Tampilkan postingan dengan label Keris Lurus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keris Lurus. Tampilkan semua postingan
Macam-Macam Keris Dapur Jalak

Macam-Macam Keris Dapur Jalak

Macam-Macam Keris Dapur Jalak - Jalak merupakan salah satu bentuk dapur keris lurus yang ukurannya bilahnya lebar, panjangnya sedang. Bagian sor-soran keris ini biasanya agak tebal, gandik-nya polos,pejetan-nya dangkal, memakai sogokan rangkap. Dibandingkan sogokan pada keris lain, sogokan keris dapur jalak tergolong sempit. Tidak ada ricikan lainnya.

Dapur Jalak tergolong dapur yang tua. Beberapa keris Buda yang ditemukan, ber-dapur  Jalak. Selain itu Jalak juga merupakan sebutan bagi setiap keris lurus yang gandik-nya polos, tanpa sogokan, memakai tikel alis. Dua pusaka Keraton Kesultanan Yogyakarta yang berdapur Jalak adalah Kanjeng Kyai Gutuk Api dan Kanjeng Kyai Sura Lasem.

Ciri-ciri dhapur jalak

Macam-macam keris dapur jalak atau sering di tulis dengan keris dhapur jalak adalah keris dengan bentuk lurus dan bilahnya sedang (jarang yang ukuran corok/besar) dan merupakan keris yang sudah ada sejak lama. Entahlah kenapa para pinisepuh menamakan keris ini dengan nama Jalak, namun yang jelas, tentulah ada maksud yang baik dengan memberi nama burung Jalak yang pembawaannya lincak, nyaring berkicau dan tangkas trengginas, bergerak ke mana-mana, dan jangan lupa keris dhapur jalak banyak yang dimiliki keluarga kerajaan/kraton.
Berikut beberapa keris berdhapur jalak yang diambil dari beberapa sumber, antara lain : 

1. Jalak Budho (keris jalak tertua)

Jalak Buda merupakan salah satu bentuk dapur keris yang ukuran bilahnya lebar, pendek, tebal, lurus. Bentuknya sederhana dengan Gandik  polos, pejetan-nya dangkal, sogokan-nya rangkap dan tipis, kadang-kadang memakai tingil, ricikan lain tidak ada. Permukaan bilah keris Jalak Buda pada umumnya tidak rata, melainkan keropos seperti bopeng. Besinya mempunyai kesan nglempung bagai tanah liat.

Kalangan pecinta keris pada umumnya sependapat bahwa Keris Jalak Buda merupakan keris generasi pertama di Indonesia, berarti  juga keris pertama di dunia. Dari segi tuah, bagi mereka yang percaya, semua keris Jalak Buda memiliki tuah yang baik bagi keselamatan. Itulah sebabnya, keris Jalak Buda sering digunakan sebagai Keris Tindih, yakni difungsikan sebagai peredam tuah keris lain yang ‘galak’, ‘keras’, buruk  atau menganggu. Karena kesalahkaprahan semua jenis dapur keris yang diperkirakan dibuat pada zaman Buddha dikatakan sebagai Jalak Buda. Padahal ada juga keris Buda yang ber-dapur Betok dan Brojol. Salah satu ciri khas Jalak Buda adalah adanya metuk di bawah ganjanya. Dengan adanya metuk ini, ukiran yang dipasang pada keris Jalak Buda tidak memerlukan mendak.

2. Jalak Dinding

Jalak Dinding, disebut juga Jalak Dingin, adalah salah satu bentuk dapur keris yang bilahnya lurus. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini memakai gusen, pejetan dan tingil. Selain itu tidak ada lagi ricikan lainnya. Sepintas keris ini mirip sekali dengan keris ber-dapur Tilam Sari. Bedanya hanya terletak pada gusen yang ada di sepanjang sisi bilah.

Keris pusaka Keraton KesultananYogyakarta, yaitu Kanjeng Kyai Ageng Jaka Piturun, menurut catatan pihak keraton juga ber-dapur Jalak Dinding.

3. Jalak Makoro

Merupakan salah satu bentuk dapur keris lurus yang bentuknya serupa dengan dapur Jalak, tetapi gandik-nya diukir dengan bentuk gambar timbul (relief) Makara,yakni semacam raksasa jadi-jadian. Ricikan lainnya sama dengan keris dapur Jalak. Sebagain orang menyebut keris ini dengan nama dapurJalak Barong atau Barong saja.

4. Jalak Ngoceh

Merupakan salah satu bentuk dapur keris lurus yang bilahnya rata atau nglimpa, karena tanpa ada-ada. Ricikan yang terdapat pada keris itu hanyalah gandik polos ukuran normal, pejetan dan greneng robyong. Sebagian penggemar keris beranggapan bahwa keris dapur jalak Ngoceh cocok untuk para petani dan peternak unggas.

5. Jalak Ngore

Jalak Ngore adalah salah satu bentuk dapur keris lurus. Panjang bilah keris ini berukuran sedang, ada-ada nya terlihat jelas dan tepat sampai ke ujung bilah. Selain itu keris ber-dapur Jalak Ngore juga memakai gandik polos, pakai pejetan, tikel alis (biasanya dangkal, kurang jelas) sraweyan dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada.

6. Jalak Nguwoh

Jalak Nguwoh adalah salah satu bentuk dapur keris yang bilahnya lurus, ukurannya sedang. Gandik keris ini polos, memakai pejetan dan tingil. Ada-adanya terlihat jelas dan tebal, sampai ke ujung bilah. Dengan demikian  permukaan bilah keris ber-dapur Jalak Nguwoh itu nggigir lembu.

Ricikan lainnya tidak ada. Keris ini bentuknya hampir mirip dengan bentuk keris dapur Tilam Sari. Sebagian pecinta keris menamakan dapur keris Jalak Nguwuh, tetapi pendapat ini kiranya kurang tepat, karena nguwoh berarti berbuah, sedangkan nguwuh berarti menyampah. Padahal dalam pemberian nama, orang Jawa selalu mengacu pada arti yang baik.

7. Jalak Ngucup Madu

Merupakan salah satu bentuk dapur keris lurus. Ukuran panjang bilahnya normal. Permukaan bilahnya datar, tanpa ada-ada. Keris ini mempunyai gandik polos, pejetan dan greneng, serta sebuah sogokan berukuran pendek di depan. Pada umumnya, sogokan ini sempit dan dalam. Keris ber-dapur Jalak Nyucup Madu juga memakai tikel alis. Selain itu, tidak ada lagi ricikan lainnya.

