman dari Surakarta

Para Empu Tangguh Nom-Noman dari Surakarta

Keris Pusaka Surakarta

Para Empu Tangguh Nom-Noman dari Surakarta-Tercatat ada sebelas orang empu keris yang terkenal yang hidup pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono III hingga Sunan Paku Buwono X. Siapakah mereka dan apa saja yang menjadi ciri-ciri karyanya. Berikut para Empu Nom-noman dari Surakarta : 

Empu Brojoguna
Nama Brojoguna memang hingga saat ini masih menimbulkan perdebatan. Sebagian pecinta keris menyebutnya sebagai nama seorang Empu, tetapi oleh sebagian yang lain menganggapnya sebagai nama keluarga Empu. Menurut sumber dari Madura, adalah Empu keris yang bersama keluarganya hijrah dari Desa Wonoayu, Madura ke Pulau Jawa pada jaman Kartasura. 

Mereka mengapdi pada Raja Mataram Kartasura sejak jaman pemerintahan Amangkurat III atau Sinuhun Prabu Amangkurat Jawa. Anak cucunya seterusnya tetap mengabdi di Keraton Surakarta dan tidak kembali ke Madura.

Empu Brojoguno I
Banyak ahli keris mengatakan bahwa Empu Brojoguno I juga berasal dari Madura. Keris dan Tombak buatannya terkenal kuat, karena kandungan bajanya banyak, sanggup menembus perisai pelindung badan lawan dalam peperangan.

Tanda-tanda keris buatan Empu Brojoguno antara lain adalah ukuran bilahnya lebih panjang dibandingkan dengan keris Mataram pada umumnya, karena banyak mengandung baja, keris itu lebih berat bobotnya ketimbang keris pada umumnya. Bilahnya hampir selalu berbentuk ngadal meteng. Bentuk ganjanya agak melengkung, sirah cecaknya tidak begitu meruncing pada ujungnya, gulu meled dan wetengan ganja berukuran sedang, pamornya rumit, lembut dan biasanya merata rapi di seluruh permukaan bilah. 

Menancapnya pamor pada bilah kuat, pandes. Kalau Empu Brojoguno membuat pamor miring, tampak rapi sekali. Jalur-jalur garis pamornya tidak ada yang  bertindih satu sama lain. Ia membuat hampir semua jenis pola pamor. Namun yang  terbanyak adalah pamor Wos Wutah, Pedaringan Kebak, Ron Genduru,Wengkon, Naga Rangsang, Karawelang dan Lar Gangsir.

Kalau membuat kembang kacang bentuknya serupa dengan gelung Bima pada wayang kulit Purwa, Jalen dan Lambe gajah-nya berukuran sedang. Sogokan-nya menyempit ke arah ujung. Blumbungan atau pejetan-nya agak dangkal. Kalau keris itu tanpa kembang kacang, posisi gandhik-nya agak miring. Secara keseluruhan, penampilan keris dan tombak buatan Empu Brojoguno mencerminkan sifat keras, gagah dan meyakinkan.

Beberapa anak Brojoguno juga meneruskan profesi sebagai Empu pembuar keris dan memakai nama Brojoguno pula. Empu Brojoguno I mengabdi pada keraton Mataram Kartasura sejak jaman pemerintahan Sunan Amangkurat III hingga Sunan PB I.
Keris Pusaka Surakarta

Empu Brojoguno II
Dia terkenal sebagai pembuat keris pada jaman pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono II sampai IV di Surakarta. Ia adalah salah seorang anak Empu Brojoguno I yang mengalami hidup pada zaman Mataram Kartasura.

Empu Brojoguno III
Terkenal sebagai pembuat keris pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono IV dan Sunan PB V Surakarta. Empu ini adalah cucu Brojoguno I. 

Bentuk keris dan tombak karya Empu Brojoguno III hampir mirip dengan keris buatan Empu Brojoguno II, baik bentuk penampilan, garap maupun pamornya.Perbedaan yang utama hanyalah pada bagian ganja-nya. Ganja keris buatan Empu Brojoguno III lebih tebal dan lebih panjang dibandingkan dengan karya Brojoguno I maupun Brojoguno II.

Empu Brojokaryo
Seoraang Empu pembuat keris terkenal pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono V dan Sunan Paku Buwono VI di Surakarta. Keris buatannya sering disebut tangguh Mangkubumen Surakarta. Keris karyanya dapat ditandai dengan memperhatikan tanda-tanda : ganja sebit. Rontal : sirah cecak-nya meruncing pada ujungnya. Wetengan ganja ramping, buntut urangnya melebar di bagian ujungnya.

Bilah keris itu berukuran sedang, posisinya agak tegak, sorsoran-nya tebal. Besi wasuhan-nya matang. Pamor-nya penuh, merata di seluruh permukaan bilah. Penampilan pamor itu nginden, memantulkan bias cahaya. Motif pamor-nya bermacam ragam, tetapi ada umumnya merupakan pamor mlumah.Bentuk sekar kacang-nya menyerupai gelung wayang. Kalau keris itu tanpa kembang kacang, gandhiknya dibuat miring. Secara keseluruhan keris buatan Empu Brojokaryo berpenampilan gagah dan tampan, namun ukurannya tidak besar.
Keris Pusaka Surakarta

Empu Brojosetomo
Dia adalah pembuat keris yang terkenal hidup pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono IX di Surakarta. Keris buatan Empu ini dapat dikenali dengan ciri antara lain, ganja-nya dibuat ramping dan mendatar, sirah cecak-nya meruncing pada ujungnya, gulu meled serta wetengan ganja-nya berukuran sedang, bagian ujung buntut cecak ganja itu dibuat melebar.

Ukuran panjang bilah keris buatan Empu Brojosetomo sedang, besinya matang tempaan, biasanya berwarna hitam keunguan. Sekar kacang-nya dibentuk menyerupai gelung wayang, blumbangan atau pejetan-nya agak lebar dan dangkal. Tetapi sogokan-nya sempit dan dangkal, serta melengkung pada ujungnya. Bagian dha dan ron dha dibuat jelas dan besar ukurannya. Gambaran pamor-nya tebal, namun tidak rapat satu sama lain. Motif gambar pamor-nya sederhana.Kalau keris karyanya tanpa sekar kacang, maka gandhiknya dibuat miring. Secara keseluruhan keris buatan Empu Brojosetomo mempunyai penampilan gagah dan meyakinkan.

Empu Brojosetiko
Dia adalah Empu keris ternama pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono III sampai dengan Sunan PB V Surakarta. Dia satu masa dengan Empu Brojokaryo dan Empu Japan. Karya mereka sering disebut tangguh Mangkubumen Surakarta.Keris buatannya bisa dikenali dengan mengamati melihat tanda-tanda seperti ganja-nya Sebit Rontal, melengkung bentuknya, sirah cecaknya meruncing ada ujungnya, wetengan ganja ramping, bentuk cecaknya melebar pada bagian ujungnya.

Bilah keris itu berukuran sedang, posisinya agak tegak. Bentuk besinya matang tempaan, pamornya penuh, merata rapi ke seluruh permukaan bilah. Penampilan pamor ngiden, memantulkan bias cahaya, motif pamornya barmacam ragam, tetapi pada umumnya merupakan pamor mlumah. Kalau membuat kembang kacang, bentuknya menyerupai gelung wayang, blumbangannya sedang, sogokannya dalam, janurnya dibuat menyerupai batang lidi. Kalau membuat bagian pada ron dha, ujung-ujungnya runcing dan lekungannya dalam. Kalau keris ini tanpa kembang kacang, gandhiknya dibuat miring. Keris buatan Ki Empu Brojosetiko berpenampilan tenang, tampan. dan berwibawa.

Empu Resowijoyo
Empu keris yang berkarya pada jaman Sunan PB VII ini dikenal sebagai Empu keris yang sangat produktif. Karyanya yang sangat legendaris adalah keris Kanjeng Kyai Nagasapta yang berjumlah lima bilah keris (atau tujuh bilah keris) ber-dhapur nagaraja kamarogan kinatah emas. Bentuk naga dalam keris karyanya berbentuk lebih ramping ketimbang keris-keris tangguh Surakarta pada umumnya. Dia sering disebut juga dengan nama Empu Sowijoyo. Makanya tak mengherankan, banyak masyarakat perkerisan yang sering salah sebut dengan Empu Singowijoyo, bahkan orang juga salah kaprah menyebut nama Empu pembuat KK Nagasapta adalah Singowijoyo, padahal semestinya Empu Sowijoyo.
keris pusaka surakarta

Empu Tirtodongso
Tak ada catatan pasti kapan Empu Tirtodongso ini berkarya dan mengabdi pada Raja yang mana, yang jelas, Empu Tirtodongso merupakan Empu keris Kraton Surakarta. Karya-karyanya sering dikatakan sebagai keris-keris tangguh Mangkubumen. Karyanya memiliki ciri antara lain, ganja agak melengkung dan berbentuk sebit rontal dengan gulu meled yang sempit dan lekukannya tak dalam. Sirah cecaknya cenderung kurus dan buntut urang-nya melebar pipih.

