Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Hakekat Keningratan dan Hubungannya dengan Keris

Hakekat Keningratan dan Hubungannya dengan Keris

Hakekat Keningratan dan Hubungannya dengan Keris - Sejak jaman dulu sampai sekarang orang memandang istilah keningratan hanya dari statusnya saja yang adalah anggota kalangan ningrat/bangsawan dan keturunannya saja, sehingga pada jaman sekarang ini yang orang lebih memandang segala sesuatunya dari sisi status, jabatan dan kekayaan, akan banyak menyepelekan istilah dan status keningratan. 


Jika dihubungkan dengan keris dan wahyu keris, dewa dan wahyu dewa, pengertian keningratan tidak sebatas sekedar status orangnya yang ningrat atau keturunan ningrat, tetapi lebih dari itu, ada makna yang lebih dalam daripada hanya itu, karena yang diharapkan oleh para dewa juga lebih dari pada hanya itu.
Dalam sudut pandang para dewa, yang juga terkait dengan wahyu-wahyunya yang diturunkan kepada manusia, keningratan adalah suatu kondisi status dan moral yang sepatutnya dari orang-orang di kalangan itu yang status dan derajat mereka itu menjadi teladan dan panutan bagi banyak orang di lingkungan mereka. Pengertian keningratan ini ada juga hubungannya dengan makna istilah Ksatriya dalam pengertian kasta di masyarakat.

Orang-orang yang menjadi raja / adipati / bupati, anggota keluarganya, kerabatnya dan keturunannya, dan orang-orang yang memegang jabatan pemerintahan kerajaan, kadipaten sampai lurah, umumnya diakui dan dihormati status dan wibawanya di masyarakat, menjadi orang-orang priyayi yang dihormati dan dijadikan teladan dan panutan oleh banyak orang karena perilakunya yang juga terhormat, yang kepada mereka itu orang akan antusias untuk mengabdikan dirinya.

Kalangan ningrat menjaga status dan kehormatan mereka dengan perilaku mereka yang terhormat. Tidak akan mereka menunjukkan perilaku rendah dan tidak terhormat. Perilaku suka mencuri, suka berkata-kata kotor, dsb biasanya tidak ditonjolkan. Dan mereka tidak akan ikut-ikutan masuk ke dalam lingkungan orang-orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain, lingkungan yang penuh dengan iri dan dengki, suka judi, mabuk-mabukan, pelacuran, kemaksiatan, dsb, lingkungan orang-orang yang berkepribadian rendah. Kalangan ningrat akan memelihara wibawa dan kelas pribadinya yang tinggi, menjadi orang-orang yang berkepribadian tinggi, yang baik, yang mulia dan terhormat, dengan perbuatan-perbuatan yang juga berwibawa, baik, mulia dan terhormat, cerminan dari orang-orang yang berkepribadian tinggi. 

Memang ada juga di antara kalangan ningrat itu yang tidak menjaga kehormatan. Ada yang perilakunya jelek seperti disebut di atas, perilaku-perilaku yang tidak terpuji, tidak mulia, hanya menonjolkan statusnya saja sebagai orang ningrat dan kaya. Yang seperti itu diartikan bahwa orang itu memang adalah keturunan ningrat, tetapi orangnya sendiri tidak ningrat, dan tidak menghargai keningratan (tidak menghargai keningratan dirinya sendiri). 

Kepribadiannya rendah, tidak tinggi. Derajatnya rendah sebagai seorang ningrat. 

Sejalan dengan itu yang dimaksud dengan istilah ningrat dan keningratan, dan yang terkait dengan wahyu keris, keris keningratan, dewa dan wahyu dewa, adalah orang-orang ningrat dan keturunan ningrat yang benar-benar menjaga wibawa dan derajat kepribadiannya yang tinggi sebagai seorang ningrat, yang menghargai keningratan dirinya sendiri. Itulah yang dihargai dewa, dan keris-keris keningratan diperuntukkan untuk mereka itu, bukan untuk orang-orang ningrat yang rendah kepribadiannya, yang tidak menghargai keningratan dirinya sendiri, yang keris-keris dan wahyu tidak akan antusias bersama mereka, akan lemah pengaruhnya jika dimiliki oleh mereka.

Sejalan dengan itu, kondisi ideal orang-orang ningrat (dan yang menghargai keningratan) seperti disebut di atas adalah yang dihargai dewa. Karena keris jawa bersifat wahyu, maka apapun jenis keris yang dimiliki oleh orang-orang ningrat dan keturunan ningrat dan yang menghargai keningratan dirinya sendiri itu, walaupun aslinya bukan keris keningratan, semuanya akan mewujud menjadi keris keningratan, wahyunya akan menjadi berkah baginya. 

Tetapi keris-keris itu, yang aslinya bukan keris keningratan, akan kembali lagi kepada kondisi aslinya yang bukan keris keningratan ketika berpindahtangan kepada orang lain yang bukan ningrat dan tidak menghargai keningratan.

Pada jaman sekarang ini pengertian dan istilah ningrat dan keningratan di atas, dan yang terkait dengan keris keningratan, dewa dan wahyu dewa, tetap berlaku. Istilah itu berlaku bukan untuk orang-orang yang hanya sekedar berstatus keturunan ningrat saja, tetapi untuk mereka keturunan ningrat yang menghargai keningratan dirinya sendiri, yang menjaga wibawa dan derajat kepribadiannya yang tinggi dengan perilaku dan perbuatan-perbuatan yang baik dan terhormat. Keris-keris keningratan adalah untuk mereka itu, bukan untuk orang-orang keturunan ningrat yang kepribadiannya rendah, yang tidak menghargai keningratan dirinya sendiri, yang keris-keris tidak akan antusias bersama mereka, akan lemah pengaruhnya jika dimiliki oleh mereka.

Sejalan dengan itu, apapun jenis keris yang dimiliki oleh orang-orang jaman sekarang yang keturunan ningrat dan yang menghargai keningratan dirinya sendiri, walaupun aslinya bukan keris keningratan, semuanya akan mewujud menjadi keris keningratan, wahyunya akan menjadi berkah baginya. 