8. Jalak Piturun

Merupakan salah satu bentuk dapur keris lurus, yang kadang-kadang secara keliru disebut juga Jaka Piturun, sehingga rancu dengan nama keris pusaka Keraton Yogyakarta. Ukuran panjang bilah keris ini sedang, permukaan nggigir lembu, sebab bilah keris ini memakai ada-ada.Gandik-nya polos. Keris ber-dapur Jalak Piturun memakai pejetan, tingil dan sogokan-nya rangkap. Bentuknya hampir mirip dengan keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng. Yang membedakan adalah pada tikel alis. Jalak Piturun tidak memakai tikel alis dan ada-adany kelihatan jelas.

9. Jalak Ruwoh

Disebut juga dengan Jalak Ruwoh, adalah salah satu dapur keris lurus, yang ukuran bilahnya normal. Permukaan bilahnya nggigir sapi. Keris ber-dapur Jalak Ruwuh ini bergandik polos, pejetan, gusen dan ada-ada. Sepintas lalu keris dapur Jalak Ruwh mirip dengan Tilam Upih atau Brojol, bedanya yang jelas adalah bilahnya lebih tebal dan kebanyakan ngadal meteng. Namun Jalak Ruwuh terkadang dikacaukan orang dengan Dapur Jalak Nguwuh, karena bunyi nama dapur ini hampir serupa

10. Jalak Sangu Tumpeng

Merupakan salah satu bentuk dapur keris yang bilahnya lurus, ukurannya sedang. Gandik-nya polos, pakai pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan tingil. Ricikan lainnya tidak ada. Di antara para pecinta keris banyak yang beranggapan bahwa keris ber-dapur ini umumnya mudah mencari rezeki. Itulah sebabnya, keris ini biasanya dimiliki oleh para pedagang atau pengusaha dan sejenisnya.

Kanjeng Kyai Ageng Kopek, keris pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta juga berdapur Jalak Sangu Tumpeng. Selain itu masih ada lagi pusaja Keraton Yogya yang juga berdapur Jalak Sangu Tumpeng, yakni Kanjeng Kyai Danuwara.

11. Jalak Sangupati

Tergolong dapur keris lurus yang langka. Permukaan bilahnya nggigir sapi. Karena keris ini memakai ada-ada. Ricikan lainnya adalah Kembang kacang pogok, jalem, dua lambe gajah, sogokan-nya hanya satu, yakni sogokan depan, sraweyan dan greneng sungsun. Jalak Sangupati adalah dapur kreasi baru yang mulai ada sejak zaman pemerintahan Sri Sunan Pakubawana IX.

12. Jalak Sumelang Gandring

Jalak Sumelang Gandring merupakan salah satu bentuk dapur keris lurus. Ukuran panjang bilahnya sedang. Keris ini bergandik polos, memakai pejetan, tikel alis, kruwingan, tingil dan sogokan-nya hanya satu di depan. Bagian ada-ada nya cukup jelas dan permukaan bilahnya geger lembu.

Dhapur Keris Jalak lainya :
  • Jalak Nguwung
  • Jalak Mangan Lurung
  • Jalak Ngepang
  • Jalak Ukel
  • Jalak Tilam Sari
  • Jalak Sinom
    Keris Blak.., Masternya Keris

    Keris Blak.., Masternya Keris


    Keris Blak.., Masternya Keris - Tidak banyak penggemar tosan aji yang tahu mengenai keris blak, jenis keris yang satu ini memenag tidak banyak beredar di masyarakat. Saya sendiri memang baru mengetahuinya belakangan ini. Pada jaman dulu apabila seseorang memesan pusaka keris dalam jumlah banyak kepada seorang empu, maka sang empu akan membuat sebilah keris yang digunakan sebagai masternya. Berbeda dengan keris kebanyakan, biasanya keris ini bahannya terbuat dari mayoritas bahan kuningan dengan campuran emas murni 35% dan beberapa logam lainnya. Memang tidak semua empu dipastikan membuat keris blak, namun berdasarkan informasi belakangan hari, keris blak dibuat sejak era PB VIII s.d PB X dan belum diketemukan di era sebelumnya. 

    Sumber : Allysdona Pinkan

      
    Ciri-Ciri Keris Tangguh Tuban

    Ciri-Ciri Keris Tangguh Tuban

    Ciri-Ciri Keris Tangguh Tuban - Keris tangguh Tuban mungkin satu-satunya keris tangguh tua yang masih mudah dijumpai sekarang ini. Tidak seperti tangguh sepuh lainnya, seperti Majapahit, Pajajaran, Kediri, Singosari, Sedayu dan lain-lain yang sangat sulit  untuk di jumpai apalagi didapatkan (ada tapi jarang-jarang). Keris tangguh Tuban memiliki masa perkiraan pembuatan keris sama dengan era Majapahit akhir dan memiliki ciri-ciri khas yang membedakannya dari keris-keris tangguh lainnya.
    Ciri-ciri keris tangguh Tuban antara lain :

    1. Pada umumnya keris Tuban dibuat dengan dhapur lurus atau tanpa luk/lekukan dan kebanyakan dhapur "Tilam Upih" dan kadang-kadang "Kebo Lajer" atau dhapur keris lurus lainnya, kecuali untuk dhapur tombak yang malah kebanyakan dijumpai dengan dhapur berluk 7, 9 dan 11.
    2. Keistimewaan keris Tuban yang tidak terdapat pada keris tangguh lainnya adalah bentuk bilahnya yang tipis/pipih dan tempaan yang matang, sehingga Keris Tuban pada umumnya memiliki bobot yang ringan dan jika ditanting/disentil jari, suaranya lebih berdenting yang menandakan matangnya tempaan. Selain tipis, keris Tuban pada umumnya juga memiliki bilah yang lebih besar dibanndingkan dengan tangguh lainnya.
    3. Pamor dari keris Tuban memiliki istilah "Ndeling", yaitu warna besi terdiri dari tiga warna yaitu hitam, putih keruh dan putih mengkilat. Tidak seperti pamor keris pada umumnya yang hanya terdiri dari warna hitam dan putih keruh.
    4. Pamor keris Tuban yang paling indah yaitu pamor "Melati", baik Tumpuk atau pun Rinonce, jika pamor tidak sempurna makan jadi pamor "Banyu (toya) mambeg" atau "Wos Wutah" yang tidak kalah indahnya walaupun tidak sekelas dengan pamor Melati. 
    Wayang dan Hubungannya dengan Dunia Perkerisan