Kalau ada sekar kacang, maka bentuk lingkarnya seperti ukel dalam gelung wayang. Kalau tanpa sekar kacang, maka gandhiknya agak miring. Bilah keris karya Tirtodongso berukuran sedang dan melebar di bagian sor-soran.

Empu Joyosukadgo
Empu yang hidup pada jaman pemerintahan Sunan PB IX ini sangat banyak melahirkan keris-keris indah dan elok. Karyanya menampilkan aspek garap yang sangat prima. Bilah keris karyanya biasanya tidak terlalu tebal dan berukuran sedang. Besinya di-wasuh dengan sempurna dan berwarna hitam kebiru-biruan. Bagian ganja-nya dibuat mendatar dengan sirah cecak berukuran sedang dengan ekor yang melebar pada ujungnya. Gulu meled dan wetengan-nya juga berukuran sedang, sogokannya dalam dan makin ke ujung makin runcing. Kalau membuat keris luk, rengkolnya selalu tajam. Maka tak mengherankan, keris-keris kerya Empu Joyosukadgo banyak diburu para kolektor keris karena penampilan karyanya yang menarik dan anggun.

Empu Wirasukadgo
Empu keris yang mengabdi kepada Sunan PB X ini memang lebih dikenal dengan buku karyanya tetang keris yaitu Serat Panangguhing Dhuwung yang diterbitkan oleh penerbit Sadu Budi, Solo. Karya-karya kerisnya sebenarnya menyebar juga di kalangan perkerisan dan banyak membuat keris-keris pesanan PB X yang sangat menggandrungi keris dan tosan aji.

Sumber : Buku Ensiklopedi Keris Karya Bambang Harsrinuksmo
Gaib di dalam Keris Jawa, Karakteristik khusus sebuah keris jawa

Gaib di dalam Keris Jawa, Karakteristik khusus sebuah keris jawa

Gaib di dalam Keris Jawa, Karakteristik khusus sebuah keris jawa - Gaib Keris adalah sesuatu yang seringkali menjadi polemik dalam kepemilikan sebuah keris. Keberadaan sesosok gaib di dalam sebuah keris adalah yang menyebabkan sebuah keris memiliki kegaiban / tuah tertentu bagi pemiliknya. Kegaiban inilah yang membedakan keris dengan senjata jenis lain. 


Aspek kegaiban keris seringkali dikultuskan dan menjadi mitos dan legenda di masyarakat. Selain karena faktor budaya dan aspek purbakala, kegaiban keris inilah yang seringkali menjadi dasar / pendorong seseorang untuk memiliki keris. Tetapi aspek kegaiban ini pula yang sering menjadi alasan keris dijauhi orang karena kesan kleniknya.

Di pulau Jawa khususnya, pada jamannya, selain faktor kegaibannya, keris berkembang menjadi lambang derajat pemiliknya, lebih daripada sekedar sebuah senjata perang / tarung. Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi di masyarakat tentang tatacara mengenakan keris dan jenis-jenis keris yang boleh dimiliki oleh seseorang. Seorang rakyat biasa tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang lurah. Seorang lurah tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang bupati. Seorang senopati tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang raja. Seorang raja juga tidak boleh mengenakan keris yang diperuntukkan untuk seorang senopati, dsb.

Bila ada seseorang memiliki keris yang derajat kerisnya lebih tinggi dari kedudukan dirinya di masyarakat, orang itu tidak akan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Biasanya akan diserahkan / dipersembahkannya kepada orang lain yang pantas untuk memilikinya. Begitu juga seseorang yang berderajat tinggi, ia tidak akan  mengenakan keris untuk orang berderajat di bawahnya. Biasanya akan disimpan saja di ruang pusakanya atau diberikannya kepada orang lain yang pantas memakainya. Demikianlah, keris pun memiliki kelas-kelasnya sendiri sesuai kepantasan dari status pemiliknya di masyarakat, dan masyarakat pun menghormati keris sesuai derajatnya masing-masing.

Keris bersifat khusus dan pribadi, dibawa dengan diselipkan di belakang pinggang. Dalam kondisi berperang atau bertarung-pun, biasanya keris tidak langsung dikeluarkan untuk digunakan bertarung. Biasanya orang akan berkelahi atau bertarung dengan tangan kosong untuk mengukur lebar dada masing-masing (adu kanuragan) atau menggunakan senjata lain selain keris, seperti tombak, golok, cemeti, trisula, pedang, atau gada. Keris hanya akan digunakan bila seseorang benar-benar berniat membunuh lawannya, atau bila kondisinya benar-benar berada dalam pilihan: membunuh atau dibunuh, dan tidak ada senjata lain yang dapat diandalkannya, barulah kerisnya akan digunakan. 

Jadi, keris bukanlah senjata utama dalam bertarung, tetapi keris menjadi senjata pamungkas yang diandalkan. Terjadi demikian karena dalam budaya dan hati orang-orang Jawa, keris bukanlah semata-mata senjata untuk bertarung. Ada sesuatu yang lain yang dipercaya ada di dalam sebuah keris, yaitu  kegaiban keris. 

Keberadaan sebuah keris sangat dimuliakan. Ada pantangan untuk mengeluarkan keris di dalam perkelahian / pertarungan, kecuali keris itu memang diniatkan untuk membunuh lawan. Dan pantang keris yang sudah dihunus dimasukkan kembali ke dalam sarungnya sebelum keris itu masuk dahulu ke badan lawan.

Di dalam masyarakat Jawa keris tidak ditampilkan sebagai lambang kegagahan dan keberadaannya juga tidak ditonjolkan. Umumnya keris dikenakan dengan diselipkan di belakang pinggang, tetapi yang bentuknya kecil biasanya dikenakan di depan, dibalik baju (tidak kelihatan). Sangat tidak elok (dianggap sombong tidak tahu tatakrama) jika seorang Jawa menonjolkan kerisnya dalam kehidupan sehari-hari, karena sesuai filosofinya, yang sakti itu seharusnya adalah orangnya, bukan kerisnya. Dalam kondisi bertarung / berkelahi pun kerisnya tetap dikenakan di belakang pinggang, karena akan mengganggu pergerakan tangan dan badan jika dikenakan di depan.

Penampilan itu mencerminkan kepribadian Jawa yang suka merendahkan hati dan mengutamakan jalan damai daripada kekerasan. Jika ada perselisihan orang Jawa lebih suka menyelesaikannya dengan cara damai daripada berkelahi. Namun jika jalan damai tidak didapatkan, orang Jawa juga tidak keberatan menghunus kerisnya.

Kegaiban keris telah menyebabkan keris bersifat pribadi bagi pemiliknya. Itu juga yang menyebabkan adanya tradisi, seseorang yang ingin memindahtangankan sebuah keris, tidak menyebut harga keris, tetapi "mahar" atau "mas kawin" sebuah keris. Tradisi perlakuan tersebut sama seperti seseorang yang harus menyediakan "mas kawin" untuk meminang anak gadis seseorang. Perlakuan tersebut adalah bentuk penghormatan orang atas kegaiban keris. Seseorang yang menerima / membeli sebuah keris dari orang lain atau menyerahkan / menjual sebuah keris kepada orang lain, mereka bukan hanya memindahtangankan sebuah keris, tetapi juga kegaiban di dalamnya.

Gaib Keris dan Tujuan Kegaiban Keris


Keris sengaja dibuat oleh empunya dengan kegaiban di dalamnya, untuk menjadi piyandel bagi pemiliknya, yaitu selain sebagai senjata juga diandalkan mendampingi kehidupan sehari-hari pemiliknya karena keris mempunyai kegaiban / tuah tersendiri yang berbeda dengan jenis senjata lain, yang bukan hanya dibuat untuk tujuan kesaktian, tetapi juga untuk membantu perlindungan gaib, kekuasaan, kepangkatan dan wibawa, atau membantu kerejekian dan ketentraman. Dengan demikian kegaiban itu merupakan ciri / karakteristik khusus dari sebuah keris yang membedakannya dengan jenis-jenis senjata lain. Yang sangat membedakannya dengan jenis-jenis senjata lain adalah justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris itu sendiri sejak awal pembuatannya. Jadi, bila ada keris yang tidak ada isi gaibnya (kosong), maka itu bukanlah keris, tetapi keris-kerisan. 

Selain yang bentuknya keris, ada juga tombak dan pedang yang dibuat dengan filosofi dan tatacara pembuatan yang sama dengan keris jawa. Ada banyak tombak yang diciptakan bukan untuk menjadi senjata di lapangan seperti halnya tombak prajurit, tetapi diciptakan untuk menjadi pusaka lambang kebesaran sebuah kerajaan / kadipaten / kabupaten, ada juga yang menjadi pusaka pribadi. Tombak-tombak itu kegaibannya sama dengan keris jawa.