Tetapi keris-keris itu, yang aslinya bukan keris keningratan, akan kembali lagi kepada kondisi aslinya yang bukan keris keningratan ketika berpindahtangan kepada orang lain yang bukan ningrat dan tidak menghargai keningratan.
Wahyu Keris Jawa di Jaman Sekarang

Wahyu Keris Jawa di Jaman Sekarang

Wahyu Keris Jawa di Jaman Sekarang - Secara umum semua keris mengandung sifat-sifat wahyu wibawa dan derajat dan wahyu spiritual / kesepuhan yang masing-masing sifat wahyunya itu akan menyesuaikan dirinya dengan orang si pemilik keris, yang akan membantu mengangkat derajat orangnya sesuai jalan kehidupannya masing-masing, baik orangnya di dalam dirinya memiliki wahyu ataupun tidak. Keris-keris itu bersifat umum, boleh dimiliki oleh orang kebanyakan.


Tetapi keris-keris di atas adalah keris-keris yang bersifat khusus, yang sifat-sifat khusus wahyu di dalamnya, wahyu keraton, kepangkatan dan derajat dan wahyu keningratan tidak bisa begitu saja diterima oleh semua orang yang menjadi pemilik kerisnya. Keris-keris itu hanya akan bekerja kegaibannya, hanya akan menyatu dan memberikan tuahnya kepada orang-orang tertentu saja yang cocok untuk menjadi wadah wahyunya.

Pada masa sekarang ini keris-keris di atas masih berfungsi dan bertuah yang sama bila keris-keris itu dimiliki oleh orang-orang yang memiliki wahyu keraton, kepangkatan dan derajat dan wahyu keningratan. Tetapi bila pemiliknya tidak memiliki wahyu-wahyu tersebut, maka keris-keris itu menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang sekarang, yaitu mewujud menjadi Keris Keningratan. 

Jadi selain yang aslinya adalah keris keningratan, keris keningratan pada jaman sekarang ini bisa adalah perwujudan dari keris di atas, di dalamnya terkandung berbagai macam jenis wahyu, baik wahyu keraton, kepangkatan dan derajat, wibawa dan derajat, spiritual dan kesepuhan, dan wahyu keningratan itu sendiri, tetapi semua wahyu itu akan mewujud menjadi wahyu keningratan saja. 

Jadi secara umum semua jenis keris tersebut di atas adalah yang pada masa sekarang disebut Keris Keningratan , yaitu keris-keris yang bersifat khusus yang hanya patut dimiliki oleh orang-orang tertentu saja yang sesuai dengan tujuan keris-keris itu diciptakan, bukan untuk orang kebanyakan.

Keris-keris di atas mau mengikut / dimiliki oleh seorang keturunan ningrat, tetapi hanya akan berlaku sebagai keris keningratan saja jika orangnya tidak memiliki wahyu keraton, wahyu kepangkatan dan derajat atau wahyu keningratan di dalam dirinya.

Masing-masing sifat wahyu di dalamnya akan menyesuaikan dirinya dengan karakter, kepribadian, status dan jalan kehidupan orang si pemilik keris, sehingga si pemilik keris tidak akan menerima keseluruhan sifat-sifat wahyunya itu, yang akan diterimanya hanyalah yang sejalan saja dengan kepribadian dan jalan hidupnya (dan interestnya).

Sebagai keris keningratan sisi kegaiban di dalamnya membawakan sifat-sifat wahyu keningratan yang akan menjadikan manusia pemiliknya tampak elegan, berwibawa dan penuh karisma keagungan. Jika sudah terjadi keselarasan dengan pemiliknya, keris-keris itu akan membantu mengangkat derajat hidup pemiliknya kepada derajat yang tinggi dan kemuliaan.

Pengertian keris keningratan tidak diartikan sebagai semua keris yang dulunya pemiliknya adalah seorang bangsawan / ningrat. Keris apapun bisa saja pemiliknya dulu adalah seorang ningrat / bangsawan, atau raja, tetapi kerisnya itu sendiri belum tentu adalah keris keningratan.

Secara sempit pengertian keris keningratan adalah keris-keris yang pembuatannya dulu hanya ditujukan untuk kalangan ningrat saja, bukan untuk orang lain yang tidak ada garis keturunan ningrat. Tetapi secara umum pada jaman sekarang ini yang tergolong sebagai keris keningratan adalah semua jenis 
Hierarki Kelas Keris Pusaka dan Wahyunya

Hierarki Kelas Keris Pusaka dan Wahyunya

Hierarki Kelas Keris Pusaka dan Wahyunya - Keris-keris yang paling tinggi bersifat khusus adalah yang disebut Keris Keraton. Keris keraton adalah keris yang paling tinggi tingkatannya dan bersifat khusus, hanya untuk orang yang memiliki wahyu keraton saja di dalam dirinya.


Pengertian keraton bukanlah semata-mata sebuah bangunan keraton yang menjadi istana raja/adipati/ bupati. Sebuah keraton melambangkan kebesaran sebuah pemerintahan. Bangunannya sendiri hanyalah simbol saja dari adanya sebuah pemerintahan. 

Pengertian keraton terbagi dalam 3 tingkatan, yaitu keraton kerajaan, keraton kadipaten dan keraton kabupaten, sehingga pengertian keraton ini meliputi, sesuai tingkatannya masing-masing, kekuasaan dan kebesaran pemerintahan sebuah kerajaan, kadipaten dan kabupaten.
Dan yang dimaksud sebagai Keris Keraton bukanlah semua keris yang dimiliki oleh sebuah keraton, bukan semua pusaka kerajaan dan bukan semua keris yang menjadi perbendaharaan sebuah keraton dan disimpan di dalam ruang pusaka kerajaan.

Keris Keraton adalah keris/tombak/payung raja atau pusaka bentuk lain yang di dalamnya terkandung Wahyu Keraton yang dalam pembuatannya khusus ditujukan untuk dipasangkan dengan wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan (wahyu keraton) yang sudah ada pada orang yang menjadi pemimpin di sebuah keraton untuk nantinya menjadi pusaka lambang kebesaran keraton tersebut (kerajaan, kadipaten/kabupaten).