    Wayang dan Hubungannya dengan Dunia Perkerisan

    Wayang dan Hubungannya dengan Dunia Perkerisan

    Wayang Dalam Dunia Perkerisan - Sebagaimana telah disebutkan terdahulu, dunia pewayangan dan dunia perkerisan selalu kait-mengkait. Berikut akan dicoba menampilkan unsur-unsur pewayangan dalam dunia perkerisan, yang sebagian besar menyangkut dhapur ataupun bentuk (wanda) bilah keris, antara lain sebagai berikut :
    • Semar Tinandhu (keris lurus): cocok untuk meningkatkan kedudukan sosial.
    • Semar Pethak (keris lurus) : atau Semar Matak Aji, cocok untuk mencari ilmu kejiwaan.
    • Karna Tinandhing atau Karna Tandhing (keris lurus) dengan dua kembang-kacang yang bertolak belakang.
    • Bima Kurda (keris luk 15) : cocok untuk melawan musuh.
    • Anoman (keris luk 5) : cocok untuk kesaktian/perajurit.
    • Buto Ijo (keris luk 9 dan 13) : cocok untuk seniman.
    • Indrajit (keris luk 21) : cocok untuk kekebalan.
    • Trisirah/Trimurda (keris luk 19) cocok untuk kekebalan dan lain-lainnya.
    Selain dalam bilah, unsur wayang juga dipakai dalarn penamaan perabot bilah keris, misalnya ukiran atau deder atau gagang keris. Di situ, antara lain kita kenal :
    • Samba Keplayu (gaya Solo) : kecil, langsing, dan ndangak.
    • Rajamala (gaya Solo): besar kepala, besar perut, ndangak.
    • Gatotkaca Seba atau Mara Seba (gaya Solo) : pideksa (gagah) tetapi menunduk.
    • Narada Kandha (gaya Yogya) pendek, perut buncit.
    • Bhatari Dhurga : diukir seperti bentuk raseksi (raksasa wanita).
    Bukti lain tentang keterkaitan dunia perkerisan dan dunia pewayangan, adalah narna tokoh punakawan Gareng atau lengkapnya Kyai Lurah Nala Gareng yang juga diberi nama lain seperti : Cakrawangsa, Kadhal Pedhot, Mangun Oneng,Pegat Waja, dan Pancal Pamor. Kedua nama terakhir ini adalah merupakan ungkapan (terminologi) dalam dunia perkerisan, atau lebih jelasnya merupakan istilah teknis bagi para Empu dalam mengerjakan penempaan besi baja-pamor menjadi sebilah keris. Pegat waja adalah fenomena terjadinya keretakan pada inti baja bilah keris pada penyepuhan yang gagal; sedangkan pancal pamor adalah gejala tidak melekatnya saton pamor terhadap inti baja bilah keris selama proses pembakaran dan penempaan.

    Sebagai tambahan, dapat disebutkan di sini bahwa dalam bahasa Jawa kata keris juga memiliki beberapa sinonim, yakni : katga, curiga, wangkingan (karena di-'wangking/disengkelit’), senjata ruket, senjata pamungkas, siyunging Bhatara Kala (tokoh wayang), pusaka, dan tosan-aji/wesi-aji (termasuk tombak, pedang, dll).

    Menurut kepercayaan, keris-keris dengan dhapur/pamor tertentu dapat memiliki khasiat/tuah tertentu. MisaInya :
    • Dhapur Carita (luk 11) : cocok untuk dalang/seniman.
    • Dhapur Brojol (lurus) : cocok untuk dukun bayi/seniman.
    • Dhapur Nagasasra (luk 13) : cocok untuk Raja/Kepala Pemerintahan.
    • Dhapur Sabuk Inten (luk 11) : cocok untuk para perwira.
    • Dhapur Sengkelat (luk 13) : cocok untuk para penguasa.
    • Dhapur Tilam Upih (lurus) : cocok untuk pujangga/pendeta.
    • Dhapur Tilam Sari (lurus) : cocok untuk Raja/pendeta.
    • Dhapur Jaran Guyang (luk 7) : cocok untuk play-boy.
    • Dhapur Pulanggeni (luk 5) : cocok untuk panglima/kornandan.
    • Dhapur Singa Barong (luk 5-13) : cocok untuk pengawal.
    • Dhapur Carubuk (luk 7) : cocok untuk pendeta/alim-ulama.
    • Dhapur BethokIJangkung (luk 3) : cocok untuk keselamatan.
    • Dhapur Sempana (luk 9) : cocok untuk Pejabat Pemerintah.
    • Dhapur Jalak Sangu Tumpeng (lurus) : cocok untuk mencari rezeki.
    • Pamor Udan Mas : cocok untuk mencari kekayaan.
    • Pamor Beras Wutah : cocok untuk mencari nafkah.
    • Pamor Satriya Pinayungan : cocok untuk komandan pasukan/penguasa/ pencari keselamatan.
    • Pamor Raja Gundhala : cocok untuk kesaktian.
    • Pamor Blarak Ngirit : cocok untuk mencari kesetiaan.
    • Pamor Ujung Gunung (Raja Abala Raja) : cocok untuk kesaktian/ kekuasaan/kesetiaan para bawahan.

    Demikianlah beberapa contoh keterkaitan antara dunia pewayangan dengan dunia perkerisan.
    Hari Kelahiran (Wuku) dan Kecocokan dengan Dapur Keris

    Hari Kelahiran (Wuku) dan Kecocokan dengan Dapur Keris

    Wuku adalah bagian dari suatu siklus dalam penanggalan Jawa dan Bali yang berumur tujuh hari (satu pekan). Siklus wuku berumur 30 pekan (210 hari), dan masing-masing wuku memiliki nama tersendiri. Perhitungan wuku (bahasa Jawa: pawukon) masih digunakan di Bali dan Jawa, terutama untuk menentukan "hari baik" dan "hari buruk" serta terkait dengan weton.
    Hari Kelahiran (Wuku) dan Kecocokan dengan Dapur Keris

    Ide dasar perhitungan menurut wuku adalah bertemunya dua hari dalam sistem pancawara (pasaran) dan saptawara (pekan) menjadi satu. Sistem pancawara atau pasaran terdiri dari lima hari, sedangkan sistem saptawara terdiri dari tujuh hari. Dalam satu wuku, pertemuan antara hari pasaran dan hari pekan sudah pasti, misalkan hari Sabtu Pon terjadi dalam wuku Wugu. Menurut kepercayaan tradisional orang Bali dan Jawa, semua hari-hari ini memiliki makna khusus.

    Dalam dunia modern kita mengenal adanya ilmu Astrologi (Horoscope) yang membagi kelahiran seseorang berdasarkan Rasi Bintang, seperti Gemini, Cancer, Aries dan sebagainya. Demikian halnya dengan masyarakat Jawa yang mengenal WUKU kelahiran seseorang yang terbagi menjadi 30 Wuku yang diambil dari Epos Prabu Watugunung dengan 2 orang isteri dan 27 orang anaknya.