Tombak, pedang jawa dan keris jawa mempunyai kegaiban yang sama. Isi gaib tombak juga sejenis dengan isi gaib keris, hanya saja secara umum tombak memang lebih banyak yang dibuat untuk menjadi senjata di lapangan, kegunaannya lebih banyak sebagai senjata tarung. Hanya sedikit tombak yang dibuat untuk pribadi yang kebanyakan dulunya dibuat untuk menjadi lambang kebesaran status manusia pemiliknya yang adalah seorang raja / adipati / bupati atau bangsawan. Sedangkan keris bersifat pribadi, baik yang dibuat untuk pribadi orang per orang, maupun yang dibuat untuk menjadi lambang kebesaran, semuanya bersifat pribadi, sehingga sampai sekarang yang lebih banyak diperhatikan kegaibannya sebagai pusaka pribadi adalah keris, bukan tombak.

Setiap keris dibuat sebaik mungkin sesuai batas kemampuan sang empu keris, melalui proses spiritual untuk mencari tahu keris apa yang cocok bagi si pemesan, puasa dan laku tirakat untuk mendatangkan gaib keris yang cocok dengan si pemesan, puasa dan laku tirakat dalam masa persiapan pembuatan keris, laku tirakat selama proses pengerjaan hingga selesai, dan sebagainya, sampai keris tersebut selesai dibuat. Setelah pembuatannya selesai pun masih lagi dilakukan proses ritual untuk menyatukan keris dan kegaibannya dengan si pemesan. 

Karena itu bila pembuatannya belum selesai atau belum sempurna, menurut tanggapan sang empu, maka keris itu tidak akan diserahkannya kepada si pemesan. Keris tersebut baru akan diserahkannya bila menurut tanggapan sang empu keris tersebut telah benar-benar sempurna segalanya, sempurna pembuatannya, sempurna kegaibannya, sempurna sesajinya, dan sempurna kecocokkannya dengan si pemesan.

Itulah yang terjadi ketika Mpu Gandring menolak untuk menyerahkan keris buatannya yang belum sempurna, sehingga Ken Arok harus merampasnya dengan paksa.  Dan karena Ken Arok dengan kesombongannya sudah merampas dan bahkan menusuknya dengan keris itu, di dalam kemarahannya Mpu Gandring mengucapkan kata-kata kutukan bahwa Ken Arok tujuh turunan akan mati oleh keris itu. Dan ucapannya jadi !

Demikianlah terjadi. Entah bagaimana pun caranya Ken Arok dan anak-anaknya atau orang lain yang dekat / diaku anak olehnya atau oleh anak-anaknya, pasti mati oleh keberadaan keris itu. Kata-kata Mpu Gandring itu adalah perintah bagi si gaib keris untuk melaksanakannya, terserah bagaimana caranya. 

Pada saat penobatan Gajah Mada oleh Ratu Tribhuana Tunggadewi menjadi Mahapatih Majapahit, sambil menghunus keris lurusnya Surya Panuluh, Gajah Mada mengucapkan "Sumpah Palapa", sesudah wilayah "Nusantara" bersatu di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, barulah Gajah Mada mau menikmati palapa (menikmati hidup santai atau berhenti bekerja). Dengan sumpahnya itu Gajah Mada menyatakan akan mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, tidak akan hidup santai sebelum sumpahnya terlaksana.

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu diucapkan dengan kesungguhan hati oleh Gajah Mada, kerisnya menjadi saksi kesungguhan tekadnya. Tetapi Sumpah Palapa itu sangat menggemparkan dan dicemooh banyak orang yang hadir di dalam acara pelantikan Gajah Mada sebagai Patih Amangkubumi, karena Gajah Mada mengikrarkan penaklukkan atas wilayah yang luas sekali, sedangkan Majapahit saat itu belumlah menjadi kerajaan besar dan jumlah prajuritnya juga tidak cukup banyak.

Tetapi bersama kerisnya, yang mengiringinya dengan kegaibannya, Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa berhasil diwujudkan oleh Gajah Mada, kerajaan Majapahit berjaya mengembangkan kekuasaannya bukan hanya ke utara seperti pada jaman Singasari, tetapi juga ke timur dan ke barat. Di bawah kerajaan Majapahit, wilayah kekuasaan Singasari dahulu diperluas lagi menjadi wilayah yang sekarang dikenal sebagai wilayah nusantara. Mahapatih Gajah Mada telah membuktikan tekadnya mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan tidak berhenti bekerja sebelum Majapahit mencapai kejayaannya.

Gajah Mada juga berhasil menaikkan wibawa raja di mata rakyatnya, mewujudkan figur raja jawa yang tergambar dalam filosofi manunggaling kawula lan gusti, manunggalnya rakyat dengan rajanya, dimana rakyat menjunjung tinggi raja sesembahannya dan raja mengayomi rakyatnya. Juga para penguasa daerah di jawa timur dan jawa tengah, kadipaten dan kabupaten, menjunjung tinggi dan menyatu dengan kebesaran kerajaan Majapahit, sehingga meniadakan hasrat untuk memberontak. Semuanya menyatu di bawah panji-panji Majapahit.

Sifat dan kekuatan kegaiban keris bervariasi, tidak semuanya sama. Seseorang yang memiliki sebuah keris tidak berarti ia juga pasti telah menguasai kegaiban dari keris itu, karena kekuatan kegaiban keris itu hanya akan sempurna ketika jiwa keris itu telah menyatu, telah luluh ke dalam pribadi manusia pemiliknya. Begitu juga bagi yang memiliki atau mengkoleksi banyak keris.

Tuah keris yang paling dasar adalah untuk kesaktian. Semua keris, apapun jenis kerisnya dan jenis tuahnya, mengandung unsur kesaktian dan kekuatan gaib di dalamnya. Walaupun tuah utamanya adalah untuk kerejekian, ketika sedang digunakan untuk berkelahi / bertarung, keris itu akan berfungsi sebagai keris kesaktian, kekuatan gaib di dalamnya akan berfungsi sebagai khodam senjata tarung untuk menembus dan melumpuhkan pertahanan gaib lawannya. 

Walaupun tuahnya untuk kerejekian, biasanya kekuatan gaib kerisnya jauh di atas kekuatan jimat-jimat kebal yang biasa dipakai orang, seperti mustika wesi kuning, rante babi, merah delima, ataupun jimat-jimat kebal rajahan / isian, yang kesaktian keris itu akan dapat menembus pertahanan kekebalan orang yang memakai jimat kebal dan merobek-robek tubuhnya.

Tuah dasar lainnya adalah untuk perlindungan gaib bagi si pemilik keris dari serangan gaib atau kejahatan. Jadi, selain tuah utamanya yang untuk kesaktian, kekuasaan, kewibawaan atau rejeki, keris juga memberikan tuah perlindungan gaib (keselamatan) bagi si pemilik. Kekuatan gaib di dalamnya dapat juga diminta bantuannya untuk memberikan pagaran gaib atau perlindungan gaib untuk si pemilik keris dan keluarganya. Dengan demikian, bila dikatakan ada sebuah keris yang bertuah kesaktian, kewibawaan, atau rejeki, sebenarnya terkandung juga di dalamnya tuah untuk perlindungan gaib, walaupun tuah itu mungkin tidak terasa dominan. 
Pada jaman sekarang orang lebih suka mencari benda-benda yang bisa memberikan tuah yang sering disebut jimat. Biasanya jimat-jimat inilah yang banyak dimiliki orang, karena selain tuahnya yang diharapkan, juga bentuknya lebih sederhana / kecil, mudah dibawa dan tidak memerlukan perawatan khusus seperti keris. Namun keris tetap mempunyai peminat tersendiri, bahkan banyak juga orang yang sengaja mengkoleksi keris.

Mahluk halus yang menghuni sebuah keris (keris jawa yang dibuat oleh empu keris jaman dulu, bukan keris baru buatan jaman sekarang - keris kamardikan) adalah mahluk halus jenis tersendiri, tidak sebangsa dengan jin atau dedemit seperti banyak dikata orang. Jenis gaib di dalam keris jawa sifatnya mirip dengan yang biasa disebut "wahyu", seperti wahyu keprabon, kepangkatan, lurah, dsb,  tetapi dimensinya lebih rendah daripada gaib wahyu  (dibandingkan gaib wahyu, sosok wujud gaib keris lebih mudah dilihat dan lebih mudah dirasakan keberadaannya). Walaupun banyak orang sekarang sering menyebutnya sebagai "khodam" keris, tetapi oleh para empu keris dan para pemerhati keris jawa, gaib keris itu sering disebut wahyu.

Dalam rangka  "mendatangkan" gaib untuk sebuah keris dilakukanlah laku puasa dan tirakat oleh sang empu. Proses laku-nya menggunakan olah batin dan olah spiritual secara mendalam, karena yang akan didatangkan adalah sesosok gaib jenis khusus, tidak sama dengan proses mengisikan gaib ke dalam batu cincin atau jimat yang hanya menggunakan amalan gaib atau kebatinan saja.