Sebuah keris keraton baru akan menyatu dan memberikan tuahnya kepada seorang manusia pemiliknya yang memiliki wahyu keraton di dalam dirinya, atau kepada seorang pemiliknya yang cocok untuk menjadi wadah wahyunya.

Keris Keraton  dan  Keris Pusaka Kerajaan sulit membedakannya. 

Di dalam sebuah Keris Keraton terkandung di dalamnya apa yang disebut Wahyu Keraton. Orang harus memiliki spiritualitas yang tinggi untuk bisa membedakan kandungan wahyu di dalam masing-masing keris untuk bisa membedakan mana yang adalah Keris Keraton yang mengandung wahyu keraton di dalamnya dan mana yang bukan Keris Keraton tetapi dijadikan Pusaka Kerajaan dan diperlakukan sama seperti sebuah Keris Keraton.

Sebuah Keris Keraton tidak boleh dipakai oleh sembarang orang, termasuk walaupun ia adalah anak seorang raja. Hanya orang-orang yang dirinya sudah menerima wahyu keraton saja yang boleh memakainya, sehingga wahyu yang sudah ada di dalam orang itu dan wahyu dari kerisnya akan mewujudkan sebuah sinergi kegaiban, yang kegaibannya tidak akan bisa disamai oleh jenis pusaka apapun. 

Keris Keraton yang dalam pembuatannya khusus ditujukan untuk menjadi pusaka lambang kebesaran sebuah keraton (kerajaan, kadipaten / kabupaten), yang maksud pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan wahyu keraton atau wahyu kepemimpinan kenegaraan yang sudah ada pada diri seseorang, memiliki tuah yang luar biasa, yang tidak bisa disejajarkan dengan keris-keris yang umum ataupun jimat-jimat dan mustika. Selain biasanya kerisnya berkesaktian tinggi, tuah dan wibawanya pun tidak sebatas hanya melingkupi diri manusia pemakainya, tetapi melingkupi suatu area yang luas yang menjadi wilayah kekuasaan yang harus dinaunginya. Biasanya isi gaibnya juga adalah raja dan penguasa di alamnya. Karakter isi gaibnya menyerupai perwatakan wahyu keprabon yang menjadikan para mahluk halus dan manusia di dalam lingkup kekuasaannya menghormati si keris dan si manusia sebagai pemimpin dan penguasa di wilayah itu.

Contoh Keris Keraton adalah Keris Nagasasra dan Keris Sabuk Inten, sepasang keris yang dulu menjadi lambang kebesaran keraton Majapahit. 

Setelah masa kerajaan Majapahit berakhir dan kekuasaan pemerintahan berpindah ke kerajaan Demak, sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten juga diambil dan dipindahkan ke Demak, dijadikan lambang kebesaran kerajaan Demak, tetapi sayangnya, di Demak itu wahyu kerisnya tidak bekerja.

Contoh pusaka yang dijadikan Pusaka Kerajaan adalah pusaka Bende Mataram yang dulu digunakan oleh kerajaan Mataram (Panembahan Senopati) untuk menaikkan semangat tempur prajurit Mataram, sekaligus ditujukan untuk merusak psikologis musuh, pada saat tentaranya berperang melawan tentara kerajaan Pajang (Sultan Adiwijaya).

Contoh Pusaka Kerajaan lainnya adalah pusaka tombak Kyai Plered yang dijadikan pusaka lambang kerajaan Mataram, sebuah pusaka yang dulu diberikan oleh Adipati Adiwijaya (Sultan Adiwijaya) kepada Sutawijaya sebagai bekal untuk mengalahkan Raden Arya Penangsang, yang kemudian mengantarkan Sutawijaya menjadi penguasa Mataram (Panembahan Senopati).


Keris Keraton mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton. 

Sesuai sebutannya sebagai Keris Keraton, keris-keris itu mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton, yaitu wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan, yang akan dapat mengantarkan si manusia pemilik keris kepada posisi yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja / kepala negara, atau kepala daerah, sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya). 

Keris-keris keraton ini sulit dibedakan jika kita hanya melihat bentuk fisiknya saja, karena hanya bisa diketahui dengan memeriksa kandungan wahyu keris di dalamnya. Karena itu orang harus memiliki spiritualitas yang tinggi untuk bisa membedakan kandungan wahyu di dalamnya, untuk bisa membedakan mana yang sungguh-sungguh keris keraton dan mana yang bukan, walaupun bentuk kerisnya sama.

Sampai sekarang keris-keris keraton tetap menjadi keris keraton, yaitu keris-keris yang mengandung di dalamnya wahyu keraton, wahyu kepemimpinan pemerintahan / kenegaraan, yang akan dapat mengantarkan si manusia pemilik keris kepada posisi dan derajat yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja / kepala negara (presiden) atau kepala daerah (adipati / bupati), sesuai masing-masing kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya).

Tetapi sebuah keris keraton hanya akan bekerja kegaibannya, baru akan menyatu dan memberikan tuahnya, kepada seorang manusia pemiliknya yang sudah memiliki wahyu keraton di dalam dirinya. 

Tetapi pada masa sekarang ini jenis keris keraton mau juga mengikut / dimiliki oleh seorang keturunan ningrat, tetapi hanya akan berlaku sebagai keris keningratan saja, bukan lagi keris keraton, jika orangnya tidak memenuhi syarat sebagai seorang pemilik keris keraton. 

Di bawah tingkatan keris keraton adalah keris-keris lain yang mengandung di dalamnya apa yang disebut wahyu kepangkatan dan derajat, yaitu wahyu yang akan dapat mengantarkan manusia si pemilik keris kepada posisi / derajat yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat atau daerah sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya). Keris-keris itu selain akan menaikkan pangkat dan jabatan orangnya juga supaya orang si pemilik keris dalam setiap aktivitas / pekerjaannya mendukung orang lain atasannya si penerima wahyu keraton.


