Tampilkan postingan dengan label Tata Cara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tata Cara. Tampilkan semua postingan
Keris Pusaka Tindih untuk Meredam Keris Pusaka Lain yang Agresif

Keris Pusaka Tindih untuk Meredam Keris Pusaka Lain yang Agresif

Keris Pusaka Tindih untuk Meredam Keris Pusaka Lain yang Agresif - Orang-orang yang memiliki sebuah benda gaib umumnya menginginkan adanya tuah yang melindungi dirinya dan keluarganya dari adanya gangguan/serangan gaib. Yang dimaksudkannya biasanya adalah gangguan / ancaman yang datangnya dari luar, tetapi tidak terpikirkan olehnya untuk melindungi dirinya dan keluarganya dari ancaman / gangguan yang berasal dari dalam, dari benda-benda koleksinya sendiri.


Sehubungan dengan itu dalam dunia perkerisan jawa ada dikenal istilah Keris Tindih.

Yang dimaksud  Keris Tindih  adalah sebuah keris atau benda pusaka yang memberikan tuah, selain tuah utama kerisnya, juga memberikan tuah untuk meredam gangguan/keanehan gaib dan pengaruh negatif dari benda-benda gaib lain.
Menurut perkataan para praktisi/pemerhati perkerisan yang tergolong keris tindih biasanya adalah keris-keris yang dibuat pada jaman kerajaan hindu/budha purba. Jadi keris itu sudah berusia tua sekali. Contohnya adalah keris dapur bethok.

Menurut pengetahuan Penulis, keris tindih adalah keris yang selain mempunyai tuah sendiri seperti keris-keris yang lainnya, tetapi juga mempunyai kegaiban untuk meredam keanehan gaib keris/jimat/benda bertuah lain. Keris itu melakukannya dengan wibawanya, bukan dengan kesaktiannya. 

Tidak peduli seberapa tinggi kesaktian keris-keris dan benda gaib lain, ia menundukkannya dengan wibawanya, wibawa seperti seorang tua yang dihormati oleh orang lain, bukan dengan kesaktiannya. Jadi disini tidak terjadi perbenturan kesaktian, tetapi adu wibawa. 

Yang menentukan sebuah keris apakah merupakan keris tindih atau bukan adalah kekerasan watak dan wibawanya yang bisa menundukkan perilaku gaib lain yang tidak selaras dengannya, tidak ditentukan oleh tua kerisnya atau tingginya kesaktiannya.

Hal ini bisa diumpamakan seperti suasana di dalam kelas SMA yang murid-muridnya bandel, ribut, ngobrol sendiri, main sendiri, bercanda berlari-larian, sekalipun di kelas itu ada seorang guru. Ini terjadi karena sang guru tidak cukup punya wibawa untuk menundukkan murid-muridnya. Namun bila ada guru yang memiliki wibawa besar, yang dihormati oleh para murid, pasti suasana kelas akan tertib dan teduh. Apalagi kalau gurunya galak (killer).

Dalam kejadian di atas tidak ada adu kesaktian. Yang ada adalah adu wibawa. Belum tentu secara fisik sang guru lebih kuat dibanding murid-muridnya. 

Apalagi kalau dikeroyok. Mungkin juga di antara para murid ada yang berbadan besar / kuat, namun dia tidak bisa mengendalikan suasana kelas. 

Mungkin tidak punya keberanian / wibawa untuk mengendalikan teman-temannya. Mungkin juga karena dia termasuk yang membuat kegaduhan. Namun dengan wibawanya, sang guru bisa menundukkan murid-muridnya yang mungkin lebih muda dan kuat dan jumlahnya banyak. Selain itu, ia juga dihormati oleh guru-guru lain yang usianya lebih muda maupun yang lebih tua.

Keris Tindih tidak ditentukan oleh kesaktiannya atau tua usianya. Sifat keris tindih ditentukan oleh sifat gaib di dalam kerisnya yang bisa meredam perilaku negatif atau gangguan gaib. Dengan demikian yang tergolong sebagai keris tindih bisa keris apa saja asalkan sifat gaibnya sesuai dengan pengertian keris tindih. Namun untuk mengetahui keris yang mana yang merupakan keris tindih, tidak mudah untuk menentukannya. Kita harus belajar mengerti sifat dan perilaku gaib dari masing-masing keris. Salah satunya adalah dengan jalan : Menayuh Keris.

Keris Bethok
Keris Tindih juga tidak ditentukan oleh jenis tuah kerisnya, misalnya keris yang bertuah untuk kesaktian, kekuasaan, kewibawaan, atau tuah untuk melindungi pemilik keris dan keluarganya dari marabahaya, dsb. Keris-keris semacam itu mungkin melindungi si pemilik dari gangguan / ancaman yang datangnya dari luar, tetapi tidak melindungi dari ancaman / gangguan yang berasal dari dalam, dari benda-benda koleksinya sendiri.

Secara alami, keris-keris yang lebih muda umurnya akan menghormati keris-keris yang lebih tua umurnya. Itu adalah tata krama dalam dunia gaib perkerisan. Tetapi belum tentu keris yang sakti atau tua umurnya adalah keris tindih. Seperti dalam contoh anak sekolah di atas, jarang sekali ada seorang murid, walaupun berbadan besar dan kuat yang mampu meredam / memaksa murid-murid atau teman-temannya untuk tertib. Juga tidak semua guru yang sudah tua umurnya menjadi guru yang dihormati / ditakuti oleh murid-muridnya. Karena itu sifat sebuah keris sebagai keris tindih jarang sekali ditemui dan merupakan sebuah sifat alami yang khusus.

Keris tindih ini sangat baik sekali jika digunakan mendampingi bepergian ke tempat-tempat angker / wingit, karena walaupun mungkin kekuatan gaibnya kalah kuat dengan gaib-gaib yang ada di sekitarnya, tetapi dengan wibawanya keris itu dapat meredam niat mahluk-mahluk halus di sekitarnya yang akan mengganggu tuannya.

Tuah dari keris tindih ini juga melunturkan (meredam) perilaku jimat / pusaka dan khodam ilmu / pendamping yang bersifat agresif dan menonjolkan kesaktian dan kegagahan.

Menurut pengamatan Penulis, kebanyakan keris tindih adalah keris-keris lurus yang dulu dibuat di Jawa Tengah. Biasanya fisik kerisnya tebal dan berat dengan bentuk yang sederhana. Kebanyakan keris tindih itu memiliki kekuatan gaib di atas kesaktian gaib Ibu Ratu Kidul. Wataknya keras, berwibawa dan berkuasa, dan berenergi besar, sehingga mampu menindih energi dan perilaku gaib-gaib lain yang tidak sejalan dengannya.

Untuk mudahnya berikut ini disebutkan beberapa contoh benda gaib yang  mungkin  bisa disamakan dengan keris tindih, tetapi contoh-contoh ini tidak bersifat pasti, karena sifat-sifat keris tindih tidak ditentukan dari bentuk bendanya atau tua umurnya, tetapi dari sifat-sifat gaibnya yang berwatak keras dan berwibawa, sehingga harus diperiksa bendanya satu per satu. Ini hanya perkiraan sederhana saja barangkali kita memiliki salah satunya. 

