Tampilkan postingan dengan label Empu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Empu. Tampilkan semua postingan
Ciri Keris Surakarta

Ciri Keris Surakarta

Ciri Keris Surakarta - Keris-keris gaya Surakarta sangat mudah dikenali. Selain bentuknya yang terkesan gagah dan lebih panjang ketimbang keris-keris Jawa pada tangguh-tangguh sebelumnya. juga memiliki ciri-ciri yang khas. Bentuk bilahnya yang seperti daun pohung dan ujungnya yang mbuntut tuma-ekor kutu rambut-adalah ciri utama keris-keris tangguh Surakarta. 


Secara teknik, bilah keris tangguh Surakarta agak panjang dibandingkan keris tangguh Mataram atau Majapahit. Keris tangguh dua kerajaan besar di Jawa ini mempunyai panjang antara 33-35 cm, maka keris tangguh Surakarta lebih panjang sedikit yaitu antara 35-38 cm. Bilahnya berbentuk daun singkong dengan ketebalan sekitar dua kali lipat keris-keris pada umumnya dan gendut di tengah menyerupai badan kadal bunting (ngadal meteng). Bentuk ganja-nya agak melengkung dan sirah cicaknya tidak begitu meruncing pada ujungnya. Gulu meled dan wetengan-nya berukuran sedang. 
Pamornya relatif rumit, lembut dan biasanya merata di seluruh permukaan bilah. Pamor miringnya sangat rapi, serta jalur pamor tidak bertindihan satu sama lainnya. Penampilan keris terlihat kokoh, gagah dan meyakinkan.

Ada beberapa detil yang memang khas keris Surakarta, misalnya posisi dho-nya yang sangat wangun (elok) dan pas, berurutan membentuk suatu greneng yang luwes. Keris-keris gaya Surakarta memiliki pamor yang sangat beragam. Yang banyak ditemui adalah pamor-pamor seperti Wos Wutah, Pendaringan Kebak, Ron Ganduru, Wengkon, Raja Rangsang, Kara Welang dan Lar Gangsir.

Keris-keris klasik karya empu zaman Kerajaan Surakarta lama, biasanya memilih dhapur-dhapur populer seperti Sengkelat, Naga, Parungsari atau bahkan keris-keris kalawijan (jumlah luk di atas 13). Demikian pula dalam hal sandangan, keris Solo banyak yang bertatahkan berlian, warangka kayu cendana wangi, pendhok emas/selaka, mendhak intan dan selut berlian. Selain itu, badan keris pun tidak jarang yang berukir emas (tinatah atau sinarasah emas)-dari ganja sampai ujung bilahnya.

Menurut Kanjeng Pangeran Haryo Adipati (KHPA) Sosronagoro, kerabat Kesunanan Surakarta. "Keris Surakarta itu sebenarnya hanya mutrani (membuat ulang bentuk) dari keris yang ada dari tangguh-tangguh sebelumnya. Namun meskipun mutrani, titih garap-nya bisa berbeda, karena masing-masing zaman berbeda."

Pada masa Sunan Paku Buwono II hingga Sunan Paku Buwono IV, ciri keris Surakarta bisa saya sebutkan antara lain pada pesi selalu ada tanda tambah atau plus (+). Yang penting lagi, di tengah bilah keris, di dalamnya, terdapat besi sebagai penguat. Karena itu tidak heran kalau keris Brojoguna itu bisa menembus koin logam. Perlu diingat, dhapur keris Brojoguna itu sebagian besar lurus atau jarang yang ber-luk.

Kekhasan lainnya, ujung keris Surakarta itu mbutut tuma. Pada masa Sunan PB IV hingga Sunan PB IX, bentuk keris Surakarta itu mbangkek atau mempunyai bangkekan (pinggang) atau nggodong andong. Padahal pada zaman Sunan PB III, keris Surakarta belum berbentuk seperti itu-tidak mbangkek.

Keris Surakarta juga dikenal lebih panjang, terutama mulai zaman SunanPB IV, sehingga seringkali disebut corog (keris besar). Panjangnya kurang lebih antara 37 cm atau 38 cm. Sementara ujung ganja-nya gulu cecak tidak dalam dan weteng cecaknya tidak gemuk. Hal ini berkebalikan dengan keris Yogyakarta yang mempunyai gulu cecak dalam dan weteng cecak gemuk. Dalam hal ini, keris Surakarta sering disebut dengan rata bawang sebungkul.

Keris-keris yang lahir pada masa Sunan PB IV sampai Sunan PB IX memiliki fisik lebih panjang dibanding keris-keris pada tangguh sebelumnya. Namun setelah zaman itu lewat, yaitu pada zaman Sunan PB X memerintah, maka bentuk keris-kerisnya kembali kepada ukuran pendek, kurang lebih panjangnya hanya 34 cm sampai 35 cm. Model ini mengambil gaya Majapahit."Saya tidak tahu pasti sebabnya, tapi mungkin ini hanya soal selera Sinuhun PB X saja." jelas KPHA Sosronagoro.


Materi keris Surakarta juga lebih bagus dibanding keris-keris lain, karena memang wilayah Surakarta menyediakan besi, baja dan meteor yang bagus secara kwalitas. Beberapa jenis besi yang bagus itu, diantara lain, karang kijang, kamboja, malela dan balebang. Mulai PB IX hingga 

PB XII, bahan keris banyak yang menggunakan bale lumur yaitu besi dari meriam yang rusak atau pecah (Barangkali istilah bale lumur adalah salah ucap dari kata baltimore, sebuah kota di Inggris yang pada masa silam merupakan pusat pembuatan senjata termasuk meriam). Pada masa sebelum PB IX banyak empu yang menggunakan besi malela untuk bahan keris.

Mengenal pamor pada keris Surakarta lebih jelas, lebih detil dan lebih penuh di sepanjang wilah-nya. Pamor keris Surakarta juga banyak kreasinya. Hal ini karena Surakarta atau wilayah Solo mempunyai cadangan pamor yang banyak, salah satunya meteor yang jatuh di kawasan Prambanan pada zaman PB II. Meskipun beragam, namun keris Surakarta banyak yang memakai pamor Pendaringan Kebak, Udan Mas, dan Wengkon Isen. Terutama pada masa-masa PB IX dan sesudahnya. "Hal itu mungkin kerena pada saat itu bukan lagi zaman peperangan, sehingga keraton mulai tenang dan ekonomi lebih tertata. Oleh karena itu, keris-keris dibuat dengan pamor-pamor yang melambangkan kemakmuran," jelas Sosronagoro.

Sementara menurut Ady Sulistyono Ketua Paguyuban Sutrisno Lan Pangrukti Tosan Aji (Pasupati) Solo, keris Surakarta lebih berkiblat pada tangguh sepuh, seperti Jenggala. Ini tampak dari condong leleh yang mempunyai sudut kemiringan 80 derajat. Panjang keris Surakarta itu 4,5 kali panjang ganja, hasilnya sekitar 36 cm hingga 37 cm. Kalau tebalnya ya ideal dengan panjang bilahnya. Dibanding keris Yogyakarta atau tangguh-tangguh sebelumnya, keris Surakarta memang lebih panjang sekitar 1 cm atau 2 cm.

Bentuk keris Surakarta biasanya mbangkek. Sedangkan ciri-ciri lainnya, antara lain, pamor memenuhi bilah, kemudian adanya gendakan (pola pamor akibat pola pukulan yang beraturan). Pamor wengkon isen banyak digunakan untuk keris Surakarta. Ujung keris Surakarta itu mucuk tuma, sedangkan dari segi slorok cenderung berwarna kehijauan. Kalau keris Yogyakarta cenderung kehitaman. Dalam proses pembuatannya, besi mengalami wasuhan (ditempa dan dilipat-lipat). "Pada bilahnya terdapat ada-ada, gusen dan gula milir. Bilah keris Yogyakarta tidak mempunyai itu. Ciri lainnya, bentuk pesi (besi yang masuk ke ganja), dari pangkal hingga ujung mempunyai ketebalan (diameter) yang sama," jelas Ady Sulistyono.