Sifat-sifat wahyu kepangkatan dan derajat itu selain wahyu itu akan menaikkan derajat orangnya sendiri, juga akan membantunya memperlancar urusan-urusan kepemimpinan dan akan juga menaikkan derajat / martabat orang atasannya si penerima wahyu keraton di mata umum.

Keris-keris yang mengandung wahyu kepangkatan dan derajat ini juga sulit dibedakan jika kita hanya melihat bentuk fisiknya saja, karena hanya bisa diketahui dengan memeriksa kandungan wahyu keris di dalamnya.

Secara umum keris-keris dan pusaka yang mengandung wahyu kepangkatan dan derajat ini adalah keris-keris yang dulu menjadi keris raja atau menjadi pusaka kerajaan, dan pusaka kerajaan / kadipaten / kabupaten berbentuk tombak dan payung yang biasanya diletakkan berdiri di belakang singgasana. Dalam kategori ini termasuk juga, sesuai tingkatannya masing-masing, pusaka-pusaka keris, tombak dan payung yang menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran seorang bangsawan yang memiliki status dan jabatan di dalam lingkungan kerajaan, kadipaten, kabupaten, kademangan, dsb.

Keris-keris yang mengandung di dalamnya wahyu kepangkatan dan derajat akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi / jabatan yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat atau daerah sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya). Tetapi keris-keris itu hanya akan bekerja kegaibannya jika sudah berada di tangan orang-orang tertentu saja yang sudah memiliki wahyu kepangkatan dan derajat atau wahyu keningratan di dalam dirinya.

Jika sudah berada di tangan orang-orang yang tepat sesuai peruntukkan kerisnya keris-keris itu akan dapat mengantarkan orang-orang itu kepada pangkat dan derajat yang tinggi menjadi tangan kanan atau bawahan langsung dari orang si penerima wahyu keraton. 

Tingkatan di bawahnya lagi adalah Keris Keningratan, yaitu keris-keris lain yang tujuan pembuatannya dulu adalah hanya untuk dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan/bangsawan, bupati/ adipati (kalangan ningrat) dan keturunannya saja. Sampai sekarang pun keris-keris keningratan akan bekerja kegaibannya hanya bila dimiliki oleh orang-orang keturunan ningrat saja.

Keris keraton adalah keris keningratan yang paling tinggi tingkatannya dan bersifat khusus, hanya untuk orang yang memiliki wahyu keraton saja di dalam dirinya. 

Keris keningratan adalah turunan dari keris keraton (derajat yang lebih rendah daripada keris keraton). Keris keningratan lebih bersifat umum, boleh dimiliki oleh siapa saja sepanjang dirinya adalah ningrat atau keturunan ningrat.

Sebagai keris keningratan sisi kegaiban di dalamnya membawakan sifat-sifat wahyu keningratan yang akan menjadikan manusia pemiliknya tampak elegan, berwibawa dan penuh karisma keagungan. Jika sudah terjadi keselarasan dengan pemiliknya, keris-keris itu akan membantu mengangkat derajat hidup pemiliknya kepada derajat yang tinggi dan kemuliaan.
Hierarki Status dan Kelas Jeny Melanie

Hierarki Status dan Kelas Jeny Melanie

Hierarki Status dan Kelas Jeny Melanie - Sesuai status pemiliknya di masyarakat, keris mempunyai status dan kelas sendiri-sendiri. Keris mempunyai status dan kelas sendiri-sendiri, sebagiannya merupakan keris-keris khusus yang secara umum pada masa sekarang masuk dalam kategori Keris Keningratan sebagai berikut :


1. Keris Pusaka Kerajaan.
Tingkatannya :
  • Keris Keraton, adalah keris-keris dan pusaka-pusaka bentuk lain (tombak, payung raja) yang terkandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton yang maksud dan tujuan pembuatannya dikhususkan untuk nantinya dipasangkan dengan orang si penerima wahyu keraton, untuk menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran sebuah keraton.
  • Keris / Pusaka Kerajaan, adalah keris dan pusaka-pusaka lain yang bukan keris keraton, tidak mengandung Wahyu Keraton, tetapi oleh pemerintahan kerajaan diperlakukan seperti keris keraton, dijadikan lambang kekuasaan dan kebesaran kerajaan atau diandalkan untuk mengamankan kerajaan dari gangguan kerusuhan, pemberontakan atau serangan / gangguan gaib.
Keris-keris dan pusaka tersebut di atas biasanya disimpan di dalam ruang khusus pusaka kerajaan dan tempatnya disendirikan, terpisah dari pusaka-pusaka yang lain dan baru akan dikeluarkan bila ada upacara-upacara kerajaan atau bila terjadi situasi yang mendesak dan berbahaya. 

Keris keraton dan pusaka kerajaan berbentuk tombak dan payung raja, yang juga merupakan lambang kebesaran sebuah keraton biasanya diletakkan berdiri di belakang singgasana raja.

Dalam kategori keris keraton dan pusaka kerajaan ini termasuk juga, sesuai tingkatannya masing-masing, pusaka-pusaka yang menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran sebuah keraton kadipaten / kabupaten.

2. Keris Raja.  
Keris raja ada 3 macam, yaitu : 
  • keris yang menjadi pegangan / piyandel sang raja sehari-hari (bersifat pribadi dan dipakai oleh sang raja sehari-hari). 
  • keris yang merupakan keharusan untuk dimiliki oleh seorang raja (biasanya dikenakan dalam upacara-upacara kerajaan). 
  • keris yang diberikan / dipersembahkan oleh orang lain kepada raja.

Selain yang sehari-harinya dikenakan oleh sang raja, keris-keris lainnya disimpan dalam ruang pusaka kerajaan.

3. Keris Keningratan.

Keris-keris ini adalah yang secara khusus dibuat hanya untuk kalangan ningrat saja, bukan untuk orang umum, yang hanya boleh dimiliki oleh raja, keluarga raja dan kerabat kerajaan, bangsawan adipati / bupati dan anggota keluarganya saja (kalangan ningrat) dan keturunan mereka. 