Ketika sang gaib keris sudah menyatu dengan kerisnya (sebagai rumahnya yang baru), maka dikatakan 'wahyu'-nya sudah datang. Ketika si pemilik keris sudah menerima keris itu dari sang empu keris (yang sudah selesai pembuatannya), maka si pemilik keris disebut "kewahyon".  Disebut demikian karena "wahyu"-nya menyertai dia, dan memang dikhususkan hanya untuk dia saja, bukan untuk orang lain ataupun keturunannya.

Wujud dari sosok gaib keris bermacam-macam, sama seperti mahluk halus lain. Isi gaib keris berdimensi halus, tetapi lebih mudah dilihat daripada mahluk halus bangsa wahyu. Mereka menghormati para dewa yang menjadi pengayom kehidupan manusia. Mereka mau "turun" untuk mengikut kepada seorang manusia hanya  jika diminta oleh seorang spiritualis (empu keris) yang memiliki wahyu dewa dalam dirinya. Namun setelah tugasnya selesai (setelah si pemilik keris meninggal, atau setelah kerisnya dipindahtangankan), mereka tidak segera kembali ke asalnya, tetapi memilih tetap tinggal di dalam kerisnya yang telah menjadi rumahnya yang baru.

Wahyu  adalah suatu jenis mahluk halus dari jenis tersendiri, yang memiliki tugas khusus dalam kehidupan manusia, yang peranannya sangat terorganisir dan komandonya dipegang oleh para Dewa. Kepada siapa mereka akan ditugaskan, semua kewenangannya ada di tangan para Dewa. Tidak ada satu pun manusia atau mahluk halus dengan kemampuannya sendiri dapat meraih sebuah wahyu, kecuali diperkenankan Dewa. 

Wujud gaib wahyu berbentuk bola-bola cahaya. Secara fisiknya dimensinya sangat halus, sehingga jarang sekali ada manusia yang mampu melihat wujud aslinya dan sulit mengetahui lokasi keberadaan tempat tinggalnya. Yang sering terlihat hanyalah aura energinya saja berwarna putih kebiruan, kehijauan, keunguan atau kemerahan ketika sebuah wahyu sedang turun kepada seseorang yang kewahyon. Setelah tugasnya selesai mereka segera kembali ke asalnya. Baca juga : Dewa dan Wahyu Dewa.

Wahyu keris jawa adalah sejenis mahluk halus yang sifatnya mirip dengan wahyu dewa. Sosok wujudnya bermacam-macam, sama seperti mahluk halus lain. Jenis ini juga berdimensi halus, tetapi lebih mudah dilihat daripada wujud gaib wahyu dewa. Tetapi mereka tidak dikomando oleh para dewa. Mereka lebih mandiri. Tetapi mereka juga menghormati para dewa yang menjadi pengayom kehidupan manusia. Mereka mau turun untuk mengikut kepada seorang manusia  hanya  jika diminta oleh seorang spiritualis (empu keris) yang memiliki wahyu dewa dalam dirinya. Tuah / karisma wahyu dewa yang sudah ada di dalam diri seseorang akan menjadi berlipat ganda pengaruhnya setelah wahyu dewa dalam dirinya berpadu dengan wahyu keris yang dimilikinya.

Setelah tugasnya selesai, wahyu keris tidak kembali ke asalnya, tetapi memilih tetap tinggal di dalam keris yang telah menjadi rumahnya yang baru. Tetapi banyak keris yang dulu terkenal sakti kini telah menghilang dari kehidupan manusia. Mereka moksa, masuk ke alam gaib bersama dengan fisik kerisnya, karena tidak mau kerisnya jatuh ke tangan orang-orang yang mereka tidak berkenan. Yang masih tinggal hanyalah keris-keris tiruan / turunannya saja. 

Mahluk gaib wahyu dewa dan wahyu keris jawa bertempat tinggal di udara di atas gunung Himalaya, dekat dengan tempat tinggal para dewa di Kahyangan.

Empu keris jaman dulu sengaja mendatangkan gaib keris jenis wahyu, karena selain bisa dipastikan bahwa gaib kerisnya itu adalah dari golongan yang baik, juga supaya perpaduan antara wahyu yang sudah ada pada diri si pemilik keris dengan gaib wahyu dari kerisnya bisa menghasilkan suatu sinergi kegaiban yang selaras dan berlipat-lipat ganda kekuatan pengaruhnya. Dengan keris buatannya itu si empu keris memadukan kinerja gaib keris buatannya dengan wahyu dewa yang sudah ada pada diri seseorang, suatu tindakan spiritual yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai kebanyakan manusia jaman sekarang yang hanya sampai pada tataran kebatinan saja, yang mampu membuat jimat beserta kegaibannya, tetapi tidak mengetahui ada / tidaknya suatu wahyu dalam diri seseorang, apalagi memadukan kegaibannya.

Seandainya pun seorang calon pemilik keris tidak memiliki wahyu dewa dalam dirinya, tetapi proses ritual pembuatan keris akan tetap dilakukan seperti itu. Itu adalah bentuk tanggung jawab sang empu keris supaya kerisnya tersebut memberikan kebaikan kepada siapapun pemakainya dan juga akan menjadi "berkah" bagi kehidupan pemiliknya. Dan tuah dari keris-keris itu akan bekerja sesuai penyatuan kebatinan antara si keris dengan si manusia pemiliknya.

Tuah / fungsi / manfaat utama sebuah wahyu adalah untuk melipatgandakan pengaruh gaib dari perbuatan-perbuatan orang-orang yang menerima wahyu.

Manfaat wahyu itu akan bekerja sendiri seiring dengan aktivitas dan perbuatan si manusia penerima wahyu yang sejalan dengan sifat kegaiban wahyunya, sehingga perbuatan-perbuatannya itu memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dirinya yang tanpa wahyu. Wahyu yang sudah diterima oleh seseorang akan menjadi pasif peranan dan pengaruhnya jika orang si penerima wahyu tidak melakukan aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban wahyunya.

Karena sisi gaib sebuah keris jawa adalah bersifat wahyu, maka kegaiban keris jawa akan bekerja sendiri sesudah ada penyatuan kebatinan dengan manusia pemiliknya dan akan melipatgandakan pengaruh aktivitas dan perbuatan si manusia pemiliknya yang sejalan dengan sifat kegaiban kerisnya, sehingga perbuatan-perbuatannya itu memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dirinya tanpa keris. Keris jawa yang sudah dimiliki oleh seseorang akan pasif peranan dan pengaruhnya jika belum ada penyatuan kebatinan dengan orang si pemilik keris dan orangnya tidak melakukan aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban kerisnya.

Karena itu kegaiban keris jawa tidak akan bisa langsung dirasakan oleh orang-orang pemilik keris dan banyak pemilik keris yang tidak bisa merasakan manfaat kerisnya, karena kegaibannya akan bekerja hanya sesudah ada penyatuan kebatinan pemiliknya dengan kerisnya dan kegaiban keris tidak sama dengan benda-benda bertuah lain yang otomatis memberikan tuahnya sesudah bendanya dimiliki, apalagi mengharapkannya bekerja sendiri mendatangkan rejeki dan kekayaan seperti jimat bertuah pesugihan. 

Sifat kegaiban keris adalah melipatgandakan pengaruh aktivitas dan perbuatan si pemilik keris yang sejalan dengan sifat kegaiban kerisnya. Jadi, orangnya sendiri yang harus sakti, orangnya harus bekerja, dsb, dan sesudah ada penyatuan kebatinan kerisnya dengan pemiliknya, aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban kerisnya pengaruhnya akan dilipatgandakan oleh kerisnya. 

Pada jaman sekarang kebanyakan manusia memandang keris hanya sebagai benda senjata jaman dulu yang bermuatan gaib, penggunaannya pun sama dengan senjata penusuk lainnya, dan yang berhubungan dengan kegaiban keris penggunaannya sama dengan cara-cara perdukunan yang mengandalkan kekuatan khodamnya saja, sehingga orang akan terdorong untuk mencari dan memiliki keris yang "katanya" tuahnya ampuh dan khodamnya sakti.

Padahal kekuatan tuah dari sebuah keris jawa akan bekerja sesuai tingkat penyatuan kebatinan si manusia dengan kerisnya, sehingga sekalipun kekuatan khodam sebuah keris jawa tidak tinggi, tetapi tuahnya akan melipat-gandakan kegaiban dari perbuatan-perbuatan si manusia dalam hidupnya (meningkatkan tingkat keberhasilan usaha dan upaya si manusia untuk menaikkannya kepada derajat yang tinggi).

Pada jaman dulu keris-keris lebih diutamakan kecocokkannya dengan si manusia, tujuannya untuk disatukan dengan kebatinan manusianya, sehingga contohnya sebuah keris yang tuahnya untuk kesaktian dan wibawa kekuasaan, walaupun kesaktian khodam kerisnya tidak terlalu tinggi, tetapi penyatuan si keris dengan si manusia menjadikan manusia itu bisa malang melintang di dunia persilatan atau berkuasa di pemerintahan dan wibawanya juga akan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Dan biasanya dalam setiap pembuatan keris tingkat kesaktian khodamnya sudah disesuaikan dengan si manusia calon pemiliknya, sehingga kekuatannya sebanding dan bisa "mendongkrak" kegaiban si manusia.