Salah satu ciri khas keris Surakarta, terutama karya Empu Brojoguna adalah besi yang diletakkan di dalam bilahnya. Besi ini berguna untuk memperkuat dan memperkokoh keris. Jadi benar kalau keris Brojoguna itu lebih kuat dari keris lain, bisa menembus logam. Hal itu bukan karena ujungnya runcing, tetapi karena bilahnya diisi besi sehingga kuat," terang Ady.

Soal pamor, keris Surakarta biasanya mempunyai jenis pamor mlumah, misalnya semu kulit semangka, wosing wutah. Tapi ada juga jenis pamor yang miring. Pada keris luk, biasanya mempunyai luk yang rengkol (dalam), seperti ula nglangi (bentuknya seperti ular yang sedang berenang). Sementara kalau keris Surakarta memakai kembang kacang, biasanya bentuknya nggelung wayang. Keris Surakarta jika memakai tungkakan, maka sudutnya mbeung (tidak lancip). Ganja keris Surakarta biasanya berpamor maskumambang. Sedangkan ekor ganja melebar. Pada keris Surakarta, gandik-nya tidak terlalu miring dan lekukan di atas gandik tidak terlalu dalam.

Sumber : Majalah Keris-Vol 19 2010
Keris untuk Presiden

Keris untuk Presiden

Keris untuk Presiden - Anak Agung Gde Waisnawa Putra ingin menularkan tradisi keris kepada  orang banyak. Maka, ia merancang satu keris mewah untuk presiden. Ia juga mencarikan pusaka keris untuk pura serta menghibahkan keris kepada ratusan pecalang dan ketua adat di Bali.
Anak Agung Gde Waisnawa Putra
Anak Agung Gde Waisnawa Putra
Pada 2011, tiga tahun sebelum masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berakhir, terbesit di benak Anak Agung Gde Waisnawa Putra membuat keris untuk presiden. "Waktu itu, sosok Jokowi belum muncul sebagai tokoh nasional, ia masih Wali Kota Solo. Tetapi, pasti 2014 RI bakal memiliki presiden baru lantaran SBY sudah dua kali menjabat, "tutur penglingsir (tetua) dari Puri Gianyar, Bali -  garis keturunan Raja Bali di zaman kerajaan Gelgel - itu.

Keris yang dia rancang  untuk presiden baru ini ditempa dan digarap Empu muda dari Madura, Empu Jamil. Namanya "Keris Garuda Murti" atau Garuda yang berubah wujud. Keris dengan relief kepala garuda di gandhik (bagian depan bilah bawah), tetapi berbadan singa.

Anak Agung menceritakan makna keris itu. Menurut dia, Garuda adalah pengejawantahan sosok NKRI. Kala itu, NKRI sedang lemah, beberapa daerah ingin memerdekakan diri, Aceh dan Papua. "Pemerintah yang lemah (Garuda) perlu didukung kekuatan rakyat, yang diwujudkan dengan badan singa. Garuda Murti adalah perwujudan dua kekuatan menyatu," ungkap Anak Agung, di Puri Anyar Saraswati, istana kecil bagian dari Puri Gianyar, Bali, awal Juli lalu.

Jadilah sebuah sosok keris kekar berkelok (luk) sembilan yang ia sebut sebagai keris yang bergaya Nusantara, perpaduan berbagai unsur daerah di Indonesia. "Perancangnya Bli, tempaan Madura. Sarung (warangka) Bali jenis kojongan dari bahan kayu cendana NTB, dihias kinatah (tatahan di Yogyakarta, tetapi bahan emas asal Palembang. Mata Garuda terbuat dari intan Martapura," katanya.

Sosok keseluruhan kerisnya gagah. Sarungnya berhiaskan relief sunggingan (teknik lukisan wayang) menggambarkan adegan Ramayana, saat Garuda Jatayu menyambung nyawa, menyelamatkan Dewi Sinta - istri Prabu Ramawijaya - dari cengkeraman raksasa Rahwana, penculiknya. Akan tetapi, setelah keris bergagang emas Narasinga (awatara atau avatar Wisnu yang turun ke bumi sebagai penyelamat) ini selesai dibikin, keris itu tak berhasil diserahkan kepada presiden RI yang baru, Joko Widodo (2014), karena berbagai kendala. "Saya tak punya akses ke lembaga kepresidenan, juga ada ketakutan kalau-kalau presiden baru (kala itu) dituding suara miring dapat gratifikasi jika menerima keris ini," kata Anak Agung.

Alhasil, keris mewah yang dibuat untuk presiden itu masih disimpan Anak Agung di Puri Anyar Saraswati di Gianyar Bali.

Pelestarian Budaya

Konsep pelestarian budaya keris bagi Anak Agung adalah bagaimana menularkan budaya warisan nenek moyang ini kepada orang sekitar. Apa yang dilakukannya? Sejak lebih dari satu dasawarsa, ia rajin "menarik balik" keris-keris Bali yang bertebaran di sejumlah tempat di Indonesia atau pun luar negeri." Boleh dikata, 99 persen dari (ratusan) koleksi saya datang dari luar Bali. Banyak di antaranya dari Jakarta atau dari lelang keris luar negeri, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman dan Amerika," tuturnya.

Tahun lalu, misalnya, ia menawar keris melalui lelang internet dari Israel. Namun karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, keris luk 19 dan luk 9 yang berhasil dibelinya dari sebuah balai lelang Israel itu dikirim ke Indonesia melalui London. "Perlu dua sampai tiga bulan untuk sampai di Indonesia," katanya.

Harga per bilah relatif murah untuk sebuah keris pusaka, berkisar Rp 20 jutaan. Ternyata, keris luk 19 yang dibelinya dari Israel itu dulunya berasal dari Puri (Istana) Karangasem, Bali, puri tempat muasal istrinya Anak Agung Ayu Sasih.

Dari Belanda dalam kurun tahun 2008-2010, Anak Agung membeli setidaknya tujuh keris. Pada 2008, ia mendapat keris luk 9 yang modelnya aneh, tidak pakem, dari Jerman. Apakah semuanya disimpan untuk koleksi sendiri? Ternyata tidak.

Rupanya, di Bali tidak semua pura (tempat ibadah agama Hindu) memiliki pratima (benda yang disakralkan) berbentuk keris. Padahal setiap enam bulan sekali ada upacara adat yang namanya Tumpek Landep atau menajamkan kembali keris-keris agar kembali "segar".

Kini, beberapa anggota masyarakat dari pura di Gianyar dan bahkan luar Gianyar, berdatangan kepada Anak Agung minta dicarikan keris untuk dijadikan pratima (di-sungsung atau disimpan) di pura mereka. Pada 2014, misalnya sekitar 500 orang asal Bangli datang berjalan kaki menjemput pusaka di Puri Saraswati, tempat tinggal Anak Agung di Gianyar.

Orang sedesa, lengkap dengan gong, datang menjemput pusaka keris yang semula didapat Anak Agung dari luar negeri. "Ada kepuasan sendiri, keris yang saya dapat dari luar Bali itu dijadikan pratima dan di-sungsung (disimpan) kembali di pura-pura di Bali, dijemput ratusan masyarakat dari desa adat. Bangga, bisa bermanfaat bagi orang banyak," tutur Anak Agung.

Anak Agung tidak hanya mengembalikan keris-keris kuo dari luar ke Bali, tetapi juga menciptakan desain baru keris Bali. Tahun 2010, keris rancangannya yang digarap empu muda asal Surabaya. Empu Rudi Hartonodiningrat, bahkan tampil sebagai juara di acara Keris for the world di Jakarta.

"Maksudnya, agar mereka juga memiliki keris karena ternyata banyak di antara mereka yang hanya menyandang warangka saja, sementara bilah keris di dalamnya hanya logam putih (keris-kerisan)," ujar Anak Agung yang juga Penasihat Utama Pecalang Se-Kabupaten Gianyar. Ia telah menghibahkan sekitar 200 keris sejak tahun 2010 kepada para pecalang desa adat. Saat ini ia telah memesan 100 bilah keris untuk pecalang lainnya.