Contoh keris tindih adalah seperti disebutkan di atas, yaitu keris bethok (tetapi tidak semua keris bethok adalah keris tindih).

Kebanyakan keris tindih adalah keris-keris lurus, bukan keris ber-luk, yang dulunya dibuat di Jawa Tengah. Biasanya fisik kerisnya tebal dan berat dengan bentuk yang sederhana. Kualitas tempaan logamnya juga biasanya tidak istimewa.

Contoh lain keris tindih adalah keris dengan dapur banyak angrem (yang sudah berumur tua). Biasanya adalah yang fisik kerisnya tebal dan berat. Isi gaib keris berdapur banyak angrem itu mempunyai karakter yang mirip dengan karakter Dewa Semar, sepuh dan berwibawa.

Benda bertuah lain yang memiliki karakter serupa dengan keris tindih adalah mustika keong buntet yang kualitasnya kelas 1, yang berwarna hitam, yang bisa untuk kekebalan, dari hasil penarikan gaib yang sempurna.


Jika koleksi pusaka dan benda gaib kita terawat dan tercukupi sesajinya biasanya benda-benda kita itu tidak akan berbuat negatif, malah akan memberikan tuahnya, apalagi kalau sudah ada keselarasan dengan kita pemiliknya, sehingga kita tidak membutuhkan adanya keris tindih.

Keris Tindih lebih dibutuhkan oleh pengkoleksi pusaka dan benda gaib yang benda-benda koleksinya itu kurang terawat, atau kurang rutin sesajinya, yang biasanya hanya disimpan saja di ruang pusakanya atau orangnya hanya sekedar memiliki saja, atau bendanya hanya menjadi benda pajangan saja, tidak diperhatikan sisi perawatan dan sesajinya dan tidak ada keselarasan dengan manusia pemiliknya. 

Keris tindih lebih diperlukan oleh orang-orang yang memiliki banyak pusaka yang lebih banyak bersifat koleksi saja, menjadi barang simpanan saja, yang orangnya tidak ada kedekatan batin dengan pusaka-pusakanya, sehingga kalau ada tanda-tanda tertentu dari pusaka-pusakanya dianggap sebagai gangguan. Tapi kalau pusaka-pusaka itu belum ada kedekatan batin dengan pemiliknya, mungkin kepemilikannya atas keris tindih juga akan pasif, kerisnya tidak memberikan tuahnya.

Tapi kalau pusaka-pusaka itu terawat baik dan sudah tercukupi sesajinya, sudah ada kedekatan batin dengan pemiliknya, dan pusaka-pusakanya aktif memberikan tuahnya, mungkin keris tindih itu tidak diperlukan.

Nilai positif  keris tindih adalah dapat meredam perilaku negatif dari keris-keris dan benda gaib lain. Bila anda mengalami gangguan dari koleksi keris atau benda-benda gaib anda sendiri, misalnya keris anda suka membuat suara-suara aneh, anggota keluarga sering sakit-sakitan (sakit karena gangguan gaib), atau anda menyimpan keris yang sifatnya berbahaya bila dikeluarkan dari sarungnya, maka keberadaan keris tindih ini dapat membantu anda mengendalikan perilaku negatif keris-keris anda tersebut.

Nilai negatif  keris tindih adalah dapat meredam perilaku dari keris-keris yang mempunyai kemampuan khusus yang bisa dipertunjukkan. 

Ada beberapa keris yang memiliki kemampuan khusus yang bisa dipertunjukkan, misalnya keris singkir api yang dapat memadamkan api, atau keris singkir angin yang dapat meredakan hujan dan angin badai, atau keris anti racun yang bisa menetralkan racun dan bisa binatang. Bila di antara keris-keris anda ada yang merupakan keris tindih, maka karena wibawa dari keris tindih, keris-keris khusus tersebut tidak akan menunjukkan kemampuan khususnya lagi. 

Kebanyakan isi gaib keris tindih wujudnya seperti manusia laki-laki berbadan tinggi dan besar, wataknya keras, menonjolkan kekuatan, kesaktian dan kewibawaan, dan siap setiap saat untuk bertarung. Biasanya hawa auranya teduh, tidak panas. Sosok ini bersifat idealis, yang akan menonjolkan kekuatan, kekerasan dan kewibawaan untuk memaksakan sifat idealisnya pada perilaku berbudi pekerti dan tidak sombong.

Di mata keris tindih, kemampuan khusus keris-keris di atas bisa dianggap sebagai suatu kesombongan, dan karena idealismenya yang menolak segala bentuk kesombongan, maka keris tindih akan memaksakan kekuatan dan wibawanya untuk meredam perilaku "sombong" itu. 

Karena itu bila anda ingin keris-keris anda itu tetap menunjukkan kemampuan khususnya itu, maka keris-keris itu harus dijauhkan dari keris tindih, tidak satu ruangan dengan keris tindih. Begitu juga bila anda mempunyai benda-benda jimat atau mustika yang bertuah ampuh untuk kekuatan dan kekebalan, yang khodamnya berwatak keras dan menonjolkan kegagahan, penyimpanannya harus dijauhkan dari keris tindih.

Untuk lebih mengenal sifat-sifat karakter keris-keris jawa silakan dibaca tulisan berjudul Karakter dan Tuah Jeny Melanie.

Sumber : Javanese 2000
Pemindahtanganan & Mahar Keris

Pemindahtanganan & Mahar Keris

Pemindahtanganan & Mahar Keris - Pada awalnya sulit bagi saya pribadi untuk mengetahui seluk beluk mengenai keris. Suatu kebudayaan umumnya ditularkan secara turun temurun. Namun pada era sekarang globalisasi telah membuat banyak sekali perubahan secara cepat dan dramastis. Orang tua yang berpendapat minor mengenai keris, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan mempengaruhi sudut pandang anaknya mengenai keris. Maka tidaklah heran bila kita mendengar sebuah cerita dari seseorang yang mengatakan orang tuanya memiliki berbagai macam koleksi, tetapi akhirnya disia-siakan. Dan kita seolah-olah terbangun dari mimpi ketika negara lain membuat pernyataan bahwa keris berasal dari hasil kebudayaan mereka. Lalu hendak dibawa kemana budaya perkerisan nasional sekarang ini? Apa yang kita harapkan dari generasi mendatang terhadap budaya keris nasional?