    Pembagian Wuku tersebut selain untuk mengetahui watak dan karakter dasar seseorang berdasarkan kelahirannya, juga dipercaya untuk melihat kesesuaian Dhapur Keris yang cocok untuk setiap wuku yang ada.

    Selengkapnya pembahasan masalah Wuku dan Dhapur Keris adalah sebagai berikut :
    Penentuan Wuku Seseorang :
    1. Sinta - Batara Yama (Ahad Pahing - Sabtu Pon)
    2. Landep - Batara Mahadewa (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)
    3. Wukir, Ukir1 - Batara Mahayakti (Ahad Legi - Sabtu Pahing)
    4. Kurantil, Kulantir1 - Batara Langsur (Ahad Pon - Sabtu Wage)
    5. Tolu, Tulu1 - Batara Bayu (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)
    6. Gumbreg - Batara Candra (Ahad Pahing - Sabtu Pon)
    7. Warigalit, Wariga1 - Batara Asmara (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)
    8. Warigagung, Warigadian1 - Batara Maharesi (Ahad Legi - Sabtu Pahing)
    9. Julungwangi, Julangwangi1 - Batara Sambu (Ahad Pon - Sabtu Wage)
    10. Sungsang - Batara Gana Ganesa (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)
    11. Galungan, Dungulan1 - Batara Kamajaya (Ahad Pahing - Sabtu Pon)
    12. Kuningan - Batara Indra. (Ahad Wage - Sabtu Kliwon) Pada minggu ini jatuh hari raya Kuningan pada hari Sabtu-Kliwon.
    13. Langkir - Batara Kala (Ahad Legi - Sabtu Pahing)
    14. Mandasiya, Medangsia1 - Batara Brahma (Ahad Pon - Sabtu Wage)
    15. Julungpujut, Pujut1 - Batara Guritna (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)
    16. Pahang - Batara Tantra (Ahad Pahing - Sabtu Pon)
    17. Kuruwelut, Krulut1 - Batara Wisnu (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)
    18. Marakeh, Merakih1 - Batara Suranggana (Ahad Legi - Sabtu Pahing)
    19. Tambir - Batara Siwa (Ahad Pon - Sabtu Wage)
    20. Medangkungan - Batara Basuki (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)
    21. Maktal - Batara Sakri (Ahad Pahing - Sabtu Pon)
    22. Wuye, Uye1 - Batara Kowera (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)
    23. Manahil, Menail1 - Batara Citragotra (Ahad Legi - Sabtu Pahing)
    24. Prangbakat - Batara Bisma (Ahad Pon - Sabtu Wage)
    25. Bala - Batara Durga (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)
    26. Wugu, Ugu1 - Batara Singajanma (Ahad Pahing - Sabtu Pon)
    27. Wayang - Batara Sri (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)
    28. Kulawu, Kelawu1 - Batara Sadana (Ahad Legi - Sabtu Pahing)
    29. Dukut - Batara Sakri. Pada minggu ini jatuh hari Anggara Kasih pada hari Selasa Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa. (Ahad Pon - Sabtu Wage)
    30. Watugunung - Batara Anantaboga. (Ahad Kliwon - Sabtu Legi) Dalam minggu ini jatuh hari Jumat Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa dan hari Saraswati yang dianggap suci oleh orang Bali.