Tahun 2013, Anak Agung juga menghibahkan 45 bilah keris kepada para bendesa (ketua adat) se- kabupaten Gianyar dan beberapa keris untuk delapan tokoh pelestari budaya Bali di Provinsi Bali. Yang paling menarik, kata Anak Agung, belakangan ada anak-anak muda generasi modern di Bali yang khusus memesan keris untuk dipakai menikah. Sudah ada empat pasang calon pengantin yang memesan kepadanya. "Prinsipnya, dalam perkawinan di Bali, orang nikah harus pakai  keris sungguhan. Pernikahan itu sakral. Kalau waktu menikah tidak pakai keris asli, orang Bali mengatakan mereka kawin main-main," ujarnya.

Sosok Anak Agung sebagai pelestari budaya Bali membuat dirinya dikenal luas di kalangan perkerisan nasional. Di Bali, ia sering mengisi ceramah tentang keris dan mendatangi pura yang memiliki pratima keris, tetapi tidak pernah memelihara bahkan takut menyentuh keris pusaka mereka. Banyak di antara pratima keris yang tersimpan di pura tanpa sarung lantaran sarung yang biasa terbuat dengan lapisan emas sudah lama hilang atau terjual. Pratima keris yang kurang terawat itu kemudian dibikinkan sarung atau warangka baru oleh Anak Agung untuk di-sungsung-kan kembali menjadi pusaka pura.

Oleh : Jimmy S Harianto (Koran Kompas) 
Keris Blak.., Masternya Keris

Keris Blak.., Masternya Keris


Keris Blak.., Masternya Keris - Tidak banyak penggemar tosan aji yang tahu mengenai keris blak, jenis keris yang satu ini memenag tidak banyak beredar di masyarakat. Saya sendiri memang baru mengetahuinya belakangan ini. Pada jaman dulu apabila seseorang memesan pusaka keris dalam jumlah banyak kepada seorang empu, maka sang empu akan membuat sebilah keris yang digunakan sebagai masternya. Berbeda dengan keris kebanyakan, biasanya keris ini bahannya terbuat dari mayoritas bahan kuningan dengan campuran emas murni 35% dan beberapa logam lainnya. Memang tidak semua empu dipastikan membuat keris blak, namun berdasarkan informasi belakangan hari, keris blak dibuat sejak era PB VIII s.d PB X dan belum diketemukan di era sebelumnya. 

Sumber : Allysdona Pinkan

  
Ciri-Ciri Keris Tangguh Tuban

Ciri-Ciri Keris Tangguh Tuban

Ciri-Ciri Keris Tangguh Tuban - Keris tangguh Tuban mungkin satu-satunya keris tangguh tua yang masih mudah dijumpai sekarang ini. Tidak seperti tangguh sepuh lainnya, seperti Majapahit, Pajajaran, Kediri, Singosari, Sedayu dan lain-lain yang sangat sulit  untuk di jumpai apalagi didapatkan (ada tapi jarang-jarang). Keris tangguh Tuban memiliki masa perkiraan pembuatan keris sama dengan era Majapahit akhir dan memiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dari keris-keris tangguh lainnya.
Ciri-ciri keris tangguh Tuban antara lain :

  1. Pada umumnya keris Tuban dibuat dengan dhapur lurus atau tanpa luk/lekukan dan kebanyakan dhapur "Tilam Upih" dan kadang-kadang "Kebo Lajer" atau dhapur keris lurus lainnya, kecuali untuk dhapur tombak yang malah kebanyakan dijumpai dengan dhapur berluk 7, 9 dan 11.
  2. Keistimewaan keris Tuban yang tidak terdapat pada keris tangguh lainnya adalah bentuk bilahnya yang tipis/pipih dan tempaan yang matang, sehingga Keris Tuban pada umumnya memiliki bobot yang ringan dan jika ditanting/disentil jari, suaranya lebih berdenting yang menandakan matangnya tempaan. Selain tipis, keris Tuban pada umumnya juga memiliki bilah yang lebih besar dibanndingkan dengan tangguh lainnya.
  3. Pamor dari keris Tuban memiliki istilah "Ndeling", yaitu warna besi terdiri dari tiga warna yaitu hitam, putih keruh dan putih mengkilat. Tidak seperti pamor keris pada umumnya yang hanya terdiri dari warna hitam dan putih keruh.
  4. Pamor keris Tuban yang paling indah yaitu pamor "Melati", baik Tumpuk atau pun Rinonce, jika pamor tidak sempurna makan jadi pamor "Banyu (toya) mambeg" atau "Wos Wutah" yang tidak kalah indahnya walaupun tidak sekelas dengan pamor Melati. 
Membabar Keris Tangguh Madiun

Membabar Keris Tangguh Madiun

Membabar Keris Tangguh Madiun-Banyak orang mencibir seputar keris Madiun. Selain bentuknya yang dianggap agak aneh dari pakem yang dianggap agak aneh dari pakem pada umumnya, juga tak banyak ditemukan keris tangguh Madiun yang mewah dan indah bentuknya. Kalau toh ada yang berkinatah emas, biasanya detil ukurannya agak kurang rapih dan batas tepi emas terlihat tak beraturan.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Secara umum, keris tangguh Madiun selama ini dikenal dengan bentuk yang sangat sederhana dan cenderung wagu (kurang laras). Terkadang bahkan tak sesuai dengan pakem keris pada umumnya. Namun juga tak dipungkiri, bahwa dalam kesederhanaannya, sebagian besar keris-keris Madiun memiliki perbawa tersendiri, atau dalam bahasa orang perkerisan, keris-keris tangguh  Madiun itu terkesan nggegirisi-menyeramkan. Meskipun bentuknya terasa nyeleneh, tapi enak dipandang. Nyeleneh artinya berbeda dengan kebiasaan atau pekem keris pada umumnya. "Saya justru senang banget dengan bentuknya. Sangat artistik dan anggun. Agak aneh, tapi enak dilihat, "ujar seorang kolektor fanatik keris-keris gaya Madiunan, yang enggan disebutkan namanya.

Bentuknya terkesan agak ganjil, karena ciri khas yang ada pada keris Madiun hampir tak ditemukan pada mazhab keris pada umumnya. Sogokan dan blumbungan, misalnya selalu tak pernah imbang antara kanan dan kirinya. Pada gonjo-nya juga ada sedikit keunikan. Perut gonjo tampak tipis, sedangkan sirah cecaknya berbentuk lancip. Tikel alis cenderung mencuat ke atas dengan lengkung yang tajam. Lambe gajah bisa bersusun undhak-undhakan (seperti susunan tangga). Behkan terkadang dijumpai juga pada sirah cecak ada lambe gajah-nya.

Pamor yang ada pada keris-keris Madiun biasanya juga tak terlalu beragam. Yang banyak ditemui di tangan para kolektor lokal (mantan-mantan lurah atau sesepuh desa di Kabupaten Madiun) adalah keris-keris dengan pamor Wos Wutah, Uler lulut dan Buntel Mayit. Keris-keris Madiun agak jarang menggunakan ada-ada - bagian tengah bilah yang lebih menonjol.

Dhapur yang banyak dijumpai adalah Jangkung dan Mahesa, seperti Kebo Lajer, Kebo teki, atau Kebo Salurung. Panjang bilahnya sebenarnya relatif sama dibandingkan dengan keris-keris pada umumnya. "Keris-keris Madiun itu panjangnya sebenarnya sama dengan panjang keris pada umumnya, tapi kesannya memang lebih pendek," kata Teguh Iman Santoso, praktisi keris dari pemerati Tosan Aji Yogyakarta (Mertikarta). Ukuran bilahnya seukurang 4,5 kali panjang gonjo. Kalau panjang gonjo sekitar 8 hingga 9 sentimeter, maka panjang bilahnya sekitar 35 sentimeter. Sedangkan panjang pesi sekitar 7 sentimeter.