Saya sendiri mengenal keris bermula dari keris milik orang tua seorang teman yang secara simbolis (tersirat) menceritakan filosofi kehidupan manusia yang dihubungkan dengan filosofi keris. Hal ini membuat saya pribadi menjadi bertanya-tanya, ada apa dengan budaya keris? Mengapa begitu disakralkan dan seolah-olah membuat rasa ingin tahu yang lebih banyak. Sementara orang tua saya sendiri berpandangan minor terhadap budaya keris.
Pada awal perjalanan memulai mengkoleksi keris, banyak sekali kendala-kendala yang saya alami. Banyak pihak yang memiliki sudut pandang yang beraneka macam mengenai budaya keris yang berujung pada kekecewaan saya pribadi. Walaupun saya sedikit-sedikit mulai memahami konsep budaya keris tersebut, namun hingga saat ini masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul yang saya pribadi belum merasa puas dengan jawabannya. 

Haruskah dalam memahami budaya keris harus juga memahami seluk beluk pemikiran mistis budaya Jawa?

Dari pengalaman saya pribadi ketika melepas / memindahtangankan keris ageman tidak pernah mengalami kendala. Namun bila keris tersebut termasuk keris tayuhan, maka ada saja masalah yang muncul.  Sulit diakui secara nalar, bahkan banyak orang berpendapat hal tersebut hanya bersifat sugesti semata. Misalnya pada saat saya mendapatkan pemberian secara hibah sebuah keris berdapur tilam sari, diperkirakan tangguh singosari, karena merasa kurang cocok maka saya pindahtangankan kepada seorang teman lain. Namun terdengar kabar sebulan kemudian anak kedua teman tersebut mengalami sakit muntaber yang kemudian tak tertolong. Selanjutnya, karena merasa was-was, ia menyerahkan keris tersebut kepada rekannya yang lain. Hal yang sama terjadi juga demikian, dari masalah pertengkaran keluarga, hingga ia wafat karena sakit. Apakah hal ini berhubungan dengan keris tersebut? Hingga saat ini saya tidak mengetahui keberadaan keris tersebut, namun rasa bersalah secara tidak langsung telah menghakimi saya sebagai penyebab musibah yang menimpa orang lain.

Berdasarkan pengalaman tersebut saya mencoba untuk mengetahui permasalahan dan solusi dari beberapa sumber referensi, baik buku, pengalaman rekan-rekan, maupun kolektor keris. Dari cara-cara tersebut saya mendapatkan suatu pemahaman, bahwa proses pengalihan kepemilikan sebuah keris tidaklah sama dengan konsep jual beli pada umumnya. Dan istilah mahar atau mas kawin, tidaklah sama dengan konsep harga jual sebuah benda.

Pemahaman jual beli pada umumnya berdasarkan konsep ekonomi dan hukum yang berasal dari budaya Eropa, sedangkan konsep mahar menurut konsep filosofi budaya jawa lebih menyangkut pada konsep pemikiran mistis budaya Jawa. Artinya konsep mahar bukanlah berdasarkan atas asas rasa keadilan, namun sebagai salah satu bagian tahapan ritual, dari pengalihan kepemilikan sebuah keris.

Dalam hal pemindah-tanganan sebuah keris, bagi pedagang keris dan (mungkin) kolektor keris, sebuah keris akan diserahkan kepada pemiliknya yang baru jika  ‘mahar’-nya sesuai.  Tetapi bagi user, karena ada ikatan batin antara keris dan pemiliknya, sebaiknya jangan mengambil  ‘keuntungan’ dari harga / mahar pemindah-tanganan keris. Besarnya nilai nominal sebuah keris tayuhan lebih mengutamakan rasa toleransi antara pemilik lama dengan pemilik baru dan tidaklah harus berbentuk uang.

Bagi calon pemilik keris, meminang sebuah keris baru dapat diibaratkan anda meminang seorang gadis yang akan dijadikan istri. Sebaiknya menanyakan terlebih dahulu apakah gadis tersebut merasa cocok dengan anda dan mau mengikut / menjadi istri anda. Aspek pentingnya adalah supaya kedua belah pihak sama-sama merasa nyaman dan tidak ada rasa keberatan dari pihak manapun yang mungkin akan dapat menjadi masalah di kemudian hari.

Bagi pemilik lama keris yang bersangkutan, bila sudah memutuskan untuk memindahtangankan keris tersebut kepada seseorang, sebaiknya jangan mengambil ‘keuntungan’ dari besarnya mahar yang ingin ia terima. Aspek pentingnya adalah jangan sampai ada rasa sakit hati dari pihak si keris, karena merasa dirinya ‘dijual’ dan dihargai sebesar maharnya itu.

Dari pengalaman saya, pengalihan sebuah keris tayuhan akan memberi dampak, secara langsung maupun tidak langsung, terhadap pemilik lama maupun pemilik yang baru. Mudah-mudahan keris tersebut tidak menciderai pemilik lama dan dapat selaras dengan jalan hidup pemiliknya yang baru.

Maka amat disarankan untuk menggunakan jasa ahli tanjeg dalam pengalihan sebuah keris tayuhan, untuk menilai kecocokkan sebuah keris dengan calon pemiliknya yang baru, dan mengetahui apakah keris tersebut mau dipindahtangankan kepada orang tersebut, mungkin termasuk juga untuk menilai kepantasan mahar keris tersebut.

NB* tulisan ini hanyalah pandangan subjektif dari penulis. Jika ada yang kurang berkenan maka kami mohon maaf atas kekurangannya karena keterbatasan kami.

Sumber : Willy H
Hakekat Keningratan dan Hubungannya dengan Keris

Hakekat Keningratan dan Hubungannya dengan Keris

Hakekat Keningratan dan Hubungannya dengan Keris - Sejak jaman dulu sampai sekarang orang memandang istilah keningratan hanya dari statusnya saja yang adalah anggota kalangan ningrat/bangsawan dan keturunannya saja, sehingga pada jaman sekarang ini yang orang lebih memandang segala sesuatunya dari sisi status, jabatan dan kekayaan, akan banyak menyepelekan istilah dan status keningratan. 


Jika dihubungkan dengan keris dan wahyu keris, dewa dan wahyu dewa, pengertian keningratan tidak sebatas sekedar status orangnya yang ningrat atau keturunan ningrat, tetapi lebih dari itu, ada makna yang lebih dalam daripada hanya itu, karena yang diharapkan oleh para dewa juga lebih dari pada hanya itu.
Dalam sudut pandang para dewa, yang juga terkait dengan wahyu-wahyunya yang diturunkan kepada manusia, keningratan adalah suatu kondisi status dan moral yang sepatutnya dari orang-orang di kalangan itu yang status dan derajat mereka itu menjadi teladan dan panutan bagi banyak orang di lingkungan mereka. Pengertian keningratan ini ada juga hubungannya dengan makna istilah Ksatriya dalam pengertian kasta di masyarakat.

Orang-orang yang menjadi raja / adipati / bupati, anggota keluarganya, kerabatnya dan keturunannya, dan orang-orang yang memegang jabatan pemerintahan kerajaan, kadipaten sampai lurah, umumnya diakui dan dihormati status dan wibawanya di masyarakat, menjadi orang-orang priyayi yang dihormati dan dijadikan teladan dan panutan oleh banyak orang karena perilakunya yang juga terhormat, yang kepada mereka itu orang akan antusias untuk mengabdikan dirinya.