Itulah sebabnya dalam membuat keris para empu jawa melakukan berbagai proses ritual gaib yang menurut pandangan awam jaman sekarang dianggap tidak perlu dan para empu keris jaman sekarang pun sudah tidak lagi melakukan yang sedemikian itu. Berbagai proses ritual itu memang suatu keharusan supaya keris yang dihasilkan oleh si empu keris benar-benar sempurna sebagai pendamping manusia pemiliknya. Berbagai proses ritual tersebut justru dilakukan oleh para empu keris karena mereka benar-benar menguasai bidangnya dan tercapainya tujuan kegaiban keris seperti tertulis di atas hanya mereka yang menguasai kemampuan spiritual tingkat tinggi saja yang mampu melakukannya.

Bahkan dalam rangka membuat sebuah keris yang bersifat pesanan khusus (keris keraton, keris keningratan, atau keris-keris yang akan menjadi lambang kebesaran sebuah kekuasaan, tergantung status, pribadi dan sisi kegaiban orangnya), seorang empu keris sebelumnya harus melakukan semadi dan tapa brata berbulan-bulan hanya untuk mencaritahu jenis keris dan wahyu keris yang cocok untuk si manusia calon pemilik keris dan mencarikan kesesuaiannya (berikut semua persyaratannya) supaya sosok gaib itu mau didatangkan. Setelah didapatkan kecocokkan dengan si isi gaib keris, barulah kemudian fisik kerisnya dikerjakan pembuatannya mengikuti semua persyaratan yang ditentukan oleh si gaib keris. 

Jadi bentuk fisik sebuah keris, apakah harus keris lurus atau luk, bentuk luk-nya, jumlah luk-nya, bentuk dapurnya, pamornya, ricikannya, aksesoriesnya, dsb, tidak semuanya adalah hasil kreasi sang empu keris, sebagian adalah permintaan / persyaratan dari si gaib keris yang si empu keris harus mewujudkannya supaya gaib kerisnya mau tinggal dan menyatu dengan kerisnya.

Itulah sebabnya sebuah keris buatan empu keris biasanya bentuk fisik kerisnya akan juga melambangkan pribadi (dan karakter) gaib keris yang bersemayam di dalamnya, juga melambangkan pribadi orang pemiliknya. Bentuk fisik sebuah keris bukan hanya melambangkan sifat gaib kerisnya, tetapi sekaligus melambangkan sisi pribadi manusia pemiliknya, seperti keris-keris nagasasra dan sabuk inten, atau keris sengkelat, singa barong, dsb  (yang bukan keris tiruan), yang masing-masing bentuk fisik kerisnya melambangkan sosok dan watak isi gaib kerisnya, juga melambangkan sisi pribadi manusia pemiliknya dulu, yang orang tidak akan pernah mengetahuinya jika menilai sebuah keris hanya dengan melihat gambar pamor di badan keris.

Harap diperhatikan, seringkali semua sosok gaib, termasuk yang berdiam di dalam sebuah keris, mustika ataupun jimat, tidak mau keberadaan atau jati dirinya diketahui oleh manusia. Mereka sendiri masing-masing memiliki nama, tetapi nama mereka dan juga sosok mereka seperti apa, tidak ingin diketahui oleh manusia. Mereka juga tidak mempermasalahkan keris, mustika atau jimat itu diberi nama atau sebutan apa, sepanjang nama dan sebutan itu tidak bersifat merendahkan. Para empu keris juga biasanya tidak memberikan nama tertentu pada keris-keris buatannya. Pemberian nama keris biasanya dilakukan oleh manusia pemiliknya untuk melakukan pembedaan antara keris yang satu dengan keris yang lain.

Terjadi demikian karena pada umumnya para mahluk gaib secara alami memang keberadaan dan jati dirinya tidak ingin diketahui oleh manusia, dan sosok gaib di dalam sebuah keris, jimat atau mustika tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, tetapi sudah menjadi satu kesatuan dengan benda gaibnya. Diharapkan manusia pemiliknya akan memiliki keris atau benda-benda gaib tersebut secara utuh beserta kegaiban di dalamnya, tidak perlu menyebutkan nama atau membayangkan sosok gaibnya seperti apa. Dengan demikian sebaiknya kita juga  tidak memaksakan diri untuk mencari tahu nama dan sosok gaibnya seperti apa, untuk menghargai mereka, cukup kita menyebutkan nama keris, mustika, atau nama jimatnya saja, bukan nama sosok gaibnya.

Untuk jenis keris dan tombak atau pusaka lain, seperti itulah yang diinginkan oleh sosok gaib keris atau tombak. Mereka ingin kita memandang mereka sebagai sesuatu yang menyatu dengan keris dan tombaknya yang yang menyatu juga dengan orangnya. Jadi diharapkan kalau kita care dengan mereka, kita juga care dengan benda gaibnya dan merawatnya, sama seperti kita merawat diri kita sendiri, bukan sekedar kita menginginkan tuahnya dan memperlakukannya sama seperti benda jimat. Jadi kalau kita ingin menayuh atau untuk memberikan sugesti, jika keris atau tombaknya berada di dekat kita, sebaiknya dilakukan sambil dipegang bendanya, bukan memanggil-manggil sosok gaibnya untuk datang kepada kita.

Keris (atau benda-benda gaib lain) dan khodamnya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dianggap terpisah. Dalam mengsugesti keris (atau benda-benda gaib lain) tidak perlu (dan tidak harus) anda menyebut nama khodamnya, walaupun anda tahu nama khodamnya dan khodamnya sudah mendampingi anda.

Jika suatu saat anda membutuhkan bantuan kegaiban keris-keris anda (atau benda-benda gaib lain) atau anda ingin memberikan sugesti, dalam mengsugestikan keris-keris anda cukup dilakukan dengan memegang kerisnya saja. Atau seandainya pun anda sedang berada di suatu tempat dan keris anda ditinggal di rumah, anda tetap dapat berinteraksi dan menyampaikan sugesti sambil memfokuskan batin kepada fisik kerisnya di rumah, panggil saja : Kerisku .....
Atau jika anda sudah bisa merasakan keberadaan khodamnya yang mendampingi anda, dan bisa berinteraksi batin dengannya, juga tidak perlu anda menyebutkan namanya, cukup panggil saja Ki, Nyi, Mbah, dsb.

Sebagai tambahan, bukan hanya di dunia manusia, di dunia gaib khodam keris pun ada aturan hirarki status dan kelas gaib keris, yang aturannya sama dengan status dan kelas wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, karena filosofi dasar diturunkannya wahyu gaib keris adalah untuk dipasangkan dengan wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, sehingga hirarki status dan kelas gaib keris dan wahyu dewa itu sejalan.

Sesuai status dan kelas gaib keris di dunia gaib perkerisan itu, kualitas keris yang dibuat dan kemampuan para empu keris dalam membuat masing-masing jenis keris pun terbagi-bagi sesuai kelas masing-masing empu keris yang ditentukan berdasarkan tingkatan kualitas wahyu dewa yang diterima oleh masing-masing empu keris, tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan pribadi manusia sang empu dalam membuat keris.

Dalam proses pembuatan keris jawa sang empu keris melakukan upacara ritual keagamaan memohonkan kepada Dewa supaya berkenan menurunkan gaib wahyu keris yang sesuai dan sekelas dengan orang si calon pemilik keris. Setelah sosok gaib kerisnya itu datang, pembuatan keris dilakukan dengan mengikuti semua persyaratan yang diajukan oleh si gaib keris, mulai dari sesajinya, cara pembuatan / penempaan logam, bentuk fisik keris, hingga tatacara pemeliharaan kerisnya setelah selesai pembuatannya dan dimiliki oleh si manusia pemilik keris.

Karena itu, sehubungan dengan pemahaman kebatinan dan spiritual manusia terhadap perkerisan, sifat gaib keris dan wahyu dewa, orang-orang jawa jaman dulu memahami bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan sebuah keris adalah bersifat sakral, bukan klenik, mulai dari proses awal pembuatannya sampai keris itu jadi dan dimiliki oleh seseorang.

Tetapi pada jaman sekarang ini Penulis menemukan ada keris jawa tertentu yang sosok isi gaibnya adalah dari jenis bangsa jin, atau sukma manusia / arwah, bukan mahluk halus sejenis gaib wahyu keris. Ada banyak sebab yang menjadikan sebuah keris jawa kehilangan isi gaib aslinya. Salah satu contohnya adalah keris milik Penulis sendiri dengan gambarnya di bawah ini :

keris-keris yang pernah sengaja dikosongkan isi gaibnya

Keris itu didapatkan dari hasil penarikan gaib. Tetapi ketika kerisnya telah mewujud di alam nyata manusia, sosok gaib kerisnya tidak ikut serta (kerisnya kosong). Mahluk gaib yang kemudian masuk dan tinggal di dalam keris tersebut bukan lagi isi gaib aslinya, sehingga sesudahnya isi gaib kerisnya bukanlah aslinya. Tetapi sekarang khodam aslinya sudah dipanggil kembali mengisi kerisnya.