Ditambahkan Teguh Iman Santosa, bahwa penilaian kualitas untuk besi keris Madiun tak bisa di-gebyah uyah-disamaratakan. Tak semuanya jelek atau tak semuanya bagus. "Semua tergantung dari zamannya. Bila pada zaman majapahit banyak ditemui keris-keris tangguh Majapahit dengan bahan besi yang padat dan berserat rapat, maka keris-keris Madium juga menggunakan bahan yang mirip atau serupa," Katanya. 
Membabar Keris Tangguh Madiun

Hal senada juga disampaikan Benny Hatmantoro, praktisi keris Pasupati, Solo, bahwa melihat besi keris-keris Madiun harus dilihat sesuai dengan zaman kerajaan yang sedang berkuasa saat itu. Kalau zaman Majapahit, maka besi-besi keris Madiun juga akan mirip dengan keris-keris pada zaman itu. Jenis besi keris Madiun akan memiliki kemiripan dengan besi keris Mataram-kalau dibuat pada zaman Mataram dan seterusnya. Keserupaan ini kemungkinan disebabkan oleh ketersediaan bahan besi yang ada pada masa tersebut dan unsur distribusi dalam wilayah-wilayah kerajaan yang sedang berkuasa. "Maka untuk menangguh suatu keris Madiun, kecocokan dengan besi keris sezaman bisa dijadikan parameter penilain. Kalau mirip dengan besi Majapahit, maka keris Madiun yang dinilai berarti dibuat pada era yang sezaman katanya.

Benarkah semua keris Madiun berbentuk wagu dan lugu? tentu saja, hal ini dibantah mentah-mentah oleh para praktisi keris dari Madiun. Empu Hary dari Paguyuban Pametri Budaya Jawa (PPBJ) Tundhung Madiun, misalnya, mengganggap bahwa pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Ada juga keris-keris Madiun yang bentuk dan garapnya bagus. Hal ini terutama pada awal abad 19-an, banyak keris-keris Madiun yang bermutu baik-yang dibuat oleh para empu dari Desa Sewulan, Dagangan, Madiun Selatan. Dari daerah ini, konon pada tahun 1500-an pernah bermukim Empu Darmo-yang makamnya juga terletak di desa tersebut.

Berdasarkan cerita tutur rakyat, Desa Sewulan merupakan tanah perdikan yang dihadiahkan seorang raja pada akhir Kerajaan Majapahit. Sewulan berasal dari kata Sewu dan Wuwul, Sewu adalah seribu, sedangkan Wuwul sama dengan ukuran tanah yang diperkirakan seluas satu hektar. Jadi kemungkinan Sewulan semula wilayah yang seluas kurang lebih seribu hektar yang dijadikan tanah perdikan-bebas dari pajak atau glondhong pengareng-areng. Konon, pada zaman Demak, ditanah perdikan ini tinggal seorang Empu keris dari kerajaan Islam pertama Jawa itu yang bernama Empu Suro-yang nantinya menurunkan generasi pembuat keris. Empu Suro ini diyakini oleh masyarakat perkerisan sebagai Ki Umyang dari Demak. Pada zaman Mataram Kartasura, Sewulan merupakan salah satu desa di Madiun yang  membuat keris untuk kepentingan keraton tersebut-sekitar pemerintahan Susuhunan Amangkurat II, Susuhunan Amangkurat III, Sunan PB I dan Sunan PB II.

Para Empu Sewulan juga mengalami masa keemasan pada masa Madiun dipimpin oleh Bupati Madiun, Raden Haryo Tumenggung Kusnodiningrat tahun 1900-1929. Karena pada masa itu, semua Lurah di seluruh Kabupaten Madiun mendapat hadiah berupa keris buatan para Empu dari Sewulan. "Sayangnya pada tahun 1970-an, para keturunan Empu yang  tinggal di Sewulan hanya membuat alat-alat pertanian. Mereka menjadi pande besi saja, "tutur Mas Gus, Empu terakhir yang dikenal dari Sewulan adalah Muhammad Slamet yang meninggal pada awal tahun 2000.

Salah Kaprah Sebutan Tangguh Mageti

Sebenarnya, sejumlah keris tangguh Madiun lama, banyak yang menyerupai bentuk-bentuk tangguh Mataram atau lebih tepatnya mirip dengan tangguh Mataram Kartasura. Ini bisa jadi berkaitan erat dengan hubungan masa silam Keraton Mataram Kartasura dengan para Empu keris dari Sewulan, Madiun. Jadi bisa dikatakan, tak sedikit keris-keris Madiun yang mempunyai bentuk dan garap yang istimewa.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Sebenarnya ada juga daerah para Empu di Madiun selain dari Sewulan. Tepatnya di daerah Kota Magetan sekaran. Keris-keris yang dibuat dari tangguh Mageti atau dhapur Mageti. Bahkan ada juga yang menyebut sebagai tangguh Tuban Mageti. Hal ini mungkin karena proporsi bilah kerisnya mirip dengan keris-keris tangguh Tuban.

Keris-keris tangguh ini rata-rata memiliki besi yang lumer, karena tempaan yang matang, memiliki kekerasan yang bagus dan urat besi yang rapat. Bentuknya juga lebih condong ke gaya Mataram. Garapnya rata-rata cukup baik. Gonjo dan wilah keris yang melekat erat seperti iras, tikel alis yang melengkung ke atas dan sejumlah keunikan lain keris Madiun. Hanya saja banyak praktisi keris yang sebenarnya salah kaprah menyebut keris tangguh Mageti. Karena Mageti ini sebenarnya nama seorang pemimpin yang tak ada hubungannya dengan sejarah keris.

Adalah Ki Gede Mageti, seorang tokoh yang diduga berasal dari Surakarta, pada awal abad 19, membabat hutan di wewengkon Kadipaten Madiun, yang nantinya menjadi cikal bakal kota Magetan. Tokoh inilah yang pertama kali membuka daerah dan menjadi penguasa pertama di desa yang kemudian bernama Magetan itu. Di daerah baru bernama Magetan yang semula masih kecil tersebut-yang waktu itu masih di bawah kekuasaan Kabupaten Madiun-ada seorang Empu keris kondhang yang bernama Ki Guno Sasmito.
Membabar Keris Tangguh Madiun

Keris-keris karya Empu Guno sangat menonjol dalam garapnya dan menggunakan besi yang baik mutunya. Empu ini banyak membuat keris untuk Pangeran Diponogoro dan para panglimanya. Bahkan keris pusaka Basah Sentot Prawirodirdjo, seorang senapati perang dalam keprajuritan Diponogoro yaitu keris Kanjeng Kiai Balewiso adalah bautan Empu Guno ini.

Keris karya Empu Guno juga memiliki ciri khas lain, ya itu kerapatan bilah keris dengan gonjo yang sangat rapat dan ujung pesi yang berbentuk sirah gendelo-kepala capung. Masyarakat perkerisan menyebut ciri ujung pesi ini dengan kembang cengkeh atau ujung tiang bendera. "Saya fanatik sekali dengn karya-karya Mbah Guno. Besinya padat dan garapnya luar biasa, "ujar Mamo, seorang penggemar keris dari Madiun.

Keris-keris karya Empu Guno dan keturunannya inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai tangguh Mageti. "Padahal itu nggak ada hubungannya. Salah itu. Mageti itu nama tokoh pembuka hutan dan perintis Magetan, "ujar Empu Pakurodji, keturunan langsung Empu Guno.

Oleh : RS DANUMURTI (Majalah Keris)  
Para Empu Keris Pusaka Tuban, Blambangan dan Madura

Para Empu Keris Pusaka Tuban, Blambangan dan Madura

Para Empu Keris Pusaka Tuban, Blambangan dan Madura

Sebagai Orang berilmu tinggi, seorang Empu selalu mendapat tempat yang terhormat pada suatu jaman pemerintahan kerajaan-kerajaan jaman dahulu. Walaupun sering sekali seorang Empu tidak tinggal di pusat-pusat kerajaan, melainkan di tempat-tempat terpencil di lereng-lereng gunung, namun Empu-Empu itu selalu mewakili  jamannya dan mewakili kerajaan serta pusat pemerintahan tertentu dan Empu-Empu dari kerajaan dan daerah tertentu itu, melahirkan kreasi Keris-Keris dengan Tangguh tertentu pula.
Para Empu Keris Pusaka Tuban, Blambangan dan Madura

Yang dimaksud dengan Tangguh adalah penampilan gaya atau modelnya, seperti halnya mobil buatan Jepang, memiliki model dan gaya yang lain dengan model mobil Amerika atau pun Eropa. Demikian juga dengan Tangguh Majapahit akan berbeda dengan Tangguh Kartasura. Keris-Keris pada jaman dan daerah yang sama memiliki Tangguh yang serupa, walaupun dibuat oleh Empu yang berbeda. Penampilan gayanya secara umum akan sama dan serupa, hanya beberapa ciri khas saja yang membedakan keris ini buatan Empu A dan keris itu buatan Empu B. 