Kalangan ningrat menjaga status dan kehormatan mereka dengan perilaku mereka yang terhormat. Tidak akan mereka menunjukkan perilaku rendah dan tidak terhormat. Perilaku suka mencuri, suka berkata-kata kotor, dsb biasanya tidak ditonjolkan. Dan mereka tidak akan ikut-ikutan masuk ke dalam lingkungan orang-orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain, lingkungan yang penuh dengan iri dan dengki, suka judi, mabuk-mabukan, pelacuran, kemaksiatan, dsb, lingkungan orang-orang yang berkepribadian rendah. Kalangan ningrat akan memelihara wibawa dan kelas pribadinya yang tinggi, menjadi orang-orang yang berkepribadian tinggi, yang baik, yang mulia dan terhormat, dengan perbuatan-perbuatan yang juga berwibawa, baik, mulia dan terhormat, cerminan dari orang-orang yang berkepribadian tinggi. 

Memang ada juga di antara kalangan ningrat itu yang tidak menjaga kehormatan. Ada yang perilakunya jelek seperti disebut di atas, perilaku-perilaku yang tidak terpuji, tidak mulia, hanya menonjolkan statusnya saja sebagai orang ningrat dan kaya. Yang seperti itu diartikan bahwa orang itu memang adalah keturunan ningrat, tetapi orangnya sendiri tidak ningrat, dan tidak menghargai keningratan (tidak menghargai keningratan dirinya sendiri). 

Kepribadiannya rendah, tidak tinggi. Derajatnya rendah sebagai seorang ningrat. 

Sejalan dengan itu yang dimaksud dengan istilah ningrat dan keningratan, dan yang terkait dengan wahyu keris, keris keningratan, dewa dan wahyu dewa, adalah orang-orang ningrat dan keturunan ningrat yang benar-benar menjaga wibawa dan derajat kepribadiannya yang tinggi sebagai seorang ningrat, yang menghargai keningratan dirinya sendiri. Itulah yang dihargai dewa, dan keris-keris keningratan diperuntukkan untuk mereka itu, bukan untuk orang-orang ningrat yang rendah kepribadiannya, yang tidak menghargai keningratan dirinya sendiri, yang keris-keris dan wahyu tidak akan antusias bersama mereka, akan lemah pengaruhnya jika dimiliki oleh mereka.

Sejalan dengan itu, kondisi ideal orang-orang ningrat (dan yang menghargai keningratan) seperti disebut di atas adalah yang dihargai dewa. Karena keris jawa bersifat wahyu, maka apapun jenis keris yang dimiliki oleh orang-orang ningrat dan keturunan ningrat dan yang menghargai keningratan dirinya sendiri itu, walaupun aslinya bukan keris keningratan, semuanya akan mewujud menjadi keris keningratan, wahyunya akan menjadi berkah baginya. 

Tetapi keris-keris itu, yang aslinya bukan keris keningratan, akan kembali lagi kepada kondisi aslinya yang bukan keris keningratan ketika berpindahtangan kepada orang lain yang bukan ningrat dan tidak menghargai keningratan.

Pada jaman sekarang ini pengertian dan istilah ningrat dan keningratan di atas, dan yang terkait dengan keris keningratan, dewa dan wahyu dewa, tetap berlaku. Istilah itu berlaku bukan untuk orang-orang yang hanya sekedar berstatus keturunan ningrat saja, tetapi untuk mereka keturunan ningrat yang menghargai keningratan dirinya sendiri, yang menjaga wibawa dan derajat kepribadiannya yang tinggi dengan perilaku dan perbuatan-perbuatan yang baik dan terhormat. Keris-keris keningratan adalah untuk mereka itu, bukan untuk orang-orang keturunan ningrat yang kepribadiannya rendah, yang tidak menghargai keningratan dirinya sendiri, yang keris-keris tidak akan antusias bersama mereka, akan lemah pengaruhnya jika dimiliki oleh mereka.

Sejalan dengan itu, apapun jenis keris yang dimiliki oleh orang-orang jaman sekarang yang keturunan ningrat dan yang menghargai keningratan dirinya sendiri, walaupun aslinya bukan keris keningratan, semuanya akan mewujud menjadi keris keningratan, wahyunya akan menjadi berkah baginya. 

Tetapi keris-keris itu, yang aslinya bukan keris keningratan, akan kembali lagi kepada kondisi aslinya yang bukan keris keningratan ketika berpindahtangan kepada orang lain yang bukan ningrat dan tidak menghargai keningratan.
Wahyu Keris Jawa di Jaman Sekarang

Wahyu Keris Jawa di Jaman Sekarang

Wahyu Keris Jawa di Jaman Sekarang - Secara umum semua keris mengandung sifat-sifat wahyu wibawa dan derajat dan wahyu spiritual / kesepuhan yang masing-masing sifat wahyunya itu akan menyesuaikan dirinya dengan orang si pemilik keris, yang akan membantu mengangkat derajat orangnya sesuai jalan kehidupannya masing-masing, baik orangnya di dalam dirinya memiliki wahyu ataupun tidak. Keris-keris itu bersifat umum, boleh dimiliki oleh orang kebanyakan.


Tetapi keris-keris di atas adalah keris-keris yang bersifat khusus, yang sifat-sifat khusus wahyu di dalamnya, wahyu keraton, kepangkatan dan derajat dan wahyu keningratan tidak bisa begitu saja diterima oleh semua orang yang menjadi pemilik kerisnya. Keris-keris itu hanya akan bekerja kegaibannya, hanya akan menyatu dan memberikan tuahnya kepada orang-orang tertentu saja yang cocok untuk menjadi wadah wahyunya.

Pada masa sekarang ini keris-keris di atas masih berfungsi dan bertuah yang sama bila keris-keris itu dimiliki oleh orang-orang yang memiliki wahyu keraton, kepangkatan dan derajat dan wahyu keningratan. Tetapi bila pemiliknya tidak memiliki wahyu-wahyu tersebut, maka keris-keris itu menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang sekarang, yaitu mewujud menjadi Keris Keningratan. 

Jadi selain yang aslinya adalah keris keningratan, keris keningratan pada jaman sekarang ini bisa adalah perwujudan dari keris di atas, di dalamnya terkandung berbagai macam jenis wahyu, baik wahyu keraton, kepangkatan dan derajat, wibawa dan derajat, spiritual dan kesepuhan, dan wahyu keningratan itu sendiri, tetapi semua wahyu itu akan mewujud menjadi wahyu keningratan saja. 

Jadi secara umum semua jenis keris tersebut di atas adalah yang pada masa sekarang disebut Keris Keningratan , yaitu keris-keris yang bersifat khusus yang hanya patut dimiliki oleh orang-orang tertentu saja yang sesuai dengan tujuan keris-keris itu diciptakan, bukan untuk orang kebanyakan.