Ada keris-keris yang pernah sengaja dikosongkan isi gaibnya, sehingga jika kemudian ada mahluk halus lain yang masuk mengisi kerisnya, maka kemudian isi gaib kerisnya itu bukan lagi gaib aslinya. 

Atau ada keris-keris yang didapatkan dari hasil penarikan gaib, yang prosedurnya tidak tepat, sehingga ketika kerisnya telah mewujud di alam nyata manusia, sosok gaib kerisnya tidak ikut serta (kerisnya kosong). Mahluk gaib yang kemudian masuk dan tinggal di dalam keris tersebut bukan lagi sosok gaib aslinya. Jika keris-keris tersebut kemudian menjadi milik anda, maka anda mendapatkan keris yang isi gaibnya bukan aslinya.

Ada juga seorang spiritualis yang berkhodam bangsa jin golongan hitam. Karena keberadaan khodamnya itu maka jika orang itu memegang benda-benda gaib milik orang lain yang datang berkonsultasi kepadanya, maka benda-benda itu akan menjadi kosong isi gaibnya. Atau jika orang itu melakukan suatu penarikan gaib, maka semua benda-benda gaib yang berhasil ditarik dan diwujudkannya, bendanya akan kosong tidak berkhodam. 

Kejadian-kejadian tersebut terjadi karena khodam-khodam dan mahluk halus yang dari golongan putih tidak mau bergaul / berdekatan dengan yang golongan hitam. Karena khodam spiritualis tersebut adalah dari jenis golongan hitam, maka khodam-khodam benda gaib yang dari golongan putih, termasuk khodam keris jawa, akan pergi setelah bendanya dipegangnya, karena tidak mau berdekatan dengan khodam si spiritualis yang golongan hitam.

Terlepas dari perdebatan mana yang lebih baik mengenai jenis sosok isi gaib keris, Penulis hanya ingin menekankan bahwa ternyata pada masa sekarang ini tidak semua keris jawa tua isi gaibnya adalah dari jenis gaib wahyu keris. Jadi pada masa sekarang tidak pasti bahwa semua keris jawa tua isi gaibnya adalah dari jenis gaib wahyu keris, ada kejadian-kejadian yang bisa menyebabkan isi gaib kerisnya bukan lagi sosok gaib aslinya. Jika anda ingin mencoba mengetahui perihal isi gaib keris anda bisa dilakukan dengan menayuhnya dengan mengikuti cara-cara seperti dicontohkan dalam tulisan berjudul  Ilmu Tayuh / Menayuh Keris.

Sumber : Javanese 2000
Para Empu Keris Pusaka Tuban, Blambangan dan Madura

Para Empu Keris Pusaka Tuban, Blambangan dan Madura

Para Empu Keris Pusaka Tuban, Blambangan dan Madura

Sebagai Orang berilmu tinggi, seorang Empu selalu mendapat tempat yang terhormat pada suatu jaman pemerintahan kerajaan-kerajaan jaman dahulu. Walaupun sering sekali seorang Empu tidak tinggal di pusat-pusat kerajaan, melainkan di tempat-tempat terpencil di lereng-lereng gunung, namun Empu-Empu itu selalu mewakili  jamannya dan mewakili kerajaan serta pusat pemerintahan tertentu dan Empu-Empu dari kerajaan dan daerah tertentu itu, melahirkan kreasi Keris-Keris dengan Tangguh tertentu pula.
Para Empu Keris Pusaka Tuban, Blambangan dan Madura

Yang dimaksud dengan Tangguh adalah penampilan gaya atau modelnya, seperti halnya mobil buatan Jepang, memiliki model dan gaya yang lain dengan model mobil Amerika atau pun Eropa. Demikian juga dengan Tangguh Majapahit akan berbeda dengan Tangguh Kartasura. Keris-Keris pada jaman dan daerah yang sama memiliki Tangguh yang serupa, walaupun dibuat oleh Empu yang berbeda. Penampilan gayanya secara umum akan sama dan serupa, hanya beberapa ciri khas saja yang membedakan keris ini buatan Empu A dan keris itu buatan Empu B. 

Jadi bagi mereka yang menekuni di bidang keris, akan dapat meneliti sebuah keris buatan jaman apa dan siapa pembuatnya. Bahkan bagi mereka yang ahli, dapat pula merasakan keris ini cocok untuk siapa dan untuk khasiat apa. 

I. Empu-Empu Tuban
Banyak Empu Pajajaran yang berhijrah ke Tuban. Empu Kuwung memiliki anak 5 yaitu : Rara Sembaga, Bekeljati, Paneti, Suratman (Jaka Suratman) dan Salaeta.

Empu Rara Sembaga
Empu Rara Sembaga, jaman Tuban Pajajaran. Keris yang dibuat berdhapur brojol, sinom, tilam upih, tombaknya berdhapur godhong pring, totok, sigar jantung. Semuanya dengan besi kuning matang (welu), kurang baja dan sepuh.

Empu Bekeljati (Jakajati)
Empu Bekeljati hidup di jaman Majapahit. Karyanya banyak yang tipis-tipis tetapi sosok bilahnya lebar-lebar, kencang dan kuat, cocok untuk prajurit.

Empu Suratman (Jaka Suratman)
Empu Suratman di Tuban pada jaman Majapahit. Keris yang dibuat berdhapur carangsoka, kidangsoka, puthut, brojol, tilam upih, cempana, pasopati, jalak sangu tumpeng. Cirinya : Luk kurang, kembang kacang methit, pamor ryawut, sepuh dilat, sangat ampuh. Sedang yang berdhapur sepokal, sempaner, keboteki, kebo dhengen, jangkung, sabuk tampar (tali dhadhung) berganja manegkurep, pamor jelas dan penuh. Tombak yang dibuat berdhapur biring, kudhup, totog, doradasih, dora manggala, semuanya bagus dan kuat.

Empu Paneti
Empu Paneti di Tarulaya di jaman Majapahit. Ciri-ciri kerisnya : jika brojol dengan ganja ngucengmati dengan pamor beras wutah, besi hitam, tipis, sepuh dilat, sangat ampuh. Jika jalak tilamupih, sangutumpeng, ganjanya mengkurap lebar di belakang. Bilah tipis tetapi agak lebar. Juga membuat tombak denga dhapur celed, biring lanang, sapit abon, doradasih, dengan besi hitam dan pesi pendek, terkenal ampuh.

Empu Salaeta
Empu Salaeta di Tuban jaman Majapahit, hampir sama dengan saudara-saudaranya dalam berkarya. Hanya pamornya kebanyakan agak hitam (merkitik cemeng)

Empu Joko Hajal
Empu Joko Hajal terkenal sebagai Empu Tuban yang istimewa. Keris maupun tombak buatannya sangat ampuh karena jika ditancapkan di pohon segera mati.

II. Empu-Empu Blambangan
Dua empu Majapahit yang pernah bermukim di Blambangan adalah Ki Pitrang (Jakasupa I) dan Supogati. Disamping itu ada empu lain yang juga terkenal yaitu :

Empu Surowiseso, anak Empu Kekep
Empu Mlayagati, anak pertama Surowiseso
Empu Cakrabawa, anak kedua Surowiseso
Empu Kemendhung, anak Empu Jangga, Surabaya
Empu Jangga, anak Empu Cakrabawa
Empu Cangkring, anak Empu Kumendhung
Empu Tilam, anak Empu Cangkring
Empu Kalunglungan, anak Empu Mlayagati. Beliau beranak Empu Sedhah dan kemudian bergelar Tumenggung Supodriyo dan mempunyai putera 
Empu Surowiradi. Di jaman Pajajaran, Empu Sedhah bergelar Empu Welang. Di jaman Brawijaya I, Empu Kalunglungan membuat keris dhapur Jalak sangu tumpeng.
Empu Luwuk, terkenal sebagai pembuat keris kraton dan menjadi kesayangan Raja Blambangan.

III. Empu-Empu Madura
Empu Kasa atau disebut Empu Keleng. Waktu di Pajajaran bergelar Empu Wanabaya (lihat Empu Pajajaran).
Empu Macam atau Jakasupa II, anak Empu Pitrang (Pangeran Sedayu) dari puteri Raja Majapahit. Keris karyanya besar-besar. Ia sering disebut Empu Kodhok. Di kemudian hari ia hijrah ke Pajang dan bergelar Empu Umyang. Lalu pindah lagi ke Madiun dan beralih nama menjadi Empu Tundhung Madiun.
Empu Palu, anak Empu Kasa Madura
Empu Gedhe, Pamekasan, anak Empu Palu. Karya-karyanya tipis, kering dan besi hitam kuat. 
Empu-Empu Keris di Yogyakarta

Empu-Empu Keris di Yogyakarta

Menurut catatan dari Ir. Supardi Prawirodipuro dari Dinas Kerajinan di jaman Belanda dulu, di Yogyakarta banyak terdapat empu-empu pembuat keris. Misalnya di Kajar (Gunung Kidul), Bener, Wates, Imogiri dan Ngenta-ngenta. Empu Supolegi adalah empu keris jaman Sultan Agung (1630) yang ada di sebelah timur Imogiri. Ada lagi seorang empu wanita yang menetap di Jombokan, Pengasih, Kulon Progo yang terkenal di Jaman Mataram karena hasil karyanya berupa Keris Sombro.
Empu-Empu Keris di Yogyakarta

Desa Ngenta-enta sebelah barat Godean merupakan pusatnya para empu di Yogyakarta. Mereka banyak yang menjadi empu Keraton. Bahkan ada yang  sempat menjadi bupati, seperti Tumenggung Jaganegara alias Empu Wangsawijaya yang hidup di jaman HB V (1820-1855).