Keris keningratan adalah turunan dari keris keraton (derajat yang lebih rendah daripada keris keraton), tetapi keris keningratan lebih bersifat umum, boleh dimiliki oleh siapa saja sepanjang dirinya adalah kalangan ningrat. Selain mereka itu bahkan menteri kerajaan, panglima, senopati dan prajurit, tumenggung, demang dan lurah, dan orang-orang kaya, yang tidak memiliki garis kebangsawanan / keningratan dan bukan kerabat kerajaan, tidak boleh memilikinya, apalagi rakyat biasa.

Ada jenis-jenis keris keningratan yang dibuat dengan memiliki bentuk / tanda tersendiri untuk mencirikan statusnya yang adalah keris keningratan, seperti keris-keris berdapur nagasasra dan keris-keris berdapur Singa Barong, keris pandawa dan keris pulanggeni luk 5, dan keris-keris / tombak lain yang ber-luk lima.

Keris-keris berdapur nagasasra hanya patut dimiliki oleh seorang raja dan anggota keluarga raja saja. Keris-keris berdapur singa barong untuk kelas di bawahnya, yaitu untuk adipati / bupati dan keluarganya.
Ciri Keris Surakarta

Ciri Keris Surakarta

Ciri Keris Surakarta - Keris-keris gaya Surakarta sangat mudah dikenali. Selain bentuknya yang terkesan gagah dan lebih panjang ketimbang keris-keris Jawa pada tangguh-tangguh sebelumnya. juga memiliki ciri-ciri yang khas. Bentuk bilahnya yang seperti daun pohung dan ujungnya yang mbuntut tuma-ekor kutu rambut-adalah ciri utama keris-keris tangguh Surakarta. 


Secara teknik, bilah keris tangguh Surakarta agak panjang dibandingkan keris tangguh Mataram atau Majapahit. Keris tangguh dua kerajaan besar di Jawa ini mempunyai panjang antara 33-35 cm, maka keris tangguh Surakarta lebih panjang sedikit yaitu antara 35-38 cm. Bilahnya berbentuk daun singkong dengan ketebalan sekitar dua kali lipat keris-keris pada umumnya dan gendut di tengah menyerupai badan kadal bunting (ngadal meteng). Bentuk ganja-nya agak melengkung dan sirah cicaknya tidak begitu meruncing pada ujungnya. Gulu meled dan wetengan-nya berukuran sedang. 
Pamornya relatif rumit, lembut dan biasanya merata di seluruh permukaan bilah. Pamor miringnya sangat rapi, serta jalur pamor tidak bertindihan satu sama lainnya. Penampilan keris terlihat kokoh, gagah dan meyakinkan.

Ada beberapa detil yang memang khas keris Surakarta, misalnya posisi dho-nya yang sangat wangun (elok) dan pas, berurutan membentuk suatu greneng yang luwes. Keris-keris gaya Surakarta memiliki pamor yang sangat beragam. Yang banyak ditemui adalah pamor-pamor seperti Wos Wutah, Pendaringan Kebak, Ron Ganduru, Wengkon, Raja Rangsang, Kara Welang dan Lar Gangsir.

Keris-keris klasik karya empu zaman Kerajaan Surakarta lama, biasanya memilih dhapur-dhapur populer seperti Sengkelat, Naga, Parungsari atau bahkan keris-keris kalawijan (jumlah luk di atas 13). Demikian pula dalam hal sandangan, keris Solo banyak yang bertatahkan berlian, warangka kayu cendana wangi, pendhok emas/selaka, mendhak intan dan selut berlian. Selain itu, badan keris pun tidak jarang yang berukir emas (tinatah atau sinarasah emas)-dari ganja sampai ujung bilahnya.

Menurut Kanjeng Pangeran Haryo Adipati (KHPA) Sosronagoro, kerabat Kesunanan Surakarta. "Keris Surakarta itu sebenarnya hanya mutrani (membuat ulang bentuk) dari keris yang ada dari tangguh-tangguh sebelumnya. Namun meskipun mutrani, titih garap-nya bisa berbeda, karena masing-masing zaman berbeda."

Pada masa Sunan Paku Buwono II hingga Sunan Paku Buwono IV, ciri keris Surakarta bisa saya sebutkan antara lain pada pesi selalu ada tanda tambah atau plus (+). Yang penting lagi, di tengah bilah keris, di dalamnya, terdapat besi sebagai penguat. Karena itu tidak heran kalau keris Brojoguna itu bisa menembus koin logam. Perlu diingat, dhapur keris Brojoguna itu sebagian besar lurus atau jarang yang ber-luk.

Kekhasan lainnya, ujung keris Surakarta itu mbutut tuma. Pada masa Sunan PB IV hingga Sunan PB IX, bentuk keris Surakarta itu mbangkek atau mempunyai bangkekan (pinggang) atau nggodong andong. Padahal pada zaman Sunan PB III, keris Surakarta belum berbentuk seperti itu-tidak mbangkek.

Keris Surakarta juga dikenal lebih panjang, terutama mulai zaman SunanPB IV, sehingga seringkali disebut corog (keris besar). Panjangnya kurang lebih antara 37 cm atau 38 cm. Sementara ujung ganja-nya gulu cecak tidak dalam dan weteng cecaknya tidak gemuk. Hal ini berkebalikan dengan keris Yogyakarta yang mempunyai gulu cecak dalam dan weteng cecak gemuk. Dalam hal ini, keris Surakarta sering disebut dengan rata bawang sebungkul.

Keris-keris yang lahir pada masa Sunan PB IV sampai Sunan PB IX memiliki fisik lebih panjang dibanding keris-keris pada tangguh sebelumnya. Namun setelah zaman itu lewat, yaitu pada zaman Sunan PB X memerintah, maka bentuk keris-kerisnya kembali kepada ukuran pendek, kurang lebih panjangnya hanya 34 cm sampai 35 cm. Model ini mengambil gaya Majapahit."Saya tidak tahu pasti sebabnya, tapi mungkin ini hanya soal selera Sinuhun PB X saja." jelas KPHA Sosronagoro.