Keris-keris di atas mau mengikut / dimiliki oleh seorang keturunan ningrat, tetapi hanya akan berlaku sebagai keris keningratan saja jika orangnya tidak memiliki wahyu keraton, wahyu kepangkatan dan derajat atau wahyu keningratan di dalam dirinya.

Masing-masing sifat wahyu di dalamnya akan menyesuaikan dirinya dengan karakter, kepribadian, status dan jalan kehidupan orang si pemilik keris, sehingga si pemilik keris tidak akan menerima keseluruhan sifat-sifat wahyunya itu, yang akan diterimanya hanyalah yang sejalan saja dengan kepribadian dan jalan hidupnya (dan interestnya).

Sebagai keris keningratan sisi kegaiban di dalamnya membawakan sifat-sifat wahyu keningratan yang akan menjadikan manusia pemiliknya tampak elegan, berwibawa dan penuh karisma keagungan. Jika sudah terjadi keselarasan dengan pemiliknya, keris-keris itu akan membantu mengangkat derajat hidup pemiliknya kepada derajat yang tinggi dan kemuliaan.

Pengertian keris keningratan tidak diartikan sebagai semua keris yang dulunya pemiliknya adalah seorang bangsawan / ningrat. Keris apapun bisa saja pemiliknya dulu adalah seorang ningrat / bangsawan, atau raja, tetapi kerisnya itu sendiri belum tentu adalah keris keningratan.

Secara sempit pengertian keris keningratan adalah keris-keris yang pembuatannya dulu hanya ditujukan untuk kalangan ningrat saja, bukan untuk orang lain yang tidak ada garis keturunan ningrat. Tetapi secara umum pada jaman sekarang ini yang tergolong sebagai keris keningratan adalah semua jenis 
Hierarki Kelas Keris Pusaka dan Wahyunya

Hierarki Kelas Keris Pusaka dan Wahyunya

Hierarki Kelas Keris Pusaka dan Wahyunya - Keris-keris yang paling tinggi bersifat khusus adalah yang disebut Keris Keraton. Keris keraton adalah keris yang paling tinggi tingkatannya dan bersifat khusus, hanya untuk orang yang memiliki wahyu keraton saja di dalam dirinya.


Pengertian keraton bukanlah semata-mata sebuah bangunan keraton yang menjadi istana raja/adipati/ bupati. Sebuah keraton melambangkan kebesaran sebuah pemerintahan. Bangunannya sendiri hanyalah simbol saja dari adanya sebuah pemerintahan. 

Pengertian keraton terbagi dalam 3 tingkatan, yaitu keraton kerajaan, keraton kadipaten dan keraton kabupaten, sehingga pengertian keraton ini meliputi, sesuai tingkatannya masing-masing, kekuasaan dan kebesaran pemerintahan sebuah kerajaan, kadipaten dan kabupaten.
Dan yang dimaksud sebagai Keris Keraton bukanlah semua keris yang dimiliki oleh sebuah keraton, bukan semua pusaka kerajaan dan bukan semua keris yang menjadi perbendaharaan sebuah keraton dan disimpan di dalam ruang pusaka kerajaan.

Keris Keraton adalah keris/tombak/payung raja atau pusaka bentuk lain yang di dalamnya terkandung Wahyu Keraton yang dalam pembuatannya khusus ditujukan untuk dipasangkan dengan wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan (wahyu keraton) yang sudah ada pada orang yang menjadi pemimpin di sebuah keraton untuk nantinya menjadi pusaka lambang kebesaran keraton tersebut (kerajaan, kadipaten/kabupaten).

Sebuah keris keraton baru akan menyatu dan memberikan tuahnya kepada seorang manusia pemiliknya yang memiliki wahyu keraton di dalam dirinya, atau kepada seorang pemiliknya yang cocok untuk menjadi wadah wahyunya.

Keris Keraton  dan  Keris Pusaka Kerajaan sulit membedakannya. 

Di dalam sebuah Keris Keraton terkandung di dalamnya apa yang disebut Wahyu Keraton. Orang harus memiliki spiritualitas yang tinggi untuk bisa membedakan kandungan wahyu di dalam masing-masing keris untuk bisa membedakan mana yang adalah Keris Keraton yang mengandung wahyu keraton di dalamnya dan mana yang bukan Keris Keraton tetapi dijadikan Pusaka Kerajaan dan diperlakukan sama seperti sebuah Keris Keraton.

Sebuah Keris Keraton tidak boleh dipakai oleh sembarang orang, termasuk walaupun ia adalah anak seorang raja. Hanya orang-orang yang dirinya sudah menerima wahyu keraton saja yang boleh memakainya, sehingga wahyu yang sudah ada di dalam orang itu dan wahyu dari kerisnya akan mewujudkan sebuah sinergi kegaiban, yang kegaibannya tidak akan bisa disamai oleh jenis pusaka apapun. 

Keris Keraton yang dalam pembuatannya khusus ditujukan untuk menjadi pusaka lambang kebesaran sebuah keraton (kerajaan, kadipaten / kabupaten), yang maksud pembuatannya ditujukan untuk dipasangkan dengan wahyu keraton atau wahyu kepemimpinan kenegaraan yang sudah ada pada diri seseorang, memiliki tuah yang luar biasa, yang tidak bisa disejajarkan dengan keris-keris yang umum ataupun jimat-jimat dan mustika. Selain biasanya kerisnya berkesaktian tinggi, tuah dan wibawanya pun tidak sebatas hanya melingkupi diri manusia pemakainya, tetapi melingkupi suatu area yang luas yang menjadi wilayah kekuasaan yang harus dinaunginya. Biasanya isi gaibnya juga adalah raja dan penguasa di alamnya. Karakter isi gaibnya menyerupai perwatakan wahyu keprabon yang menjadikan para mahluk halus dan manusia di dalam lingkup kekuasaannya menghormati si keris dan si manusia sebagai pemimpin dan penguasa di wilayah itu.

Contoh Keris Keraton adalah Keris Nagasasra dan Keris Sabuk Inten, sepasang keris yang dulu menjadi lambang kebesaran keraton Majapahit. 

Setelah masa kerajaan Majapahit berakhir dan kekuasaan pemerintahan berpindah ke kerajaan Demak, sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten juga diambil dan dipindahkan ke Demak, dijadikan lambang kebesaran kerajaan Demak, tetapi sayangnya, di Demak itu wahyu kerisnya tidak bekerja.

Contoh pusaka yang dijadikan Pusaka Kerajaan adalah pusaka Bende Mataram yang dulu digunakan oleh kerajaan Mataram (Panembahan Senopati) untuk menaikkan semangat tempur prajurit Mataram, sekaligus ditujukan untuk merusak psikologis musuh, pada saat tentaranya berperang melawan tentara kerajaan Pajang (Sultan Adiwijaya).

Contoh Pusaka Kerajaan lainnya adalah pusaka tombak Kyai Plered yang dijadikan pusaka lambang kerajaan Mataram, sebuah pusaka yang dulu diberikan oleh Adipati Adiwijaya (Sultan Adiwijaya) kepada Sutawijaya sebagai bekal untuk mengalahkan Raden Arya Penangsang, yang kemudian mengantarkan Sutawijaya menjadi penguasa Mataram (Panembahan Senopati).