    Watak dan Kecocokan Keris :
    1. Wuku Sinta, Dewanya Sanghyang Batara Yamadipati = wataknya seperti raja dan pendita, banyak kemauan, keras, cepat bahagia, bakat kaya harta benda. Memanggul tunggul = mudah mendapatkan kesenangan hidup. Kaki belakang direndam dalam air = perintahnya panas didepan dingin belakang. Pohonnya : Kendayakan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burungnya : Gagak = mengerti petunjuk gaib. Gedungnya di depan = memperlihatkan simbol kekayaannya, pradah hanya lahir. Keris yang Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
    2. Wuku Landep, Dewanya Sanghyang Batara Mahadewa = bagus rupanya, terang hatinya, gemar bersemadi. Kakinya direndam dalam air = perintahnya keras didepan dingin dibelakang, kasih sayang. Pohonnya : Kendayakan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burungnya : Atat kembang (kakatua) = jadi kesukaan para agung, jika menghambakan diri jadi kesayangan. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
    3. Wuku Wukir, Dewanya Sanghyang Batara Mahayekti = besar hatinya, menghendaki lebih dari sesama. Tunggulnya : didepan = selalu beruntung, kariernya lancar, akhirnya hidup senang. Menghadapi air di bokor besar = baik budi pekertinya, menghormati orang lain. Pohonnya : Nagasari = bagus rupaya, sopan-santun, jika bekerja dicintai oleh pimpinan. Burungnya : Manyar = tak mau kalah dengan sesama, dapat mengerjakan segala pekerjaan. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
    4. Wuku Kurantil, Dewanya Sanghyang Batara Langsur = pemarah. Memanggul tunggul = akhirnya mendapat kesenangan hidup. Air dalam bokor besar disebelah kiri = serong hatinya, sering iri hati. Pohonnya : Ingas = tak dapat untuk berlindung, karena panas. Burungnya : Salindita = lincah / tangkas. Gedungnya terbalik di depan = boros. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
    5. Wuku Tolu, Dewanya Sanghyang Batara Bayu = dapat menyenangkan hati orang lain, kalau marah berbahaya, tak dapat dicegah, Tunggulnya : dibelakang = kebahagiannya terdapat dibelakang hari. Pohonnya : Wijayamulya (Gaharu) = sangat indah rupanya, tajam roman mukanya, tinggi adat-istiadatnya, teliti, suka pada kesunyian, selamat hatinya. Burungnya : Branjangan = ringan tangan, cepat bekerjanya. Gedungnya di depan = suka memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.
    6. Wuku Gumbreg, Dewanya Sanghyang Batara Cakra = keras budinya, segala yang dikehendakinya segera tercapai, tak mau dicegah, pengasih. Kaki sebelah yang di depan direndam dalam air = perintahnya dingin didepan, panas di belakang. Pohonnya : Beringin = jadi pelindung keluarganya, budinya tinggi. Burungnya : Ayam hutan = liar, dicintai oleh para agung, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya di kiri = penyayang, tapi kalau sedang jengkel tidak.Keris yang Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
    7. Wuku Warigalit, Dewanya Sanghyang Batara Asmara = bagus rupanya,senang asmara, cemburuan, hatinya mudah tersentuh, Pohonnya : Sulastri = bagus rupanya, banyak yang cinta. Burungnya : Kepodang – gampang marah, cemburuan, tak suka berkumpul dengan orang banyak. Menghadapi Candi = Senang berprihatin, menyepi. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
    8. Wuku Warigagung, Dewanya sanghyang Mahayekti = berat tanggungannya, berkeinginan. Tunggulnya : di belakang = rejekinya dibelakang hari. Pohonnya : cemara = ramah bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati. Burungnya : Betet = keras kemauannya, pandai mencari kehidupan. Gedungnya dua buah di muka dan di belakang = ikhlasnya hanya setengah, jiwanya labil. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
    9. Wuku Julungwangi, Dewanya sanghyang Sambu = tinggi perasaannya, tidak boleh disamai. Tunggulnya : di depan = selalu beruntung, kariernya lancar, akhirnya hidup senang. Menghadap air di bokor = dermawan tetapi harus diperlihatkan, Pohonnya Cempaka = dicintai oleh orang banyak. Burungnya Kutilang = banyak bicara dan perkataannya dipercayai orang, dicintai para pembesar. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
    10. Wuku Sungsang, Dewanya sanghyang Gana = pemarah, gelap hati. Pohonnya : Kayutangan = tak suka menganggur, keras budinya, suka kepada kepunyaan orang lain. Burungnya : Nuri = pemboros, jauh kebahagiaannya. Gedungnya terbalik di belakang = ikhlasan dengan tidak pakai perhitungan. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.
    11. Wuku Galungan, Dewanya Sanghyang Batara Kamajaya = teguh hatinya, dapat melegakan hati orang susah, cinta pada perbuatan baik, jauh kepada perbuatan jahat. Memangku air dalam bokor = suka bersedekah, pengasih, namun sedikit rejekinya. Pohonnya : Kayutangan = ringan tangan, keras budinya, gampang suka pada kepunyaan orang lain. Burungnya : Elang = gesit tingkahnya, pandai mencari nafkah. Keris yang Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
    12. Wuku Kuningan, Dewanya Sanghyang Batara Indra = melebihi sesama, tinggi derajatnya. Pohonnya : Wijayakusuma = menghindari keramaian, punya kharisma tinggi, orang senang bergaul dengannya. Burungnya : Urang-urangan = lincah, cepat bekerjanya, lekas marah, mudah ngambek. Gedungnya di belakang, jendelanya tertutup = hemat, banyak perhitungan. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
    13. Wuku Langkir, Dewanya Sanghyang Batara Kala menggigit bahunya sendiri = besar nafsunya, tidak sayang kepada badannya sendiri, yang melihat takut, buruk adat-istiadatnya, tidak mau menurut, murka, banyak larangan. Pohonnya : Ingas dan cemara tumbang = panas hati, tak boleh didekati orang. Burungnya Gagak = tanggap bisikan gaib. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
    14. Wuku Mandasiyo, Dewanya Sanghyang Batara Brama, kuat budinya, pemarah, tak mau memberi ampun, jika marah tak dapat dicegah, tegaan. Pohonnya : Asam = kuat dan dicintai orang banyak, jadi pelindung sengsara. Burungnya : Platukbawang = rajin bekerja. Gedungnya tertutup di depan = hemat dan banyak rejekinya. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
    15. Wuku Julungpujud, Dewanya Sanghyang Batara Guritno, = suka kepada keramaian, suka berdandan, tersiar baik, mempunyai kedudukan yang lumayan, tidak pernah kekurangan uang. Menghadap bukit/gunung = besar kemauannya, tak suka diatasi, menghendaki memerintah. Pohonnya : Remuyuk = indah warnanya, tidak berbau, disukai orang. Burung : Emprit Jowan = besar kemauannya tetapi pikirannya sukar diduga orang, halus budinya. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.
    16. Wuku Pahang, Dewanya Sanghyang Batara Tantra = perkataannya melebihi sesama, tidak sabaran menepati janji. Bokornya di sebelah kiri di belakangnya = suka jalan serong. Memanggul keris = kasar perkataannya, panas hati, suka bertikai. Pohonnya : Kendayaan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burung : Cucakrowo = banyak bicaranya. Gedung di depan = boros. Keris yang Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
    17. Wuku Kuruwelut, Dewanya Sanghyang Batara Wisnu : tajam ciptanya, tinggi dan selamat budinya, melebihi sesama dewa. Memanggul : cakra = tajam hatinya, berhati-hati. Pohonnya : parijata = jadi pelindung dan besar kebahagiaannya. Burungnya : puter = jika berbicara mula-mula kalah, akhirnya menang, tidak pernah bohong, tidak suka terhadap perkataan yang remeh. Gedungnya di depan = memperlihatkan kekayaannya, angkuh dan tidak mau disepelekan. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
    18. Wuku Mrakeh, Dewanya Sanghyang Batara Surenggana = tawakal hatinya, ingatannya kuat, berkesanggupan/optimis, berani kepada kesulitan. Tunggulnya membalik = cepat naik karier, lekas hidup senang. Pohonnya : Trengguli = buahnya tidak berguna. Tak mempunyai burung = tak boleh disuruh jauh, tentu mendapat bahaya. Gedungnya dipanggul = memperlihatkan pemberian. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
    19. Wuku Tambir, Dewanya Sanghyang Batara Syiwa = lahir dan batinnya terkadang berlainan, egois dan senang pamer. Pohonnya : Upas = bukan tempat perlindungan, tajam perkataannya. Burungnya : prenjak = suka membuat isu, Gedungnya tiga tertutup semua = tidak dapat kaya hanya setengah-setengah saja. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
    20. Wuku Madangkungan, Dewanya Sanghyang Batara Basuki : mengutamakan keberadaan, senang melihat orang lain sengsara, keinginannya aneh-aneh dan sukar menemukan jati diri. Pohonnya : plasa = terhormat didaerah sendiri, sedang di kota tidak berarti apa-apa. Burungnya : pelung = suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya di atas = mendewa-dewakan kekayaannya, hemat. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.
    21. Wuku Maktal, Dewanya Sanghyang Batara Sakti = berbudi teguh, lurus hatinya, optimis, gesit berkarya, baik pekerjaannya, kata-katanya enak didengar. Pohonnya : nagasari = bagus rupanya, lemah lembut tutur katanya, dicintai oleh pembesar. Burungnya : ayam hutan = suka tinggal ditempat sunyi, sukses dalam karier, banyak tanda-tandanya akan mendapat bahagia,. Gedungnya ditumpangi tunggul = kaya benda dan dihormati/berwibawa. Keris yang Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
    22. Wuku Wuyu, Dewanya Sanghyang Batara Kuwera = mudah tersinggung, mudah ngambek, senang menyendiri, senang beramal, kata-katanya tegas dan tidak dapat menabung. Memasang keris terhunus disebelah kaki = waspada dan tajam hatinya. Pohonnya : Tal = panjang umurnya, besar tanda kebahagiannya, pemberani, kuat dan tetap hatinya. Burungnya : Gagak = tak suka kepada keramaian, tanggap gaib. Gedungnya terlentang di depan = pengasih tapi pemboros. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
    23. Wuku Manahil, Dewanya Sanghyang Batara Citragatra = menjunjung diri sendiri, dapat berkumpul ditempat ramai, bakat angkuh, selalu bersedia-sedia untuk membela diri. Air di bokor di belakangnya = halus perintahnya, tetapi tidak menghargai bawahan. Memangku tombak terhunus = waspada dan tajam hatinya. Pohonnya : Tegaron = liat hatinya, semangat perjuangan hidupnya tinggi. Burungnya : Sepahan = liar budinya, tajam pikirannya / perasa. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
    24. Wuku Prangbakat, Dewanya Sanghyang Batara Bisma = pemarah, tangkas, pemalu, memperlihatkan watak prajurit, menghendaki jadi pemimpin orang, lurus pembicaraannya, segala yang dikehendaki tak ada sukarnya. Kakinya kanan direndam dalam air bokor = perintahnya dingin di depan panas di belakang. Pohonnya : Tirisan = panjang umurnya, cukup rejekinya, agak angkuh. Burungnya : urang-urangan = cepat kerjanya. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
    25. Wuku Bala, Dewanya Sanghyang Batari Durga = suka berbuat huru-hara,membuat berita, jahil, suka bercampur dengan kejahatan, tak ada yang ditakuti, pandai sekali bertindak jahat. Pohonnya : cemara = ramai bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati. Burungnya : Ayam hutan = liar budinya, dicintai oleh pembesar, tinggi budinya, banyak tanda-tanda akan mendapat bahagia, suka tinggal ditempat yang sunyi. Gedungnya di depan = senang memperlihatkan kekayaannya. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.
    26. Wuku Wugu, Dewanya Sanghyang Batara Singajalma = banyak akal, lekas mengerti, cerdas, baik budinya, tetapi tidak senang diingkari janji. Pohonnya : Wuni sedang berbuah = siapa yang melihat bagaikan mengidam, akan tetapi setelah dimakan sering dicela. Banyak rejekinya. Burungnya : Kepodang = pamer, cemburuan, tidak suka berkumpul. Gedungnya tertutup di belakang = hemat dan hati-hati membelanjakan uangnya. Keris yang Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
    27. Wuku Wayang, Dewanya Sanghyang Batari Sri = banyak rejekinya, bakti, teliti, dingin perintahnya dicintai oleh orang banyak. Bokor berisi air di depan dan duduk di atasnya = sejuk hatinya, sabar, rela hati, akan tetapi harus diperlihatkan pemberiannya. Pasang keris terhunus = perintahnya mudah didepan, sukar dibelakang. Pohonnya = Cempaka = dicintai oleh orang banyak. Burungnya = Ayam hutan = dicintai oleh pembesar, liar budinya, berbakat angkuh, senang tinggal ditempat yang sunyi. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
    28. Wuku Kulawu, Dewanya Sanghyang Batara Sadana = kuat budinya, besar harapannya, menarik dalam pergaulan, pemboros senang nraktir, bagi laki-laki suka berpoligami. Duduk di bokor berisi air ditepi kolam = sejuk hatinya, dingin perintahnya. Membelakangi senjata tajam = pikirannya terdapat dibelakang, kurang pandai. Pohonnya: Tal = panjang umurnya, besar harapannya, kuat budinya. Burungnya : Nuri, boros, murka. Gedungnya di depan = senang memperlihatkan kekayaannya. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
    29. Wuku Dukut, Dewanya Sanghyang Batara Sakri = keras hatinya, selalu was-was, rajin, tajam pikirannya, segala yang dilihatnya berhasrat dipunyainya. Pohonnya : Pandanwangi = tidak menonjol. Burungnya : Ayam hutan = dicintai oleh para pembesar, liar dan tinggi budinya, besar harapannya, suka tinggal ditempat sunyi. Membelakangi gedungnya = sangat hemat. Berhadapan dengan dua bilah keris terhunus = selalu siaga dan waspada, serta serba ingin tahu. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
    30. Wuku Watugunung, Dewanya Sanghyang Batara Antaboga dan Batari Nagagini. Antaboga = senang tinggal alam untuk bertapa. Nagagini = gemar kepada asmara. Keduanya sangat gemar kebudayaan dan ilmu kebatinan. Menghadap Candi = suka bertapa ditempat yang sunyi, gemar bersemedi dan mempelajari ilmu kebatinan. Pohonnya : Wijayakusuma = rupawan, tinggi budinya, tidak suka pada keramaian, terlihat angkuh, teliti. Burungnya : Gogik = cemburuan, mudah tersinggung dan tidak senang di tempat yang ramai. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.
    Mengenal Lebih Dalam Keris Pusaka Dhapur Lurus bagian Ketiga