Materi keris Surakarta juga lebih bagus dibanding keris-keris lain, karena memang wilayah Surakarta menyediakan besi, baja dan meteor yang bagus secara kwalitas. Beberapa jenis besi yang bagus itu, diantara lain, karang kijang, kamboja, malela dan balebang. Mulai PB IX hingga 

PB XII, bahan keris banyak yang menggunakan bale lumur yaitu besi dari meriam yang rusak atau pecah (Barangkali istilah bale lumur adalah salah ucap dari kata baltimore, sebuah kota di Inggris yang pada masa silam merupakan pusat pembuatan senjata termasuk meriam). Pada masa sebelum PB IX banyak empu yang menggunakan besi malela untuk bahan keris.

Mengenal pamor pada keris Surakarta lebih jelas, lebih detil dan lebih penuh di sepanjang wilah-nya. Pamor keris Surakarta juga banyak kreasinya. Hal ini karena Surakarta atau wilayah Solo mempunyai cadangan pamor yang banyak, salah satunya meteor yang jatuh di kawasan Prambanan pada zaman PB II. Meskipun beragam, namun keris Surakarta banyak yang memakai pamor Pendaringan Kebak, Udan Mas, dan Wengkon Isen. Terutama pada masa-masa PB IX dan sesudahnya. "Hal itu mungkin kerena pada saat itu bukan lagi zaman peperangan, sehingga keraton mulai tenang dan ekonomi lebih tertata. Oleh karena itu, keris-keris dibuat dengan pamor-pamor yang melambangkan kemakmuran," jelas Sosronagoro.

Sementara menurut Ady Sulistyono Ketua Paguyuban Sutrisno Lan Pangrukti Tosan Aji (Pasupati) Solo, keris Surakarta lebih berkiblat pada tangguh sepuh, seperti Jenggala. Ini tampak dari condong leleh yang mempunyai sudut kemiringan 80 derajat. Panjang keris Surakarta itu 4,5 kali panjang ganja, hasilnya sekitar 36 cm hingga 37 cm. Kalau tebalnya ya ideal dengan panjang bilahnya. Dibanding keris Yogyakarta atau tangguh-tangguh sebelumnya, keris Surakarta memang lebih panjang sekitar 1 cm atau 2 cm.

Bentuk keris Surakarta biasanya mbangkek. Sedangkan ciri-ciri lainnya, antara lain, pamor memenuhi bilah, kemudian adanya gendakan (pola pamor akibat pola pukulan yang beraturan). Pamor wengkon isen banyak digunakan untuk keris Surakarta. Ujung keris Surakarta itu mucuk tuma, sedangkan dari segi slorok cenderung berwarna kehijauan. Kalau keris Yogyakarta cenderung kehitaman. Dalam proses pembuatannya, besi mengalami wasuhan (ditempa dan dilipat-lipat). "Pada bilahnya terdapat ada-ada, gusen dan gula milir. Bilah keris Yogyakarta tidak mempunyai itu. Ciri lainnya, bentuk pesi (besi yang masuk ke ganja), dari pangkal hingga ujung mempunyai ketebalan (diameter) yang sama," jelas Ady Sulistyono.


Salah satu ciri khas keris Surakarta, terutama karya Empu Brojoguna adalah besi yang diletakkan di dalam bilahnya. Besi ini berguna untuk memperkuat dan memperkokoh keris. Jadi benar kalau keris Brojoguna itu lebih kuat dari keris lain, bisa menembus logam. Hal itu bukan karena ujungnya runcing, tetapi karena bilahnya diisi besi sehingga kuat," terang Ady.

Soal pamor, keris Surakarta biasanya mempunyai jenis pamor mlumah, misalnya semu kulit semangka, wosing wutah. Tapi ada juga jenis pamor yang miring. Pada keris luk, biasanya mempunyai luk yang rengkol (dalam), seperti ula nglangi (bentuknya seperti ular yang sedang berenang). Sementara kalau keris Surakarta memakai kembang kacang, biasanya bentuknya nggelung wayang. Keris Surakarta jika memakai tungkakan, maka sudutnya mbeung (tidak lancip). Ganja keris Surakarta biasanya berpamor maskumambang. Sedangkan ekor ganja melebar. Pada keris Surakarta, gandik-nya tidak terlalu miring dan lekukan di atas gandik tidak terlalu dalam.

Sumber : Majalah Keris-Vol 19 2010
SNKI Telusuri Sejumlah Warisan Keris Peninggalan Teuku Umar Hingga Diponegoro

SNKI Telusuri Sejumlah Warisan Keris Peninggalan Teuku Umar Hingga Diponegoro

SNKI Telusuri Sejumlah Warisan Keris Peninggalan Teuku Umar Hingga Diponegoro - Sejumlah pusaka warisan sejumlah tokoh dan pejuang Indonesia tersimpan di sejumlah lokasi di Belanda. 


Warisan itu di antaranya sejumlah keris peninggalan tokoh Indonesia seperti Teuku Umar hingga Pangeran Diponegoro, yang masih tersimpan dengan rapi dan aman di sejumlah lokasi di Belanda.

Dalam kaitan itu, Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi untuk menemui sejumlah orang yang sebagian di antaranya merupakan ahli keris.

Kunjungan untuk menemukan barang berharga Indonesia itu di antaranya seperti disimpan di Museum Volkenkunde di Leiden. Warisan sejumlah pusaka asal Indonesia itu dikelola oleh Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen.

Sejumlah warisan itu, menurut Ketua Umum SNKI, Dr Fadli Zon SS MSc, merupakan benda-benda yang mempunyai nilai sangat tinggi sebagai benda seni dan pusaka.


"Kami berharap, sejumlah pusaka itu bisa dirawat dengan sebaik-baiknya, harapannya, benda pusaka itu bisa menjadi warisan penting peradaban Indonesia untuk dunia," katanya.

Menurut Usman Effendi, yang merupakan pakar dan pencinta keris, sejumlah keris tersebut bukan dinilai dari unsur keindahan saja.

"Ada banyak kolektor keris di Belanda seperti di antaranya dilakukan oleh Theo Alkema, Willem Zwiep," katanya.