Keris Keraton mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton. 

Sesuai sebutannya sebagai Keris Keraton, keris-keris itu mengandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton, yaitu wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan, yang akan dapat mengantarkan si manusia pemilik keris kepada posisi yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja / kepala negara, atau kepala daerah, sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya). 

Keris-keris keraton ini sulit dibedakan jika kita hanya melihat bentuk fisiknya saja, karena hanya bisa diketahui dengan memeriksa kandungan wahyu keris di dalamnya. Karena itu orang harus memiliki spiritualitas yang tinggi untuk bisa membedakan kandungan wahyu di dalamnya, untuk bisa membedakan mana yang sungguh-sungguh keris keraton dan mana yang bukan, walaupun bentuk kerisnya sama.

Sampai sekarang keris-keris keraton tetap menjadi keris keraton, yaitu keris-keris yang mengandung di dalamnya wahyu keraton, wahyu kepemimpinan pemerintahan / kenegaraan, yang akan dapat mengantarkan si manusia pemilik keris kepada posisi dan derajat yang tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja / kepala negara (presiden) atau kepala daerah (adipati / bupati), sesuai masing-masing kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya).

Tetapi sebuah keris keraton hanya akan bekerja kegaibannya, baru akan menyatu dan memberikan tuahnya, kepada seorang manusia pemiliknya yang sudah memiliki wahyu keraton di dalam dirinya. 

Tetapi pada masa sekarang ini jenis keris keraton mau juga mengikut / dimiliki oleh seorang keturunan ningrat, tetapi hanya akan berlaku sebagai keris keningratan saja, bukan lagi keris keraton, jika orangnya tidak memenuhi syarat sebagai seorang pemilik keris keraton. 

Di bawah tingkatan keris keraton adalah keris-keris lain yang mengandung di dalamnya apa yang disebut wahyu kepangkatan dan derajat, yaitu wahyu yang akan dapat mengantarkan manusia si pemilik keris kepada posisi / derajat yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat atau daerah sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya). Keris-keris itu selain akan menaikkan pangkat dan jabatan orangnya juga supaya orang si pemilik keris dalam setiap aktivitas / pekerjaannya mendukung orang lain atasannya si penerima wahyu keraton.


Sifat-sifat wahyu kepangkatan dan derajat itu selain wahyu itu akan menaikkan derajat orangnya sendiri, juga akan membantunya memperlancar urusan-urusan kepemimpinan dan akan juga menaikkan derajat / martabat orang atasannya si penerima wahyu keraton di mata umum.

Keris-keris yang mengandung wahyu kepangkatan dan derajat ini juga sulit dibedakan jika kita hanya melihat bentuk fisiknya saja, karena hanya bisa diketahui dengan memeriksa kandungan wahyu keris di dalamnya.

Secara umum keris-keris dan pusaka yang mengandung wahyu kepangkatan dan derajat ini adalah keris-keris yang dulu menjadi keris raja atau menjadi pusaka kerajaan, dan pusaka kerajaan / kadipaten / kabupaten berbentuk tombak dan payung yang biasanya diletakkan berdiri di belakang singgasana. Dalam kategori ini termasuk juga, sesuai tingkatannya masing-masing, pusaka-pusaka keris, tombak dan payung yang menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran seorang bangsawan yang memiliki status dan jabatan di dalam lingkungan kerajaan, kadipaten, kabupaten, kademangan, dsb.

Keris-keris yang mengandung di dalamnya wahyu kepangkatan dan derajat akan dapat mengantarkan manusia pemiliknya kepada posisi / jabatan yang tinggi setingkat menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat atau daerah sesuai kelas dan peruntukkan kerisnya (sesuai tingkatan wahyu kerisnya). Tetapi keris-keris itu hanya akan bekerja kegaibannya jika sudah berada di tangan orang-orang tertentu saja yang sudah memiliki wahyu kepangkatan dan derajat atau wahyu keningratan di dalam dirinya.

Jika sudah berada di tangan orang-orang yang tepat sesuai peruntukkan kerisnya keris-keris itu akan dapat mengantarkan orang-orang itu kepada pangkat dan derajat yang tinggi menjadi tangan kanan atau bawahan langsung dari orang si penerima wahyu keraton. 

Tingkatan di bawahnya lagi adalah Keris Keningratan, yaitu keris-keris lain yang tujuan pembuatannya dulu adalah hanya untuk dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan/bangsawan, bupati/ adipati (kalangan ningrat) dan keturunannya saja. Sampai sekarang pun keris-keris keningratan akan bekerja kegaibannya hanya bila dimiliki oleh orang-orang keturunan ningrat saja.

Keris keraton adalah keris keningratan yang paling tinggi tingkatannya dan bersifat khusus, hanya untuk orang yang memiliki wahyu keraton saja di dalam dirinya. 

Keris keningratan adalah turunan dari keris keraton (derajat yang lebih rendah daripada keris keraton). Keris keningratan lebih bersifat umum, boleh dimiliki oleh siapa saja sepanjang dirinya adalah ningrat atau keturunan ningrat.

Sebagai keris keningratan sisi kegaiban di dalamnya membawakan sifat-sifat wahyu keningratan yang akan menjadikan manusia pemiliknya tampak elegan, berwibawa dan penuh karisma keagungan. Jika sudah terjadi keselarasan dengan pemiliknya, keris-keris itu akan membantu mengangkat derajat hidup pemiliknya kepada derajat yang tinggi dan kemuliaan.
Hierarki Status dan Kelas Jeny Melanie

Hierarki Status dan Kelas Jeny Melanie

Hierarki Status dan Kelas Jeny Melanie - Sesuai status pemiliknya di masyarakat, keris mempunyai status dan kelas sendiri-sendiri. Keris mempunyai status dan kelas sendiri-sendiri, sebagiannya merupakan keris-keris khusus yang secara umum pada masa sekarang masuk dalam kategori Keris Keningratan sebagai berikut :


1. Keris Pusaka Kerajaan.
Tingkatannya :
  • Keris Keraton, adalah keris-keris dan pusaka-pusaka bentuk lain (tombak, payung raja) yang terkandung di dalamnya apa yang disebut sebagai Wahyu Keraton yang maksud dan tujuan pembuatannya dikhususkan untuk nantinya dipasangkan dengan orang si penerima wahyu keraton, untuk menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran sebuah keraton.
  • Keris / Pusaka Kerajaan, adalah keris dan pusaka-pusaka lain yang bukan keris keraton, tidak mengandung Wahyu Keraton, tetapi oleh pemerintahan kerajaan diperlakukan seperti keris keraton, dijadikan lambang kekuasaan dan kebesaran kerajaan atau diandalkan untuk mengamankan kerajaan dari gangguan kerusuhan, pemberontakan atau serangan / gangguan gaib.
Keris-keris dan pusaka tersebut di atas biasanya disimpan di dalam ruang khusus pusaka kerajaan dan tempatnya disendirikan, terpisah dari pusaka-pusaka yang lain dan baru akan dikeluarkan bila ada upacara-upacara kerajaan atau bila terjadi situasi yang mendesak dan berbahaya. 