    Mengenal Lebih Dalam Keris Pusaka Dhapur Lurus bagian Ketiga

    dhapur keris lurus

    Keris lurus tidak sama dengan keris berluk satu, keris lurus tidak memiliki luk. Dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah "Dhuwung Leres". Bentuk Dhapur keris lurus ini banyak sekali. Terbanyak dibandingkan dengan keris luk manapun, karena banyaknya, pada keris lurus inilah, banyak pula terjadi kesimpangsiuran soal nama dhapur. Kesimpangsiuran ini bukan soal sinonim nama dan istilah dari daerah satu dengan daerah lainnya, tetapi juga sampai pada perbedaan mengenai bentuknya.

    Sebagaimana dijelaskan di muka, bahwa bentuk keris melambangkan maksud dan permohonan tertentu dari sang Empu, maka keris lurus pun secara umum mempunyai makna dan maksud tertentu pula. Oleh sang Empu, keris lurus dimaksudkan membawa perlambang permohonan pada Tuhan, agar pemilik keris lurus ini nantinya mendapatkan berkah Tuhan, menjadi orang yang teguh hatinya, tidak gampang tergoda, tidak mudah terpikat bujukan, sifat-sifat lugu, wajar, tidak neko-neko, apa adanya, dan mencerminkan kesederhanaan. Sebagian orang juga mengartikan bentuk dhapur keris lurus melambangkan "Ular Bertapa" atau Ulo Tapa.