Jadi bagi mereka yang menekuni di bidang keris, akan dapat meneliti sebuah keris buatan jaman apa dan siapa pembuatnya. Bahkan bagi mereka yang ahli, dapat pula merasakan keris ini cocok untuk siapa dan untuk khasiat apa. 

I. Empu-Empu Tuban
Banyak Empu Pajajaran yang berhijrah ke Tuban. Empu Kuwung memiliki anak 5 yaitu : Rara Sembaga, Bekeljati, Paneti, Suratman (Jaka Suratman) dan Salaeta.

Empu Rara Sembaga
Empu Rara Sembaga, jaman Tuban Pajajaran. Keris yang dibuat berdhapur brojol, sinom, tilam upih, tombaknya berdhapur godhong pring, totok, sigar jantung. Semuanya dengan besi kuning matang (welu), kurang baja dan sepuh.

Empu Bekeljati (Jakajati)
Empu Bekeljati hidup di jaman Majapahit. Karyanya banyak yang tipis-tipis tetapi sosok bilahnya lebar-lebar, kencang dan kuat, cocok untuk prajurit.

Empu Suratman (Jaka Suratman)
Empu Suratman di Tuban pada jaman Majapahit. Keris yang dibuat berdhapur carangsoka, kidangsoka, puthut, brojol, tilam upih, cempana, pasopati, jalak sangu tumpeng. Cirinya : Luk kurang, kembang kacang methit, pamor ryawut, sepuh dilat, sangat ampuh. Sedang yang berdhapur sepokal, sempaner, keboteki, kebo dhengen, jangkung, sabuk tampar (tali dhadhung) berganja manegkurep, pamor jelas dan penuh. Tombak yang dibuat berdhapur biring, kudhup, totog, doradasih, dora manggala, semuanya bagus dan kuat.

Empu Paneti
Empu Paneti di Tarulaya di jaman Majapahit. Ciri-ciri kerisnya : jika brojol dengan ganja ngucengmati dengan pamor beras wutah, besi hitam, tipis, sepuh dilat, sangat ampuh. Jika jalak tilamupih, sangutumpeng, ganjanya mengkurap lebar di belakang. Bilah tipis tetapi agak lebar. Juga membuat tombak denga dhapur celed, biring lanang, sapit abon, doradasih, dengan besi hitam dan pesi pendek, terkenal ampuh.

Empu Salaeta
Empu Salaeta di Tuban jaman Majapahit, hampir sama dengan saudara-saudaranya dalam berkarya. Hanya pamornya kebanyakan agak hitam (merkitik cemeng)

Empu Joko Hajal
Empu Joko Hajal terkenal sebagai Empu Tuban yang istimewa. Keris maupun tombak buatannya sangat ampuh karena jika ditancapkan di pohon segera mati.

II. Empu-Empu Blambangan
Dua empu Majapahit yang pernah bermukim di Blambangan adalah Ki Pitrang (Jakasupa I) dan Supogati. Disamping itu ada empu lain yang juga terkenal yaitu :

Empu Surowiseso, anak Empu Kekep
Empu Mlayagati, anak pertama Surowiseso
Empu Cakrabawa, anak kedua Surowiseso
Empu Kemendhung, anak Empu Jangga, Surabaya
Empu Jangga, anak Empu Cakrabawa
Empu Cangkring, anak Empu Kumendhung
Empu Tilam, anak Empu Cangkring
Empu Kalunglungan, anak Empu Mlayagati. Beliau beranak Empu Sedhah dan kemudian bergelar Tumenggung Supodriyo dan mempunyai putera 
Empu Surowiradi. Di jaman Pajajaran, Empu Sedhah bergelar Empu Welang. Di jaman Brawijaya I, Empu Kalunglungan membuat keris dhapur Jalak sangu tumpeng.
Empu Luwuk, terkenal sebagai pembuat keris kraton dan menjadi kesayangan Raja Blambangan.

III. Empu-Empu Madura
Empu Kasa atau disebut Empu Keleng. Waktu di Pajajaran bergelar Empu Wanabaya (lihat Empu Pajajaran).
Empu Macam atau Jakasupa II, anak Empu Pitrang (Pangeran Sedayu) dari puteri Raja Majapahit. Keris karyanya besar-besar. Ia sering disebut Empu Kodhok. Di kemudian hari ia hijrah ke Pajang dan bergelar Empu Umyang. Lalu pindah lagi ke Madiun dan beralih nama menjadi Empu Tundhung Madiun.
Empu Palu, anak Empu Kasa Madura
Empu Gedhe, Pamekasan, anak Empu Palu. Karya-karyanya tipis, kering dan besi hitam kuat. 
Para Empu Tangguh Nom-Noman dari Surakarta

Para Empu Tangguh Nom-Noman dari Surakarta

Keris Pusaka Surakarta

Para Empu Tangguh Nom-Noman dari Surakarta-Tercatat ada sebelas orang empu keris yang terkenal yang hidup pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono III hingga Sunan Paku Buwono X. Siapakah mereka dan apa saja yang menjadi ciri-ciri karyanya. Berikut para Empu Nom-noman dari Surakarta : 

Empu Brojoguna
Nama Brojoguna memang hingga saat ini masih menimbulkan perdebatan. Sebagian pecinta keris menyebutnya sebagai nama seorang Empu, tetapi oleh sebagian yang lain menganggapnya sebagai nama keluarga Empu. Menurut sumber dari Madura, adalah Empu keris yang bersama keluarganya hijrah dari Desa Wonoayu, Madura ke Pulau Jawa pada jaman Kartasura. 

Mereka mengapdi pada Raja Mataram Kartasura sejak jaman pemerintahan Amangkurat III atau Sinuhun Prabu Amangkurat Jawa. Anak cucunya seterusnya tetap mengabdi di Keraton Surakarta dan tidak kembali ke Madura.

Empu Brojoguno I
Banyak ahli keris mengatakan bahwa Empu Brojoguno I juga berasal dari Madura. Keris dan Tombak buatannya terkenal kuat, karena kandungan bajanya banyak, sanggup menembus perisai pelindung badan lawan dalam peperangan.

Tanda-tanda keris buatan Empu Brojoguno antara lain adalah ukuran bilahnya lebih panjang dibandingkan dengan keris Mataram pada umumnya, karena banyak mengandung baja, keris itu lebih berat bobotnya ketimbang keris pada umumnya. Bilahnya hampir selalu berbentuk ngadal meteng. Bentuk ganjanya agak melengkung, sirah cecaknya tidak begitu meruncing pada ujungnya, gulu meled dan wetengan ganja berukuran sedang, pamornya rumit, lembut dan biasanya merata rapi di seluruh permukaan bilah. 

Menancapnya pamor pada bilah kuat, pandes. Kalau Empu Brojoguno membuat pamor miring, tampak rapi sekali. Jalur-jalur garis pamornya tidak ada yang  bertindih satu sama lain. Ia membuat hampir semua jenis pola pamor. Namun yang  terbanyak adalah pamor Wos Wutah, Pedaringan Kebak, Ron Genduru,Wengkon, Naga Rangsang, Karawelang dan Lar Gangsir.

Kalau membuat kembang kacang bentuknya serupa dengan gelung Bima pada wayang kulit Purwa, Jalen dan Lambe gajah-nya berukuran sedang. Sogokan-nya menyempit ke arah ujung. Blumbungan atau pejetan-nya agak dangkal. Kalau keris itu tanpa kembang kacang, posisi gandhik-nya agak miring. Secara keseluruhan, penampilan keris dan tombak buatan Empu Brojoguno mencerminkan sifat keras, gagah dan meyakinkan.