Keris keraton dan pusaka kerajaan berbentuk tombak dan payung raja, yang juga merupakan lambang kebesaran sebuah keraton biasanya diletakkan berdiri di belakang singgasana raja.

Dalam kategori keris keraton dan pusaka kerajaan ini termasuk juga, sesuai tingkatannya masing-masing, pusaka-pusaka yang menjadi lambang kekuasaan dan kebesaran sebuah keraton kadipaten / kabupaten.

2. Keris Raja.  
Keris raja ada 3 macam, yaitu : 
  • keris yang menjadi pegangan / piyandel sang raja sehari-hari (bersifat pribadi dan dipakai oleh sang raja sehari-hari). 
  • keris yang merupakan keharusan untuk dimiliki oleh seorang raja (biasanya dikenakan dalam upacara-upacara kerajaan). 
  • keris yang diberikan / dipersembahkan oleh orang lain kepada raja.

Selain yang sehari-harinya dikenakan oleh sang raja, keris-keris lainnya disimpan dalam ruang pusaka kerajaan.

3. Keris Keningratan.

Keris-keris ini adalah yang secara khusus dibuat hanya untuk kalangan ningrat saja, bukan untuk orang umum, yang hanya boleh dimiliki oleh raja, keluarga raja dan kerabat kerajaan, bangsawan adipati / bupati dan anggota keluarganya saja (kalangan ningrat) dan keturunan mereka. 

Keris keningratan adalah turunan dari keris keraton (derajat yang lebih rendah daripada keris keraton), tetapi keris keningratan lebih bersifat umum, boleh dimiliki oleh siapa saja sepanjang dirinya adalah kalangan ningrat. Selain mereka itu bahkan menteri kerajaan, panglima, senopati dan prajurit, tumenggung, demang dan lurah, dan orang-orang kaya, yang tidak memiliki garis kebangsawanan / keningratan dan bukan kerabat kerajaan, tidak boleh memilikinya, apalagi rakyat biasa.

Ada jenis-jenis keris keningratan yang dibuat dengan memiliki bentuk / tanda tersendiri untuk mencirikan statusnya yang adalah keris keningratan, seperti keris-keris berdapur nagasasra dan keris-keris berdapur Singa Barong, keris pandawa dan keris pulanggeni luk 5, dan keris-keris / tombak lain yang ber-luk lima.

Keris-keris berdapur nagasasra hanya patut dimiliki oleh seorang raja dan anggota keluarga raja saja. Keris-keris berdapur singa barong untuk kelas di bawahnya, yaitu untuk adipati / bupati dan keluarganya.
Keris untuk Presiden

Keris untuk Presiden

Keris untuk Presiden - Anak Agung Gde Waisnawa Putra ingin menularkan tradisi keris kepada  orang banyak. Maka, ia merancang satu keris mewah untuk presiden. Ia juga mencarikan pusaka keris untuk pura serta menghibahkan keris kepada ratusan pecalang dan ketua adat di Bali.
Anak Agung Gde Waisnawa Putra
Anak Agung Gde Waisnawa Putra
Pada 2011, tiga tahun sebelum masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berakhir, terbesit di benak Anak Agung Gde Waisnawa Putra membuat keris untuk presiden. "Waktu itu, sosok Jokowi belum muncul sebagai tokoh nasional, ia masih Wali Kota Solo. Tetapi, pasti 2014 RI bakal memiliki presiden baru lantaran SBY sudah dua kali menjabat, "tutur penglingsir (tetua) dari Puri Gianyar, Bali -  garis keturunan Raja Bali di zaman kerajaan Gelgel - itu.

Keris yang dia rancang  untuk presiden baru ini ditempa dan digarap Empu muda dari Madura, Empu Jamil. Namanya "Keris Garuda Murti" atau Garuda yang berubah wujud. Keris dengan relief kepala garuda di gandhik (bagian depan bilah bawah), tetapi berbadan singa.

Anak Agung menceritakan makna keris itu. Menurut dia, Garuda adalah pengejawantahan sosok NKRI. Kala itu, NKRI sedang lemah, beberapa daerah ingin memerdekakan diri, Aceh dan Papua. "Pemerintah yang lemah (Garuda) perlu didukung kekuatan rakyat, yang diwujudkan dengan badan singa. Garuda Murti adalah perwujudan dua kekuatan menyatu," ungkap Anak Agung, di Puri Anyar Saraswati, istana kecil bagian dari Puri Gianyar, Bali, awal Juli lalu.

Jadilah sebuah sosok keris kekar berkelok (luk) sembilan yang ia sebut sebagai keris yang bergaya Nusantara, perpaduan berbagai unsur daerah di Indonesia. "Perancangnya Bli, tempaan Madura. Sarung (warangka) Bali jenis kojongan dari bahan kayu cendana NTB, dihias kinatah (tatahan di Yogyakarta, tetapi bahan emas asal Palembang. Mata Garuda terbuat dari intan Martapura," katanya.

Sosok keseluruhan kerisnya gagah. Sarungnya berhiaskan relief sunggingan (teknik lukisan wayang) menggambarkan adegan Ramayana, saat Garuda Jatayu menyambung nyawa, menyelamatkan Dewi Sinta - istri Prabu Ramawijaya - dari cengkeraman raksasa Rahwana, penculiknya. Akan tetapi, setelah keris bergagang emas Narasinga (awatara atau avatar Wisnu yang turun ke bumi sebagai penyelamat) ini selesai dibikin, keris itu tak berhasil diserahkan kepada presiden RI yang baru, Joko Widodo (2014), karena berbagai kendala. "Saya tak punya akses ke lembaga kepresidenan, juga ada ketakutan kalau-kalau presiden baru (kala itu) dituding suara miring dapat gratifikasi jika menerima keris ini," kata Anak Agung.

Alhasil, keris mewah yang dibuat untuk presiden itu masih disimpan Anak Agung di Puri Anyar Saraswati di Gianyar Bali.

Pelestarian Budaya

Konsep pelestarian budaya keris bagi Anak Agung adalah bagaimana menularkan budaya warisan nenek moyang ini kepada orang sekitar. Apa yang dilakukannya? Sejak lebih dari satu dasawarsa, ia rajin "menarik balik" keris-keris Bali yang bertebaran di sejumlah tempat di Indonesia atau pun luar negeri." Boleh dikata, 99 persen dari (ratusan) koleksi saya datang dari luar Bali. Banyak di antaranya dari Jakarta atau dari lelang keris luar negeri, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman dan Amerika," tuturnya.