    Di bagian kedua ini, akan dijelaskan delapan belas dhapur keris lurus dari no 41 s.d 58 :
    41. Dhapur Wora Wari
    Ricikan :  kembang kacang, lambe gajah dua, jenggot, greneng lengkap, kruwingan dan tikel alis. Sepintas lalu mirip dengan dhapur Sempaner, perbedaan yang pokok adalah pada jenggot di atas kembang kacang, keris dhapur Wora Wari juga tergolong langka.

    42. Dhapur Sinom
    Ricikan : kembang kacang, lambe gajah dua, sraweyan, ri pandhan, sogokan dua. Keris dhapur Sinom biasa diberikan kepada pemuda yang baru mulai bekerja dengan harapan agar dia bisa diterima ditempat kerjanya dengan baik. Sepintas lalu, keris dhapur Sinom agak mirip dengan dhapur Kalamisani.

    43. Dhapur Jaka Lola
    Ricikan : pejetan, tikel alis, ada-ada sampai ke ujung bilah. Keris dhapur Jaka Lola ini ada pula yang menyebut dhapur Jaga Lola. Sepintas lalu mirip dengan dhapurTilam Upih, bedanya hanya pada  ada-ada. Keris dhapur Jaka Lola ini umumnya berpamor Ujung Gunung.

    44. Dhapur Mahesa Kanthong
    Ricikan : gandhik panjang sekali, sampai ke pertengahan bilah. Di atas gandhik ada kembang kacang kecil, tanpa jalen. Selebihnya tak ada ricikan lainnya. Keris dhapur Mahesa Kanthong biasanya berbilah pipih. Keris ini tergolong keris yang langka. 

    45. Dhapur Semar Tinandu
    Ricikan : kembang kacang dua buah, kiri dan kanan, simetris, sogokan dua, simetris, lambe gajah dan jalen masing-masing juga, kiri dan kanan, simetris. Bilahnya agak pendek, mirip dengan bilah dhapur Bethok. Dibandingkan dengan bilah keris pada umumnya, dhapur Semar Tinandu lebih lebar bilahnya.

    46. Dhapur Cengkrong
    Ricikan : gandhik polos, panjang sekali, sampai setengah panjang bilah, tanpa ricikan lain. Bentuk bilah amat membungkuk. Bilah keris dhapur Cengkrong pada umumnya tebal. Tergolong keris yang langka. Keris ini biasanya dimiliki oleh ulama atau mubaligh.

    47. Dhapur Naga Tapa
    Ricikan : Gandhik kepala naga, badan naga menghilang dalam tengah keris, menjadi ada-ada. Ada yang memakai thinggil di belakang, ada pula yang tidak. Keris dhapur Naga Tapa biasa dipakai oleh orang yang menduduki posisi pimpinan. Keris ini tergolong keris yang langka.

    48. Dhapur Kikik
    Ricikan : gandhik menyerupai anjing duduk dengan kaki depan terukir jelas. Selabihnya tanpa ricikan apa-apa. Ada beberapa jenis Kikik yang memakai thingil di belakang. Dhapur Kikik ini sering disalah sebutkan sebagai Naga Kikik, padahal jelas tidak ada naganya.

    49. Dhapur Puthut
    Ricikan : gandhik menggambarkan semacam arca manusia sedang duduk. Ada yang mengatakan, itu sebagai penggambaran seorang pendhita muda (puthut) yang sedang bertapa. Ricikan lain tidak ada. Biasanya bilahnya lebar dan agak pendek dibandingkan dengan bilah keris yang normal.

    50. Dhapur Puthut Kembar
    Ricikan : gandhiknya di depan dan belakang, simetris keduanya menggambarkan arca puthut saling membelakangi. Bilahnya juga lebar dan agak pendek, seperti yang terdapat pada bilah dhapur keris Bethok. Puthut dan Puthut Kembar banyak dijumpai pada keris-keris tangguh tua.

    51. Dhapur Makara
    Ricikan : gandhiknya menggambarkan kepala raksasa dengan mahkota pendek, semacam mahkota yang biasa dipakai Adipati Karna dalam pewayangan. Selebihnya tidak ada ricikan apa-apa. Dhapur Makara ini amat jarang, beberapa diantaranya pernah penulis jumpai memakai kinatah emas pada mahkotanya.

    52. Dhapur Jalak Makara
    Ricikan : gandhiknya menggambarkan kepala raksasa dengan mahkota pendek, ada sogokan dua dengan ukuran normal. Selebihnya tak ada ricikan lain. Keris ini termasuk dalam keris dari dhapur yang langka. Bentuk makara pada gandhik biasamya ditatah dengan halus sekali.

    53. Dhapur Manglar Munga
    Ricikan : gandhiknya menggambarkan kepala seekor gajah dengan belalai membentuk seperti kembang kacang. Di belakang telinga gajah, ada sayap mengurai ke belakang. Biasanya sayap ini dengan pilin kepala gajah kinatah emas. Hanya ada pada keris tangguh Mataram dan sesudahnya. 

    54. Dhapur Turangga
    Ricikan : gandhiknya menggambarkan kepala seekor kuda sampai ke batas lehernya, rambut surinya melambai ke belakang. Biasannya jambul dan suri rambutnya dan kinatah emas. Selebihnya tak ada ricikan lainnya. Keris dengan dhapur Turangga ini amat langka dan hanya terdapat pada keris tangguh muda.

    55. Dhapur Sujen Ampel
    Ricikan : kembang kacang dengan jenggor, ri pandhan bersusun rangkap, lambe gajah dua, badan bilah tebal sekali dengan permukaan bilah nggigir lembu. Keris ini tergolong langka dan hanya ada pada keris tangguh muda dan biasanya dipergunakan oleh prajurit.

    56. Dhapur Lingiran Tiga
    Ricikan : gandhik polos, pejetannya dangkal, bungkulnya besar dan dilanjutkan menjadi ada-ada yang membukit pada salah satu sisinya (biasanya sisi kanan), sedang pada posisi kiri sebaliknya datar biasa, dengan demikian maka potongan penampang lintang bilah kerisnya menjadi mirip segi tiga.

    57. Dhapur Lar Ngatap
    Ricikan : gandhiknya polos, agak panjang, tapi tidak sepanjang gandhik pada dhapur Mahesa Lajer, pejetannya dangkal, badan bilah di atas gandhik menyempit, tetapi pada pertengahan bilah melebar, kemudian menciut lagi, lebar bagian tengahnya di atas ukuran normal.