Beberapa anak Brojoguno juga meneruskan profesi sebagai Empu pembuar keris dan memakai nama Brojoguno pula. Empu Brojoguno I mengabdi pada keraton Mataram Kartasura sejak jaman pemerintahan Sunan Amangkurat III hingga Sunan PB I.
Keris Pusaka Surakarta

Empu Brojoguno II
Dia terkenal sebagai pembuat keris pada jaman pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono II sampai IV di Surakarta. Ia adalah salah seorang anak Empu Brojoguno I yang mengalami hidup pada zaman Mataram Kartasura.

Empu Brojoguno III
Terkenal sebagai pembuat keris pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono IV dan Sunan PB V Surakarta. Empu ini adalah cucu Brojoguno I. 

Bentuk keris dan tombak karya Empu Brojoguno III hampir mirip dengan keris buatan Empu Brojoguno II, baik bentuk penampilan, garap maupun pamornya.Perbedaan yang utama hanyalah pada bagian ganja-nya. Ganja keris buatan Empu Brojoguno III lebih tebal dan lebih panjang dibandingkan dengan karya Brojoguno I maupun Brojoguno II.

Empu Brojokaryo
Seoraang Empu pembuat keris terkenal pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono V dan Sunan Paku Buwono VI di Surakarta. Keris buatannya sering disebut tangguh Mangkubumen Surakarta. Keris karyanya dapat ditandai dengan memperhatikan tanda-tanda : ganja sebit. Rontal : sirah cecak-nya meruncing pada ujungnya. Wetengan ganja ramping, buntut urangnya melebar di bagian ujungnya.

Bilah keris itu berukuran sedang, posisinya agak tegak, sorsoran-nya tebal. Besi wasuhan-nya matang. Pamor-nya penuh, merata di seluruh permukaan bilah. Penampilan pamor itu nginden, memantulkan bias cahaya. Motif pamor-nya bermacam ragam, tetapi ada umumnya merupakan pamor mlumah.Bentuk sekar kacang-nya menyerupai gelung wayang. Kalau keris itu tanpa kembang kacang, gandhiknya dibuat miring. Secara keseluruhan keris buatan Empu Brojokaryo berpenampilan gagah dan tampan, namun ukurannya tidak besar.
Keris Pusaka Surakarta

Empu Brojosetomo
Dia adalah pembuat keris yang terkenal hidup pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono IX di Surakarta. Keris buatan Empu ini dapat dikenali dengan ciri antara lain, ganja-nya dibuat ramping dan mendatar, sirah cecak-nya meruncing pada ujungnya, gulu meled serta wetengan ganja-nya berukuran sedang, bagian ujung buntut cecak ganja itu dibuat melebar.

Ukuran panjang bilah keris buatan Empu Brojosetomo sedang, besinya matang tempaan, biasanya berwarna hitam keunguan. Sekar kacang-nya dibentuk menyerupai gelung wayang, blumbangan atau pejetan-nya agak lebar dan dangkal. Tetapi sogokan-nya sempit dan dangkal, serta melengkung pada ujungnya. Bagian dha dan ron dha dibuat jelas dan besar ukurannya. Gambaran pamor-nya tebal, namun tidak rapat satu sama lain. Motif gambar pamor-nya sederhana.Kalau keris karyanya tanpa sekar kacang, maka gandhiknya dibuat miring. Secara keseluruhan keris buatan Empu Brojosetomo mempunyai penampilan gagah dan meyakinkan.

Empu Brojosetiko
Dia adalah Empu keris ternama pada jaman pemerintahan Sunan Paku Buwono III sampai dengan Sunan PB V Surakarta. Dia satu masa dengan Empu Brojokaryo dan Empu Japan. Karya mereka sering disebut tangguh Mangkubumen Surakarta.Keris buatannya bisa dikenali dengan mengamati melihat tanda-tanda seperti ganja-nya Sebit Rontal, melengkung bentuknya, sirah cecaknya meruncing ada ujungnya, wetengan ganja ramping, bentuk cecaknya melebar pada bagian ujungnya.

Bilah keris itu berukuran sedang, posisinya agak tegak. Bentuk besinya matang tempaan, pamornya penuh, merata rapi ke seluruh permukaan bilah. Penampilan pamor ngiden, memantulkan bias cahaya, motif pamornya barmacam ragam, tetapi pada umumnya merupakan pamor mlumah. Kalau membuat kembang kacang, bentuknya menyerupai gelung wayang, blumbangannya sedang, sogokannya dalam, janurnya dibuat menyerupai batang lidi. Kalau membuat bagian pada ron dha, ujung-ujungnya runcing dan lekungannya dalam. Kalau keris ini tanpa kembang kacang, gandhiknya dibuat miring. Keris buatan Ki Empu Brojosetiko berpenampilan tenang, tampan. dan berwibawa.

Empu Resowijoyo
Empu keris yang berkarya pada jaman Sunan PB VII ini dikenal sebagai Empu keris yang sangat produktif. Karyanya yang sangat legendaris adalah keris Kanjeng Kyai Nagasapta yang berjumlah lima bilah keris (atau tujuh bilah keris) ber-dhapur nagaraja kamarogan kinatah emas. Bentuk naga dalam keris karyanya berbentuk lebih ramping ketimbang keris-keris tangguh Surakarta pada umumnya. Dia sering disebut juga dengan nama Empu Sowijoyo. Makanya tak mengherankan, banyak masyarakat perkerisan yang sering salah sebut dengan Empu Singowijoyo, bahkan orang juga salah kaprah menyebut nama Empu pembuat KK Nagasapta adalah Singowijoyo, padahal semestinya Empu Sowijoyo.
keris pusaka surakarta

Empu Tirtodongso
Tak ada catatan pasti kapan Empu Tirtodongso ini berkarya dan mengabdi pada Raja yang mana, yang jelas, Empu Tirtodongso merupakan Empu keris Kraton Surakarta. Karya-karyanya sering dikatakan sebagai keris-keris tangguh Mangkubumen. Karyanya memiliki ciri antara lain, ganja agak melengkung dan berbentuk sebit rontal dengan gulu meled yang sempit dan lekukannya tak dalam. Sirah cecaknya cenderung kurus dan buntut urang-nya melebar pipih.

Kalau ada sekar kacang, maka bentuk lingkarnya seperti ukel dalam gelung wayang. Kalau tanpa sekar kacang, maka gandhiknya agak miring. Bilah keris karya Tirtodongso berukuran sedang dan melebar di bagian sor-soran.

Empu Joyosukadgo
Empu yang hidup pada jaman pemerintahan Sunan PB IX ini sangat banyak melahirkan keris-keris indah dan elok. Karyanya menampilkan aspek garap yang sangat prima. Bilah keris karyanya biasanya tidak terlalu tebal dan berukuran sedang. Besinya di-wasuh dengan sempurna dan berwarna hitam kebiru-biruan. Bagian ganja-nya dibuat mendatar dengan sirah cecak berukuran sedang dengan ekor yang melebar pada ujungnya. Gulu meled dan wetengan-nya juga berukuran sedang, sogokannya dalam dan makin ke ujung makin runcing. Kalau membuat keris luk, rengkolnya selalu tajam. Maka tak mengherankan, keris-keris kerya Empu Joyosukadgo banyak diburu para kolektor keris karena penampilan karyanya yang menarik dan anggun.

Empu Wirasukadgo
Empu keris yang mengabdi kepada Sunan PB X ini memang lebih dikenal dengan buku karyanya tetang keris yaitu Serat Panangguhing Dhuwung yang diterbitkan oleh penerbit Sadu Budi, Solo. Karya-karya kerisnya sebenarnya menyebar juga di kalangan perkerisan dan banyak membuat keris-keris pesanan PB X yang sangat menggandrungi keris dan tosan aji.