Kompleks makam para empu di Ngenta-enta merupakan bukti nyata adanya empu-empu yang  banyak andilnya dalam sejarah kerajaan Kartasura, Surakarta dan Yogyakarta. Misalnya Empu Supajaya, Empu Japan, Empu Badhur, Empu Hentowayang, dan masih banyak lagi.

Ir. Supardi menyebutkan bahwa empu pertama yang menetap di Ngenta-enta adalah Empu Hentowayang. Empu Supowinangun di Jaman HB VIII banyak bekerja bagi Patih Danurejo VII dan KRT Puspodiningrat. Ada lagi empu keraton yang terkenal di jaman itu bernama Lurah Padhe Prawirodahana yang banyak membuat keris bagi Kraton Yogyakarta. Salah satu di antaranya adalah keris Kyai Wisodirodo, pernah dipamerkan pada perayaan Sekaten tanggal 5-12 Mei 1938. Ada lagi Empu Bekel Tarunadahana yang juga tak kalah kondangnya sebagai pembuat besi aji yang top.

Dimasa perang kemerdekaan RI, 1945-1950, di beberapa daerah para empu masih tetap berkarya. Tercatat tahun 1944 Empu Jayangpenglaras, abdi dalem keraton Yogyakarta menerima pesanan dari Markas Besar Tentara Yogyakarta sebuat keris berdhapur jalak dengan gambar harimau di sor-sorannya, namun saat keris berbahan baku dari bekas Sitihinggil Keraton dan pamor meteor itu selesai,  Jendral Oerip Soemohardjo yang sedianya akan menerima pusaka tersebut meninggal. Jendral tersebut adalah Kepala Staf Tentara Nasional.
Empu-Empu Keris di Yogyakarta

Silsilah Empu Tarunadahana menurut Ir. Supardi sebagai berikut :

Tumanggung Supodriya - Temenggung Jakasupa - Tumenggung Supoanom - Tumenggung Sektilanang - Nyai Panjang Mas (di jaman Mataram) - Empu Cindhe Amoh - Empu Supoyang (Empu Jaman Sultan Agung) - Empu Hentowayang (empu Kartasura yang menetap di Ngenta-enta) - Empu Japan I (Empu Kartasura) - Mas Ayu Kadarsih (istri Rm. Sudiro alias Pengeran Hangabehi dari Kartasura yang menyunting puteri Empu Ngenta-enta) - Rm. Supajoyo (empu jaman HB I) - Empu Japan II (empu jaman HB IV-V) - Empu Lombang -Empu R. Panewu Kartawigono (empu jaman HB IV-V) - Empu R. Panewu Prawirodahana (Jaman HB VII-VIII) - Empu R. Bekol Tarunadahana (Empu Jaman HB VIII).

Menurut tradisi keraton Yogya, nama empu tidak ditonjolkan, tetapi nama "jejeneng" (pemuka.lurahnya). Beliau membawahi beberapa orang Empu yang masing-masing mempunyai keahlian khusus. Tumenggung Riyokusuman adalah jejeneng terkenal di jaman HB V. Pada waktu itu, tosan aji selalu dibuat di bangsal Sri Manganti. Itulah sebabnya hasil karyanya, misalnya Keris, Tombak dan sebagainya mendapat sebutan yasan Sri Manganti.

Namun sejak jaman HB VIII pembuatan keris tidak dilakukan di dalam bangsal itu, tetapi di Tamanan yang masih termasuk kompleks kraton. Hasil buatannya sering disebut yasan (buatan) Tamanan. Jejeneng yang terkenal waktu itu adalah Empu Wedono Prawirodipuro.

Groneman dalam bukunya tetang keris-keris Jawa menyebutkan dua orang Empu Puro Pakualaman pada awal abad ini. Mereka adalah Ng. Karyodikromo dan Mas Supotaruno. Sebuah sumber lain mengatakan, di jaman Paku Alam IV (1864-1978) terapat seorang pandai besi di Kulonprogo yang dikenal bagus karyanya. Ia kemudian diangkat menjadi abdi dalem Puro dan disuruh membuat keris, ternyata berhasil. Kemudian pandai besi itu mendapat nama Empu Ngabehi Karyocurigo I. Anakny, Karyocurigo II meneruskan profesi ayahnya sebgai Empu Puro Pakualaman. Disamping itu ada lagi Empu Joyokaryo yang juga menjadi pendiri dinasti empu Pakualaman. Karya Empu Pakualaman ini dapat dilihat di Anjungan Mataram, Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.
Empu-Empu Keris di Yogyakarta

Dewasa ini mungkin hanya Empu Jeno Harumbrojo (Gatak, Sumber Agung, Kecamaan Moyudan, Sleman) dan Empu Karyodiwangsa (Kajar, Gunungkidul) yang  dapat dianggap sebagai Empu Tradisional. Karena membuat Tosan Aji selalu diiringi sesaji dan puasa. Jeno Harum Brojo adalah keturunan Empu Majapaahit sebagaimana terlihat dalam silsilah keluarganya. Urutannya adalah sebagai berikut : 

Kyai Empu Tumenggung Supordriyo (Majapahit) - Kyai Empu Jokosupo (Majapahit) - Kyai Empu Supoanom (Tuban) - Kyai Empu Sektilanang (Tuban) - Kyai Panjang Mas (Mataram) - Kyai Empu Cindheamoh (Kartasura) - Mas Ayu Kadarsih (Kartasura) - Raden Ayu Pandhit (Surokarto) - Kyai Badhur (Ngenta-enta) - Kyai Empu Kartoyuda (Ngento-ento) - Kyai Empu Joyosemito (Jenggalan) - Kyai Empu Joiruno (Jenggalan) - Kyai Empu Supowinangun (Jenggalan), yang terakhir ini menurunkan almarhum Empu Yosopangarso (Jitar, Sumberarum, Moyudan) dan Empu Jeno Harumbrojo (Gatak, Sumberang, Moyudan, Sleman).

Waktu ini memang banyak pandai besi yang membuat keris dan tombak seperti Sala, Yogya Selatan, Surabaya, Tulung agung bahkan juga di Jakarta. Mereka tidak dapat digolongkan kelompok Empu karena dalam berkarya tidak disertai laku tapa dan sesaji. Malah banyak diantaranya yang hanya merubah Tosan Aji lama menjadi barang baru. Mungkin karya mereka tidak kalah bagusnya dengan buatan empu sesungguhnya, namun sebagaimana halnya mebel, tak lebih dari benda pajangan tanpa isi.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Membabar Keris Tangguh Madiun

Membabar Keris Tangguh Madiun-Banyak orang mencibir seputar keris Madiun. Selain bentuknya yang dianggap agak aneh dari pakem yang dianggap agak aneh dari pakem pada umumnya, juga tak banyak ditemukan keris tangguh Madiun yang mewah dan indah bentuknya. Kalau toh ada yang berkinatah emas, biasanya detil ukurannya agak kurang rapih dan batas tepi emas terlihat tak beraturan.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Secara umum, keris tangguh Madiun selama ini dikenal dengan bentuk yang sangat sederhana dan cenderung wagu (kurang laras). Terkadang bahkan tak sesuai dengan pakem keris pada umumnya. Namun juga tak dipungkiri, bahwa dalam kesederhanaannya, sebagian besar keris-keris Madiun memiliki perbawa tersendiri, atau dalam bahasa orang perkerisan, keris-keris tangguh  Madiun itu terkesan nggegirisi-menyeramkan. Meskipun bentuknya terasa nyeleneh, tapi enak dipandang. Nyeleneh artinya berbeda dengan kebiasaan atau pekem keris pada umumnya. "Saya justru senang banget dengan bentuknya. Sangat artistik dan anggun. Agak aneh, tapi enak dilihat, "ujar seorang kolektor fanatik keris-keris gaya Madiunan, yang enggan disebutkan namanya.