Tahun lalu, misalnya, ia menawar keris melalui lelang internet dari Israel. Namun karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, keris luk 19 dan luk 9 yang berhasil dibelinya dari sebuah balai lelang Israel itu dikirim ke Indonesia melalui London. "Perlu dua sampai tiga bulan untuk sampai di Indonesia," katanya.

Harga per bilah relatif murah untuk sebuah keris pusaka, berkisar Rp 20 jutaan. Ternyata, keris luk 19 yang dibelinya dari Israel itu dulunya berasal dari Puri (Istana) Karangasem, Bali, puri tempat muasal istrinya Anak Agung Ayu Sasih.

Dari Belanda dalam kurun tahun 2008-2010, Anak Agung membeli setidaknya tujuh keris. Pada 2008, ia mendapat keris luk 9 yang modelnya aneh, tidak pakem, dari Jerman. Apakah semuanya disimpan untuk koleksi sendiri? Ternyata tidak.

Rupanya, di Bali tidak semua pura (tempat ibadah agama Hindu) memiliki pratima (benda yang disakralkan) berbentuk keris. Padahal setiap enam bulan sekali ada upacara adat yang namanya Tumpek Landep atau menajamkan kembali keris-keris agar kembali "segar".

Kini, beberapa anggota masyarakat dari pura di Gianyar dan bahkan luar Gianyar, berdatangan kepada Anak Agung minta dicarikan keris untuk dijadikan pratima (di-sungsung atau disimpan) di pura mereka. Pada 2014, misalnya sekitar 500 orang asal Bangli datang berjalan kaki menjemput pusaka di Puri Saraswati, tempat tinggal Anak Agung di Gianyar.

Orang sedesa, lengkap dengan gong, datang menjemput pusaka keris yang semula didapat Anak Agung dari luar negeri. "Ada kepuasan sendiri, keris yang saya dapat dari luar Bali itu dijadikan pratima dan di-sungsung (disimpan) kembali di pura-pura di Bali, dijemput ratusan masyarakat dari desa adat. Bangga, bisa bermanfaat bagi orang banyak," tutur Anak Agung.

Anak Agung tidak hanya mengembalikan keris-keris kuo dari luar ke Bali, tetapi juga menciptakan desain baru keris Bali. Tahun 2010, keris rancangannya yang digarap empu muda asal Surabaya. Empu Rudi Hartonodiningrat, bahkan tampil sebagai juara di acara Keris for the world di Jakarta.

"Maksudnya, agar mereka juga memiliki keris karena ternyata banyak di antara mereka yang hanya menyandang warangka saja, sementara bilah keris di dalamnya hanya logam putih (keris-kerisan)," ujar Anak Agung yang juga Penasihat Utama Pecalang Se-Kabupaten Gianyar. Ia telah menghibahkan sekitar 200 keris sejak tahun 2010 kepada para pecalang desa adat. Saat ini ia telah memesan 100 bilah keris untuk pecalang lainnya.

Tahun 2013, Anak Agung juga menghibahkan 45 bilah keris kepada para bendesa (ketua adat) se- kabupaten Gianyar dan beberapa keris untuk delapan tokoh pelestari budaya Bali di Provinsi Bali. Yang paling menarik, kata Anak Agung, belakangan ada anak-anak muda generasi modern di Bali yang khusus memesan keris untuk dipakai menikah. Sudah ada empat pasang calon pengantin yang memesan kepadanya. "Prinsipnya, dalam perkawinan di Bali, orang nikah harus pakai  keris sungguhan. Pernikahan itu sakral. Kalau waktu menikah tidak pakai keris asli, orang Bali mengatakan mereka kawin main-main," ujarnya.

Sosok Anak Agung sebagai pelestari budaya Bali membuat dirinya dikenal luas di kalangan perkerisan nasional. Di Bali, ia sering mengisi ceramah tentang keris dan mendatangi pura yang memiliki pratima keris, tetapi tidak pernah memelihara bahkan takut menyentuh keris pusaka mereka. Banyak di antara pratima keris yang tersimpan di pura tanpa sarung lantaran sarung yang biasa terbuat dengan lapisan emas sudah lama hilang atau terjual. Pratima keris yang kurang terawat itu kemudian dibikinkan sarung atau warangka baru oleh Anak Agung untuk di-sungsung-kan kembali menjadi pusaka pura.

Oleh : Jimmy S Harianto (Koran Kompas) 
Bahan Warangan Keris dan Cara menyimpannya

Bahan Warangan Keris dan Cara menyimpannya

Bahan Warangan Keris dan Cara menyimpannya - Warangan adalah sejenis racun, istilah ilmu kimianya, arsennicum. Warangan ini tergolong jenis racun yang kuat. Orang awam, selain mengenalnya sebagai bahan untuk mewarangi keris, juga menggunakannya sebagai racun tikus. Begitu kuat racun warangan, sehingga seandainya ada tikus yang mati karena makan racun warangan dan bangkai tikus itu dimakan kucing, maka kucingnya juga akan mati.

Apa Itu Warangan Keris dan cara menyimpannya

Karena sifat racunnya yang kuat inilah maka kita harus menyimpan dan menggunakannya secara hati-hati. Jaman sekarang, kalau kita membeli warangan, biasanya si penjual akan membungkusnya dengan pembungkus plastik. Simpanlah warangan itu, tetap dalam keadaan terbungkus plastik, jika kita tidak akan segera menggunakannya. Tempatkan warangan yang terbungkus plastik itu pada sebuah cupu atau botol kecil berleher lebar atau plastik bekas tempat pil. Tutuplah rapat-rapat, kalau perlu perkuatlah tutup itu dengan cellotape atau kertas perekat.

Tuliskanlah kata : "Racun" pada tempat penyimpanan warangan itu, kalau perlu bubuhi tanda "racun" berupa tengkorak dengan silang tulang dibawahnya. Jangan pula menaruh dekat dengan obat-obatan di kotak obat. Sebab kalau sampai salah ambil, berbahaya.

Tempat paling baik dan paling aman untuk menyimpan warangan adalah di dekat penyimpanan keris. Seandainya tempat penyimpanan keris di lemari pakain, maka rekatkanlah botol atau tempat penyimpanan warangan itu di dinding lemari, dekat dengan keris-keris yang disimpan. Untuk merekatkannya dapat digunakan plester atau cellotape.

Jangan menyimpan warangan di tempat yang terbuat dari bahan logam, karena oksidasi, warangan dapat bereaksi secara kimiawi dengan tempat yang terbuat dari logam itu, sehingga mutu warangan bisa berubah dan menjadi kurang baik untuk digunakan mewarangi keris. Tempat terbaik untuk digunakan menyimpan warangan adalah yang terbuat dari gelas atau beling. Kalau tak ada tempat yang semacam itu, boleh digunakan tempat dari porselain atau plastik.

Bungkus warangan yang terbuat dari kertas atau plastik, jangan dibuang sembarangan, karena berbahaya. Bungkus kertas itu beracun dan berbahaya untuk orang lain. Sebaiknya bungkus-bungkus kertas atau plastik segera dibakar agar tidak membahayakan.