Sebagaimana pernah disampaikan oleh seorang dalang R Hadiwijoyo yang menyatakan, sejumlah motivasi orang mengoleksi keris di antaranya terkait dengan warisan peradaban sampai harganya yang sangat mahal.


"Bahkan, ada yang rela membeli sebilah keris dengan harga Rp 1,7 miliar," kata Rohmad Hadiwijoyo dalam akun pribadi bernama RHadiwijoyo di Twitter.

"Ada banyak ragam alasan kenapa orang mengoleksi keris. Ada yang kagumi hasil seni luhur dan warisan peradaban," katanya.

Estetika dan nilai keris di antaranya bisa dilihat melalui pamor keris tersebut. Sebagian keris bernilai mahal karena beberapa alasan di antaranya terkait dengan isi keris tersebut karena dihiasi permata, disepuh emas, ukiran, dan presisinya yang memukau.

Benda pusaka yang pernah dimiliki sejumlah tokoh seperti Hamengku Buwono IV, Teuku Umar, dan Pangeran Diponegoro di antaranya merupakan keris, yang dikagumi banyak kalangan yang berkunjung ke sejumlah lokasi tersebut.


Kolektor keris dan merupakan pakar keris, Theo Alkema mengoleksi keris sajen dan sempat menuangkan kepiawaiannya terkait keris tersebut dalam buku Iron Ancestors Kris.

Theo sendiri banyak mengoleksi keris sebagai koleksi pribadi dengan jumlah sekitar 200 keris dari berbagai masa, khususnya dari era Majapahit. Theo mempunyai spesialisasi mengoleksi keris sajen yang berasal dari Kerajaan Majapahit.

Bentuk keris sajen sangat unik dan mempunyai nilai estetika yang mengagumkan karena gagangnya merupakan wujud dari manusia, yang dibentuk sedemikian rupa.

Sumber : Warta Kota
Proses Pembuatan Keris-keris Pusaka Raja-Raja Jawa

Proses Pembuatan Keris-keris Pusaka Raja-Raja Jawa

Proses Pembuatan Keris-Keris Pusaka Raja-Raja Jawa - Keris bagi masyarakat Jawa dipandang dan diperlakukan sebagai simbol dan juga status bagi pemiliknya. 

Hampir setiap keluarga aristokrat Jawa, dapat dipastikan memiliki keris pusaka keluarga, yang memiliki keampuhan-keampuhan yang khas atau keistimewaan khusus dalam dapur, ricikan, maupun katiyasan atau sabda doanya. Terlebih keris pusaka bagi raja-raja di tanah Jawa. 


Ada beberapa keris pusaka milik raja-raja di tanah Jawa yang sangat dikenal oleh masyarakat diantaranya Keris Mpu Gandring. 

Keris ini adalah salah satu pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singasari. 

Pusaka ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan keluarga Raja Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, Ken Arok.

Berdasarkan satu legenda keris ini dibuat seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok. 

Dalam satu cerita disebutkan kalau keris tersebut dibuat dalam waktu beberapa bulan sementara di kisah lainnya dikatakan keris tersebut dibuat dalam satu hari. 

Namun konon Mpu Gandring melakukan tirakat, puasa dan upacara khusus sebelum memilih bahan untuk membuat keris tersebut agar keris tersebut bertuah. 

Mpu Gandring memilih batu meteor sebagai bahan untuk kerisnya sehingga memiliki aura yang tinggi. 

Setelah, keris terbentuk, Mpu Gandring mencelupkan keris (yang masih panas) tersebut ke dalam bisa ular. 

Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna dan memiliki kemampuan supranatural Mpu Gandring lalu ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan membuat sarung keris tersebut. 


Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok telah datang untuk mengambilnya. 

Kemudian Ken Arok langsung merebut keris tersebut untuk mengujinya sebelum dia gunakan.

Ken Arok lalu mengujinya dengan menyabetkan keris tersebut ke lumpang yang terbuat dari batu lalu terbelah jadi dua. 

Setelah itu keris disabetkan ke arah paron (alas untuk menempa besi). Paron pun pecah berkepingan dan terakhir keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat). 

Namun dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. 

Dalam perjalanannya, keris tersebut telah merenggut beberapa nyawa yaitu Tunggul Ametung, Ken Arok, Anusapati dan beberapa keturunan Ken Arok. 

Selain Keris Mpu Gandring terdapat pula Keris Kiai Condong Campur. Keris ini adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda. 

Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari batu meteor dan bahan logam yang diambil dari berbagai tempat di perut bumi. 

Sehingga keris perpaduan antara bahan dari angkasa dan bumi ini memiliki kharisma sangat kuat tetapi juga memiliki aura yang negatif.  

Dalam Babad Tanah Jawa, keris ini diyakini menghilang di angkasa saat akhir kekuasan Majapahit atas nusantara dan digantikan Kesultanan Demak Bintoro. 

Selain itu ada Keris Kiai Sangkelat. Keris luk tiga belas ini dibuat pada jaman Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri.

Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. 

Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang. Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama Kiai Sengkelat. Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan Ampel.

Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. 

Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.

Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kiai Sengkelat. 

Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton. 

Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan akhirnya berhasil dicuri.

Lalu ada Keris Kanjeng Kiai Jenang Kunto yang dibuat di zaman kerajaan Mataram.  Saat itu, Raja Mataram memerintahkan semua penduduknya menyetor masing-masing sebuah jarum ke keraton. Ini dilakukan untuk sensus penduduk guna mengetahui jumlah warga di Mataram.

Dengan meminta jasa empu Ki Supo Enom (Ki Nom), jarum sebanyak jumlah warga di negeri Mataram itu, kemudian dibuat keris. Sehingga jadilah sebilah keris yang diberi nama Kanjeng Kiai Jenang Kunto.

Lalu ada Keris Kanjeng Kiai Pamor. Keris ini merupakan salah satu pusaka Keraton Surakarta Hadiningrat yang dibuat pada zaman Paku Buwana IV. 

Senjata ini dibuat dari sisa batu meteor yang jatuh di sekitar Candi Prambanan pada 1801. Keistimewaan senjata ini dapat menembus logam jika ditusukan. 