Sumber : Buku Ensiklopedi Keris Karya Bambang Harsrinuksmo
Empu-Empu Keris Pusaka Keraton Medhangkamulan, Keraton Purwacarito, Keraton Kedhiri, Keraton Pengging, Keraton Jenggala, Keraton Pajajaran dan Keraton Majapahit

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton Medhangkamulan, Keraton Purwacarito, Keraton Kedhiri, Keraton Pengging, Keraton Jenggala, Keraton Pajajaran dan Keraton Majapahit

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Sebagai Orang berilmu tinggi, seorang Empu selalu mendapat tempat yang terhormat pada suatu jaman pemerintahan kerajaan-kerajaan jaman dahulu. Walaupun sering sekali seorang Empu tidak tinggal di pusat-pusat kerajaan, melainkan di tempat-tempat terpencil di lereng-lereng gunung, namun Empu-Empu itu selalu mewakili  jamannya dan mewakili kerajaan serta pusat pemerintahan tertentu dan Empu-Empu dari kerajaan dan daerah tertentu itu, melahirkan kreasi Keris-Keris dengan Tangguh tertentu pula.

Yang dimaksud dengan Tangguh adalah penampilan gaya atau modelnya, seperti halnya mobil buatan Jepang, memiliki model dan gaya yang lain dengan model mobil Amerika atau pun Eropa. Demikian juga dengan Tangguh Majapahit akan berbeda dengan Tangguh Kartasura. Keris-Keris pada jaman dan daerah yang sama memiliki Tangguh yang serupa, walaupun dibuat oleh Empu yang berbeda. Penampilan gayanya secara umum akan sama dan serupa, hanya beberapa ciri khas saja yang membedakan keris ini buatan Empu A dan keris itu buatan Empu B. 

Jadi bagi mereka yang menekuni di bidang keris, akan dapat meneliti sebuah keris buatan jaman apa dan siapa pembuatnya. Bahkan bagi mereka yang ahli, dapat pula merasakan keris ini cocok untuk siapa dan untuk khasiat apa. 
Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Berikut para Empu-Empu Keris Pusaka yang terkenal pada jamannya yang diambil dari berbagai sumber : 
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Mendhangkamulan
  • Empu Ramayadi (142 Saka) : mengabdi di Medhangkamulan di kaki Gunung Pangrango dan Gede.
  • Empu Sakadi (218 Saka) : mengabdi pada Sang Raja Balya di Medhang Siwanda yang kemudian hari menjadi Madiun Jawa Timur.
  • Empu Sukasadi (230 Saka) : mengabdi pada Raja Berawa (Hyang Kala) di Keraton sebelah Utara Gunung Lawu atau Maendra di wilayah Hutan Tulyan di daerah Kuwu Grobogan.
  • Empu Bramakedhali (216 Saka) : mengabdi pada Raja Buddhawana (Hyang Brahma) di Mendhangsiwanda yang kemudian pindah ke Medhangkamulan.
  • Empu Saptagati (246 Saka) : mengabdi pada Raja Maha Prabu Buddha Kresno sebagai titisan Hyang Wisnu. Disebutkan Prabu Buddhawaka terpaksa keluar dari Mendhangkawulan karena kalah perang dengan Raja Berawa dari Hutan Tulyan. Negeri itu kemudian diduduki oleh Hyang Wisnu dan kemudian dinamakan negeri Purwocarito. Hyang Wisnu menjadi Raja di Negara itu.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Purwocarito
  • Empu Sunggata (412 Saka) : mengabdi pada  Prabu Sri Kala di Purwocarito.
  • Empu Janggito : mengabdi pada Prabu Watugunung yang menggantikan kedudukan mertuanya Maharaja Kano.
  • Empu Dewayasa (422 Saka) : mengabdi pada Prabu Basupati di Wiratha.
  • Empu Mayang (725 Saka) : mengabdi pada Prabu Drestarasto di Astinapura.
  • Empu Sarpadewa (1062 Saka) : mengabdi pada Prabu Sri Maha Punggung.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Kediri 
  • Empu Yamadi (1082 Saka) adalah adik dari Empu Bratadiluwih, mengabdi pada Prabu Gendrayana di Mamenang Kediri.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Pengging (Kuno)
  • Empu Gandawisesa (1094 Saka) : mengabdi pada Raja Citrasoma di Pengging.
Empu Keris Pusaka pada Jaman Keraton Jenggala 
  • Empu Jangga (1119 Saka) : mengabdi pada Prabu Lembu Amiluhur di Jenggala.

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Empu Keris Pusaka pada Jaman Kerajaan Pajajaran
  • Empu Windusarpa : oleh Prabu Kuda Laleyan ia diperintahkan membuat keris dapur Brojol dan Bethok (1170 Saka) disamping membuat duplikat (putran) pusaka-pusaka buatan sebelumnya.
  • Empu Andayasangkala : merupakan anak dari Windusarpa, Keris Pusaka buatannya berwatak keras dan sering dipergunakan untuk membunuh musuh. Oleh Prabu Banjaransari, Empu ini diperintahkan membuat Keris Pusaka dhapur Tilamupih dan Parungsari (1186 Saka) disamping membuat putran yang sudah ada.
  • Empu Kajatsari : merupakan anak dari Andayasangkala, oleh Prabu Mundingsari ia diperintahkan membuat keris dhapur Sinom dan Wora-wari (1228 Saka) disamping membuat duplikat keris-keris yang sudah ada.
  • Empu Kajatjatiwasesa : merupakan anak sulung dari Kajatsari.
  • Empu Bramakedhi atau Brahmakendhi : merupakan anak kedua Kajatsari.
  • Empu Kekep : seperti Empu Bramakedhi, dalam membuat Keris Pusaka, Empu ini selalu mengerjakan di lautan. Konon percikan apinya dapat menimbulkan penyekit cacar, sedangkan debunya dapat menyebabkan bisul cacar air dan gabagen/campak. Menurut kepercayaan kuno, penderita penyakit tersebut harus memanggil Empu Kekep da Empu Bramakendhi untuk menyembuhkannya.
  • Empu Anjani : merupakan anak Bramakedhi, terkenal suka bertapa di puncak gunung. Prabu Gandakusuma atau Sri Pamekas di Pajajaran memerintahkannya untuk membuata duplikat dari Keris dhapur kuna dan menciptakan keris dhapur Jalakngore dan Caritakalenthang (1260 Saka).
  • Empu Marcukundha, Empu Manca dan Kuwung : ketiganya pernah mengabdi pada Prabu Siyungwanara atau Maharaja Sakti di Pajajaran. Marcukundha membuat tombak dhapur Sigarjantung, Gereh Pethek, Ron Pring, Barengkeng dan Prajurit. Semua tanpa pamor, hanya besi dan baja, sifatnya ampuh meskipun tidak disepuh.
  • Empu Sanggabumi : merupakan anak sulung dari Marcukundha yang berkelana di tanah seberang dan kemudian menetap di Minangkabau. Karyanya berupa pedang Minangkabau yang sangat ampuh. 
  • Empu Manca : merupakan anak kedua dari Empu Marcukundha, buatannya berupa pedang, golok, towok dan panguntik. Semua berpamor Beras Wutah dan halus sekali, Semuanya disepuh dilat dan amat ampuh.
  • Empu Kuwung : merupakan anak dari Empu Manca, wajahnya tampan. Hasil karyanya biasanya juga cantik. Besinya ngelar glathik atau seperti kaca. Bersama Empu Manca, dia diperintahkan membuat putran pusaka kuna-kuna dan membuat Keris Pusaka dhapur Jangkung dan Pandhawa Cinarita (1284 Saka).  
  • Empu Hangga  atau sering disebut Hangga Tapan karena tinggal di Desa Tapan. Hasil karyanya semua kering seperti dijemur dan nglugut (seperti kawat-kawat halus). Suatu hari ia mendapat bisikan untuk membuat Keris di lautan dan berganti nama menjadi Empu Singkir. Hal itu terjadi di Jaman Majapahit, beliau diperintahkan semingkir dari rumahnya. Keris buatannya bertuah menolak api dan air. Ia pernah diperintahkan membuat keris dhapur Jala Sangu Tumpeng, Jalak Sumelang Gandring, Mangkurat dan Mangkunegoro (1303 Saka).
  • Empu Keleng : Empu Keleng kemudian disebut Empu Kasa, anak ketiga Empu Manca. Keris buatannya nglugut dan pamornya patah-patah/nungkak. 
  • Empu Keleng juga disebut Wanabaya di Pituruh atau Empu Kasa di Madura. Merupakan adik dari Empu Kuwung. Semua keris nyatanpa pamor, hanya besi dan baja (kelengan). Sewaktu Muda Ia masuk dalam jaman Pajajaran. Keris buatannya berdhapur Sempana dan Jangkung. Ganja mengkurep, tengah bilang diolah bersih. Tombak karyanya : Ron Pring. Ron andhong, Gereh Pethak, Sigar Jantung dan Banyak Angrem. Walaupun tanpa pamor tetapi sangat ampuh, dewasa ini sulit menemukan karya Empu Keleng.
  • Empu Nimbok Sombro : merupakan Empu wanita yang cantik, anak perempuan Empu Manca. Pembuatan tosan aji tanpa api dan peralatan pandai besi. Karya Kerisnya berupa  dhapur Jalak Ngore, Tilam Upih, Sinom, Sepokal. Kebo Teki, Kebo Lajer, ciri-cirinya : ganja mengkurep, gandhik pendek, dhapur yang terkenal : dhapur brojol dengan bekas-bekas pijitan jari dan pesi utiran dengan lubang  di ujungnya. 