Bentuknya terkesan agak ganjil, karena ciri khas yang ada pada keris Madiun hampir tak ditemukan pada mazhab keris pada umumnya. Sogokan dan blumbungan, misalnya selalu tak pernah imbang antara kanan dan kirinya. Pada gonjo-nya juga ada sedikit keunikan. Perut gonjo tampak tipis, sedangkan sirah cecaknya berbentuk lancip. Tikel alis cenderung mencuat ke atas dengan lengkung yang tajam. Lambe gajah bisa bersusun undhak-undhakan (seperti susunan tangga). Behkan terkadang dijumpai juga pada sirah cecak ada lambe gajah-nya.

Pamor yang ada pada keris-keris Madiun biasanya juga tak terlalu beragam. Yang banyak ditemui di tangan para kolektor lokal (mantan-mantan lurah atau sesepuh desa di Kabupaten Madiun) adalah keris-keris dengan pamor Wos Wutah, Uler lulut dan Buntel Mayit. Keris-keris Madiun agak jarang menggunakan ada-ada - bagian tengah bilah yang lebih menonjol.

Dhapur yang banyak dijumpai adalah Jangkung dan Mahesa, seperti Kebo Lajer, Kebo teki, atau Kebo Salurung. Panjang bilahnya sebenarnya relatif sama dibandingkan dengan keris-keris pada umumnya. "Keris-keris Madiun itu panjangnya sebenarnya sama dengan panjang keris pada umumnya, tapi kesannya memang lebih pendek," kata Teguh Iman Santoso, praktisi keris dari pemerati Tosan Aji Yogyakarta (Mertikarta). Ukuran bilahnya seukurang 4,5 kali panjang gonjo. Kalau panjang gonjo sekitar 8 hingga 9 sentimeter, maka panjang bilahnya sekitar 35 sentimeter. Sedangkan panjang pesi sekitar 7 sentimeter.

Ditambahkan Teguh Iman Santosa, bahwa penilaian kualitas untuk besi keris Madiun tak bisa di-gebyah uyah-disamaratakan. Tak semuanya jelek atau tak semuanya bagus. "Semua tergantung dari zamannya. Bila pada zaman majapahit banyak ditemui keris-keris tangguh Majapahit dengan bahan besi yang padat dan berserat rapat, maka keris-keris Madium juga menggunakan bahan yang mirip atau serupa," Katanya. 
Membabar Keris Tangguh Madiun

Hal senada juga disampaikan Benny Hatmantoro, praktisi keris Pasupati, Solo, bahwa melihat besi keris-keris Madiun harus dilihat sesuai dengan zaman kerajaan yang sedang berkuasa saat itu. Kalau zaman Majapahit, maka besi-besi keris Madiun juga akan mirip dengan keris-keris pada zaman itu. Jenis besi keris Madiun akan memiliki kemiripan dengan besi keris Mataram-kalau dibuat pada zaman Mataram dan seterusnya. Keserupaan ini kemungkinan disebabkan oleh ketersediaan bahan besi yang ada pada masa tersebut dan unsur distribusi dalam wilayah-wilayah kerajaan yang sedang berkuasa. "Maka untuk menangguh suatu keris Madiun, kecocokan dengan besi keris sezaman bisa dijadikan parameter penilain. Kalau mirip dengan besi Majapahit, maka keris Madiun yang dinilai berarti dibuat pada era yang sezaman katanya.

Benarkah semua keris Madiun berbentuk wagu dan lugu? tentu saja, hal ini dibantah mentah-mentah oleh para praktisi keris dari Madiun. Empu Hary dari Paguyuban Pametri Budaya Jawa (PPBJ) Tundhung Madiun, misalnya, mengganggap bahwa pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Ada juga keris-keris Madiun yang bentuk dan garapnya bagus. Hal ini terutama pada awal abad 19-an, banyak keris-keris Madiun yang bermutu baik-yang dibuat oleh para empu dari Desa Sewulan, Dagangan, Madiun Selatan. Dari daerah ini, konon pada tahun 1500-an pernah bermukim Empu Darmo-yang makamnya juga terletak di desa tersebut.

Berdasarkan cerita tutur rakyat, Desa Sewulan merupakan tanah perdikan yang dihadiahkan seorang raja pada akhir Kerajaan Majapahit. Sewulan berasal dari kata Sewu dan Wuwul, Sewu adalah seribu, sedangkan Wuwul sama dengan ukuran tanah yang diperkirakan seluas satu hektar. Jadi kemungkinan Sewulan semula wilayah yang seluas kurang lebih seribu hektar yang dijadikan tanah perdikan-bebas dari pajak atau glondhong pengareng-areng. Konon, pada zaman Demak, ditanah perdikan ini tinggal seorang Empu keris dari kerajaan Islam pertama Jawa itu yang bernama Empu Suro-yang nantinya menurunkan generasi pembuat keris. Empu Suro ini diyakini oleh masyarakat perkerisan sebagai Ki Umyang dari Demak. Pada zaman Mataram Kartasura, Sewulan merupakan salah satu desa di Madiun yang  membuat keris untuk kepentingan keraton tersebut-sekitar pemerintahan Susuhunan Amangkurat II, Susuhunan Amangkurat III, Sunan PB I dan Sunan PB II.

Para Empu Sewulan juga mengalami masa keemasan pada masa Madiun dipimpin oleh Bupati Madiun, Raden Haryo Tumenggung Kusnodiningrat tahun 1900-1929. Karena pada masa itu, semua Lurah di seluruh Kabupaten Madiun mendapat hadiah berupa keris buatan para Empu dari Sewulan. "Sayangnya pada tahun 1970-an, para keturunan Empu yang  tinggal di Sewulan hanya membuat alat-alat pertanian. Mereka menjadi pande besi saja, "tutur Mas Gus, Empu terakhir yang dikenal dari Sewulan adalah Muhammad Slamet yang meninggal pada awal tahun 2000.

Salah Kaprah Sebutan Tangguh Mageti

Sebenarnya, sejumlah keris tangguh Madiun lama, banyak yang menyerupai bentuk-bentuk tangguh Mataram atau lebih tepatnya mirip dengan tangguh Mataram Kartasura. Ini bisa jadi berkaitan erat dengan hubungan masa silam Keraton Mataram Kartasura dengan para Empu keris dari Sewulan, Madiun. Jadi bisa dikatakan, tak sedikit keris-keris Madiun yang mempunyai bentuk dan garap yang istimewa.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Sebenarnya ada juga daerah para Empu di Madiun selain dari Sewulan. Tepatnya di daerah Kota Magetan sekaran. Keris-keris yang dibuat dari tangguh Mageti atau dhapur Mageti. Bahkan ada juga yang menyebut sebagai tangguh Tuban Mageti. Hal ini mungkin karena proporsi bilah kerisnya mirip dengan keris-keris tangguh Tuban.

Keris-keris tangguh ini rata-rata memiliki besi yang lumer, karena tempaan yang matang, memiliki kekerasan yang bagus dan urat besi yang rapat. Bentuknya juga lebih condong ke gaya Mataram. Garapnya rata-rata cukup baik. Gonjo dan wilah keris yang melekat erat seperti iras, tikel alis yang melengkung ke atas dan sejumlah keunikan lain keris Madiun. Hanya saja banyak praktisi keris yang sebenarnya salah kaprah menyebut keris tangguh Mageti. Karena Mageti ini sebenarnya nama seorang pemimpin yang tak ada hubungannya dengan sejarah keris.

Adalah Ki Gede Mageti, seorang tokoh yang diduga berasal dari Surakarta, pada awal abad 19, membabat hutan di wewengkon Kadipaten Madiun, yang nantinya menjadi cikal bakal kota Magetan. Tokoh inilah yang pertama kali membuka daerah dan menjadi penguasa pertama di desa yang kemudian bernama Magetan itu. Di daerah baru bernama Magetan yang semula masih kecil tersebut-yang waktu itu masih di bawah kekuasaan Kabupaten Madiun-ada seorang Empu keris kondhang yang bernama Ki Guno Sasmito.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Keris-keris karya Empu Guno sangat menonjol dalam garapnya dan menggunakan besi yang baik mutunya. Empu ini banyak membuat keris untuk Pangeran Diponogoro dan para panglimanya. Bahkan keris pusaka Basah Sentot Prawirodirdjo, seorang senapati perang dalam keprajuritan Diponogoro yaitu keris Kanjeng Kiai Balewiso adalah bautan Empu Guno ini.

Keris karya Empu Guno juga memiliki ciri khas lain, ya itu kerapatan bilah keris dengan gonjo yang sangat rapat dan ujung pesi yang berbentuk sirah gendelo-kepala capung. Masyarakat perkerisan menyebut ciri ujung pesi ini dengan kembang cengkeh atau ujung tiang bendera. "Saya fanatik sekali dengn karya-karya Mbah Guno. Besinya padat dan garapnya luar biasa, "ujar Mamo, seorang penggemar keris dari Madiun.

Keris-keris karya Empu Guno dan keturunannya inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai tangguh Mageti. "Padahal itu nggak ada hubungannya. Salah itu. Mageti itu nama tokoh pembuka hutan dan perintis Magetan, "ujar Empu Pakurodji, keturunan langsung Empu Guno.

Oleh : RS DANUMURTI (Majalah Keris)