Keris Kanjeng Kiai Pakumpulan. Keris ini juga merupakan pusaka Keraton Surakarta Hadiningrat yang dibuat Empu Brojoguna saat zaman Raja Surakarta dipimpin Paku Buwana (PB) VI. 

PB VI memerintahkan semua bedug di tanah Jawa dikumpulkan. Setelah terkumpul, paku bedugnya dipakai untuk bahan membuat Keris Kanjeng Pakumpulan. 

Sehingga setelah selesai keris ini diyakini keampuhannya karena bahannya diambil dari tempat suci umat Islam yang telah didoakan selama bertahun-tahun.
Wujud Keris 'Raja' Milik Fadli Zon yang Dipamerkan di DPR

Wujud Keris 'Raja' Milik Fadli Zon yang Dipamerkan di DPR

Jakarta - Wakil Ketua DPR Fadli Zon memamerkan puluhan keris Bali dan Lombok miliknya. Salah satu keris yang dipamerkannya itu adalah keris yang biasa dimiliki oleh raja pada masa kerajaan dulu.


Setidaknya ada 20 keris Fadli di 'Pameran Keris Nasional: Pesona Keris Bali dan Lombok' yang digelar di DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/3/2017). Salah satunya adalah Keris Pandawa Lare yang berasal dari suku Sasak, Lombok.

"Ini pamor Raja Abalaraja, biasanya dipakai oleh raja. Keris itu kan tanda bahasa sosial, yang mempengaruhi psikologi seseorang," ujar kurator keris Basuki Teguh Yuwono di lokasi pameran.

Berjenis keris pusaka, keris milik Fadli ini memiliki adeg/tangguh Lombok Jawa (Sunda Majapahit). Kemudian angun-angun Pandawa Lare Luk-5 dengan rerincikan idung, jlamer, pijetan, dan raeng.

Panjang keris Pandawa Lare itu 36,5 cm, lebar 5 cm, dan tebal 1,2 cm. Lalu Hulu Cenangan dengan panjang 12 cm, lebar 5 cm, dan tebal 3,5 cm. Untuk warangka sarung keris ini berjenis kekandikan dari bahan kayu bacan bermotif Mbatik Kobar. Lalu untuk sampleng/pendok-nya gegambilan tanpa sampleng dan gandar dihias penempel kayu bacan motif Sampir.

"Bahan baku, jenis batu meteorit, warnanya putih terang dan urat-uratnya menjadi tajam dan sangat ringan. Dia tidak mudah berkarat," urai Basuki.


Sementara itu, menurut Fadli, ada berbagai cara pandang untuk melihat keris. Bukan hanya dipandang dari sisi mistis atau spiritual, tapi juga ada unsur seni dan psikologi yang akhirnya mengandung sugesti.

"Kita mau kaya, kerja keras dan kerisnya Udan (hujan) Emas, itu berpengaruh. Kalau mau naik takhta (kerisnya) Djunjung Drajat. Di mobil saya ada keris empat tahun ini, karena saya suka," ucap Fadli di lokasi yang sama.

"Djundung Drajat ini ada keterangan ornamen abstrak karena efek ditempa ribuan kali, panas 1.500 derajat," imbuhnya.

Fadli sendiri sudah memiliki 1.300 keris dan ia simpan di berbagai lokasi, termasuk di ruang kerjanya dan di museum seni milik pribadi. Ia mengaku mengumpulkan keris sejak 20 tahun yang lalu.

"Dari Lombok dan Bali ada 300. Keris yang ini dari 2013, beli, ini sepuh dari abad ke-17-18, waktu zaman Sunda Majapahit. Yang dipamerkan di sini umumnya sudah ratusan tahun," kata Fadli.

Dalam dunia perkerisan, membeli biasa disebut dengan istilah mahar. Namun tidak melulu soal materi karena mendapatkan keris itu ibarat mendapatkan jodoh. Ada keris yang dibeli seharga hingga hampir Rp 5 miliar.


"Kalau saya nggak sampai segitu (membayar mahar keris). Saya yang murah-murah saja," sebut politikus Gerindra itu.

Fadli pun menyoroti soal maraknya pandai keris yang sering berbohong mengenai usia keris. Ada keris baru yang terkadang diakui sebagai keris sepuh. Untuk itu, Penasihat Serikat Nasional Keris Indonesia (SNKI) tersebut memberi wacana soal sertifikasi keris untuk melindungi para kolektor, apalagi saat ini banyak peminat keris dari luar negeri.

"Jangan keris baru dibilang keris lama, ya kayak lukisan. Kita harus perbanyak kolektor dalam negeri. SNKI akan lakukan sertifikasi dan pendataan, keris pusaka ada di dalam negeri karena di luar banyak peminatnya. Mereka luar biasa terhadap keris, terutama anak muda," papar Fadli.

Tak hanya itu, dia juga berharap agar keris-keris pusaka yang ada di luar negeri bisa diambil kembali. Fadli mengatakan pernah melihat keris-keris milik pahlawan yang disimpan oleh kolektor maupun museum di luar negeri.

"Teuku Umar kerisnya di Tropen Museum saya lihat pernah dipamerkan. Diponegoro di sana, di Belanda juga, Imam Bonjol dengan pasukannya, kerisnya diambil semua, Bung Karno, Bung Hatta, Sisingamangaraja, Sudirman, para pahlawan ini punya keris juga," ungkap dia.

"Harusnya kita ambil yang di sana. Sekarang semakin banyak di Belanda, Eropa, Amerika. Yang sedang gencar Malaysia, Brunei, Singapura, kita tidak ingin ada keris pusaka lari ke luar. Pandai-pandai besi baru juga indah (membuat keris), perlu kita kembangkan," sambung Fadli.

Beberapa waktu lalu Fadli juga pernah memamerkan keris miliknya yang serupa dengan keris milik Pangeran Diponegoro. Keris yang disebut Keris Nogosiluman tersebut bahkan pernah ditampilkan di sebuah majalah luar negeri. 
(elz/imk)

Sumber : Detik.com