Empu-Empu Keris Pusaka Keraton

Empu Keris Pusaka Pada Jaman Kerajaan Majapahit
Sebagian Besar Kerajaan Majapahit merupakan Empu dari Kerajaan Pajajaran dan Empu Wanabaya/Pituruh. Berikut Empu Keris Pusaka pada Jaman Kerajaan Majapahit : 
  • Empu Jigja di Mojolangu, putera Empu Singkir. Hampir semua buatanya mempunyai pesi ngandel meteng. Dhapur keris yang dibuat : Sempaner, Paniwen, Pendhawa, Brojol. Besinya halus dan berpamor. Warnanya hitam seperti ular dumung (Hitam). Ganja menngkurep, sangat ampuh. Jika tombak berdhapur : Kudhup, Totog, Cekel, Sadak Upas, Pecoksahang. Tosan Aji karyanya berwatak ampuh.Yang ketempatan selalu didekati rejeki dan keberuntungan.
  • Empu Angga atau Tapan atau Singkir atau Mendhe, berasal dari Pajajaran. Keris Tilam Upih karyanya berciri gandhik panjang besar (landhung). Ganja pendek, kanan kiri diberi alur (Kruwingan). Pesi pipih. Empu ini terkenal membuat Keris Singkir Air maupun Api. Kebanyakan tosan aji singkir karyanya ini pendek, banyak yang panjangnya hanya satu jengkal saja atau kurang. Tetapi terkenal ampuh.
  • Empu Dhomas : merupakan Empu kraton Majapahit jaman Brawijaya V (1429 Saka) membuat keris dhapur Panimbal, Jaruman, Sepokal, Nagasasra, Butoijo, Mendarang, Sabuk Inten dan Anoman. Ada yang menduga istilah Dhomas dimaksud sebagai kumpulan Empu.
  • Empu Sedhah : merupakan anak dari Empu Kalunglungan dari Blambangan.
  • Empu Supomadrangi : merupakan anak dari Empu Sodhah, kemudian lebih terkenal dengan sebutan Empu Supo atau Empu Jakasupa I, di kemudian hari diangkat menjadi Pengeran Sendhang Sedayu. Empu Supomadrangi juga dikenal dengan sebutan Ki Pitrang di Blambangan. Jadi Supo merupakan Supomadrangi merupakan Jakasupa I merupakan Pangeran Sendhang Sedayu merupakan Ki Pitrang (Blambangan). Jakasupo I beradik Kebodhag dan Supogati. Waktu muda Jakasupa I bertapa di Tuban. Alkisah Prabu Brawijaya sangat sedih karena kehilangan keris Kanjeng Kyai Sumelanggandring sewaktu penyerbuan di Pajajaran. Keris Pusaka itu terbawa oleh Prabu Bayu Sangara dari Blambangan. Raja Brawijaya kemudian memerintahkan mengumpulkan para Empu setanah Jawa, namun tidak ada yang sanggup menemukan Keris Pusaka yang hilang tersebut. Kemudian Jakasupa I diperintahkan mencari dan jika berhasil dijanjikan mendapatkan tanah seluas 500 karya di Tuban dan mendapatkan Puteri Keraton, disamping itu mendapatkan gelar Pangeran. Dalam perjalanannya, Jakasupa ditemani adiknya Supagati dan berganti nama menjadi Ki Pitrang. Mereka berdua sewaktu menuju Blambangan, juga membuat keris dhapur Pandhawa, Sempaner, Carangsoka dan Tilam Upih. Setibanya di Blambangan, ia disebut juga Empu Rambang karena membuat tosan aji di lautan. Rambang berhasil membuat duplikat Kanjeng Kyai Sumelanggandring yang berada di Keraton Blambangan sebanyak 2 buah. Yang tiruan dihaturkan kepada Sang Raja, sedangkan yang asli dibawa pulang Kerajaan Majapahit. Raja Blambangan karena puas menghadiahi Jakasupa I dengan adik perempuannya yang bernama Raden Ayu Upas. Sewaktu hamil 7 bulan, Ia di tinggal pulang ke Kerajaan Majapahit. Setiba di Majapahit, keris pusaka asli itu dikembalikan ke Prabu Brawijaya. Jakasupa kemudian diberi hadiah puteri da tanah di Sedayu. Ia diangkat menjadi pangeran dan kemudian bergelar Pangeran Sendhang Sedayu. Karya Empu Sedayu alias Jakasupa I ini berciri indah tetapi wingit, berpamor sanak, halus, berguwaya lungid hitam, terkadang jika luk kemba (hambar).
  • Empu Supogati : merupakan adik dari Jakasupa I yang ikut ke Blambangan. Sepulang dari sana, Ia mendapat hadiah seorang puteri dan tanah seluas 100 karya dan diberi pangkat mantri. Beliau bermukim di Majapahit dan diberi sebutan Empu Supadi.
  • Empu Jakasura : merupakan anak dari Jakasupa I ketika di Blambangan, kemudian menyusul ayahnya di Majapahit. Sepanjang perjalanan Ia membuat keris dhapur bethok yang diberi lubang agar dapat di renteng dengan tali. Ia berhasil bertemu dengan ayahnya di Sedayu dan diabadikan ke Keraton Majapahit.
  • Empu Dana : merupakan anak dari Empu Pethet. Hanya membuat pedang berpamor tambal.
  • Empu Wanawasa : merupakan anak dari Empu Dana yang kemudian pindah ke Cirebon di Jaman Majapahit. Hanya membuat pedang-pedang pendek.
  • Empu Sokawiyana : merupakan anak dari Empu Wanawasa yang berdiam di Karang. Keryanya hanya berupa pedang pendek, bengkok tetapi sangat tajam. Model pedang ini kemudian ditiru dengan ukuran lebih besar yang kemudian terkenal dengan nama dhapur Sokayana (Sokawiyana).
  • Empu Wangsa di Tembayat pindah dari Tuban. Hidup di jaman Majapahit. Hanya membuat keris Tilam Upih dan Tombak. Anaknya dua : Wanagati dan Surawangsa.
  • Empu Gedhe di Bayumas, merupakan anak dari Empu Loning di Jaman Majapahit. Karyanya berupa keris dhapur Balebang, Brojol, dan Tilam Upih. Ganja : mengkurep, Pemor : penuh, semuanya putih, Besi : Putih, mirip karya Sombro. Jika tombak : dhapur ron pring, sigar jantung, gereh pethek. Diberi menthuk seperti angkup kelopak (kuncup bunga). Sangat bagus untuk pemimpin pamong praja dan militer. Dijaman Sultan Agung, tombak ini banyak disarasah dengan emas.