    58. Dhapur Singo Barong
    Ricikan : gandhik menggambarkan seekor singa jantan dengan phallus mencuat ke depan. Penggambaran singa mirip kilin atau singa kelenteng cina. Di bagian belakang ada yang memakai greneng lengkap, ada pula yang polos. Dhapur Singa Barong biasanya kinatah emas.
    6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

    6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

    6 Keris Pusaka yang Melegenda-Indonesia dikenal hidup dari banyak legenda di zaman dahulu kala. Legenda dan cerita rakyat itu terus bertahan hingga saat ini, melalui cerita dari mulut ke mulut yang hidup di tengah-tengah masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya, seperti kisah legenda mengenai keris pusaka Indonesia yang sangat terkenal di Pulau Jawa.
    6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

    Beberapa kisah tersebut bahkan juga merupakan bagian dari sejarah panjang keberadaan Nusantara. Sehingga, sudah sewajarnya legenda-legenda tersebut terus dilestarikan, agar tidak hilang tertelan perkembangan zaman yang semakin pesat saat ini. Berikut ini ada lima keris pusaka Indonesia yang memiliki kisah legenda yang sangat terkenal.
    1. Keris Pusaka Empu Gandring
    6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

    Pada abab 11, di suatu tempat di Jawa Timur, Empu Gandring menerima tamu seorang pemuda dari daerah Tumapel. Pemuda itu bernama Ken Arok atau Ken Angrok. Ia memesan pada sang Empu, sebilah keris sakti. Empu Gandring menyanggupi akan menyelesaikan pesanan pemuda itu dalam 40 hari.

    Sebelum hari ke empat puluh, Ken Arok datang ke besalen (bengkel kerja) Empu Gandring guna melihat sejauh mana kemajuan pekerjaan yang dilakukan oleh sang Empu. Dengan senang hati Empu Gandring memperlihatkan hasil karyanya. Begitu melihat keris itu, Ken Arok terkagum-kagum menyaksikan keindahan keris itu.. Menurut penilaiannya, keris itu sudah demikian sempurnanya, sehingga ia langsung meminta agar keris itu dapat segera dibawa pulang. Tetapi sang Empu melarang, katanya keris itu memang sudah selesai secara lahiriah, tetapi doa-doa dan mantera yang harus disertakan dalam pembuatan keris itu belum selesai. Oleh karena itu, Ken Arok diminta agar sabar menanti sampai setelah genap empat puluh hari.

    Karena Ken Arok berkeras hendak membawa keris yang dianggapnya telah rampung itu, akhirnya timbul pertengkaran keras di antara mereka. Ken Arok memaksa, sedang Empu Gandring berkeras mempertahankannya. Ken Arok tak dapat lagi menahan amarahnya, sehingga keris itu ditusukkan ke tubuh Empu Gandring, sang Empu roboh dan sebelum meninggal ia pun mengucapkan kutukannya :

    Dengarkan Ken Arok....., kau telah menganiaya orang yang kau mintai tolong. Kau bunuh aku dengan keris buatanku sendiri, Ingatlah....., kelak kau sendiri juga akan menjadi korban dari keris itu. Keris itu akan memakan korban tujuh nyawa...

    Dalam dongeng dan dalam cerita yang dikisahkan oleh buku Pararaton, keris itu akhirnya memang mengambil tujuh korban, yang pertama Empu Gandring si pembuatnya sendiri, yang kedua Tunggul Ametung, awuku (kepala daerah) Tumampel, yang ketiga Kebo Ijo, orang yang difitnah oleh Ken Arok, yang keempat Ken Arok sendiri, belasan tahun sesudah ia menjadi Raja di Singasari. Korban kelima adalah Anusapati, anak tiri Ken Arok, yang keenam adalah Tohjaya, anak kandung Ken Arok, korban terakhir adalah Mahisa Wongateleng, salah seorang cucu Ken Arok. 

    2. Kanjeng Kiai Sengkelat, Keris Sakti Kerajaan Majapahit
    6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

    Pada abab ke-14, Keraton Majapahit gempar. Keris pusakan keraton Kanjeng Kiai Sengkelat hilang. Untuk mencarinya, Raja Majapahit menugasi Empu Supodriyo mencarinya. Sang Empu melaksanakan tugas itu dengan cara menyamar. Ia pergi ke Kadipaten Blambangan dan bekerja disana dengan nama samaran Empu Pitrang, karena hasil kerjanya baik, suatu saat Empu Pitrang diminta untuk membuat putran (duplikat) keris pusaka Blambangan. Sesudah melihat keris pusaka yang akan dibuatkan putrannya, Sang Empu yakin bahwa pusaka itulaj keris pusaka Majapahit yang hilang. Empu Pitrang menyanggupi tugas itu dengan syarat disediakan bahan baku yang cukup dan boleh dikerjakan di ruang tertutup.Bagi Adipati Blambangan, syarat itu bukan sesuatu yang menyulitkan. Sebuah besalen (bengkel keris) yang tertutup segera dibuatkan, sedemikian rupa hingga tak seorang pun dapat mengintip Empu Pitrang alias Empu Supodriyo kalau ia sedang bekerja.

    Duplikat keris Kanjeng Kiai Sengkelat segera dibuat bukan hanya sebuah, tetapi sekaligus dua buah. Empu Pitrang mengisi kedua keris putran buatannya itu dengan tauh yang merugikan pemiliknya. Duplikat yang dua bilah itulah yang kemudian diberikannya kepada Adipati Blambangan. 

    Keris putran yang satu diakukan sebagai keris asli dan satu lagi sebagai putran. Sedangkan keris pusaka Kanjeng Kiai Sengkelat yang asli disembunyikan. kemudian dibawa ke Majapahit. Keris yang memiliki tuah untuk kebaikan itulah yang akhirnya berada kembali di Keraton Majapahit. Atas jasanya menemukan dan mengembalikan keris pusaka kerajaan, Raja Majapahit memberinya anugerah gelar pangeran dan diberi hadiah tanah perdikan (bebas pajak) di Sendangsedayu. Bahkan konon Empu Supodriyo juga diangkat sebagai menantu Raja. Dalam dunia perkerisan, dialah yang di kemudian hari dikenal dengan nama Empu Pangeran Sendangsedayu. Anugerah sebesar itu diberikan Raja Majapahit karena kepercayaan akan tuah Kanjeng Kiai Sengkelat bagi kejayaan Majapahit.  

    3. Keris Pusaka Naga Sasra Sabuk Inten
    6 Keris Pusaka yang Melegenda di Nusantara

    Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten adalah dua benda pusaka berbeda peninggalan Raja Majapahit. Nagasasra adalah nama salah satu dapur keris luk tiga belas dan ada pula yang luk-nya berjumlah sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luk-nya agar tidak salah.

    Pada keris dapur Nagasasra yang bagus, sebagian banyak bilahnya diberi kinatah emas, dan pembuatan kinatah emas semacam ini telah dirancang oleh sang empu sejak awal pembuatan. Pada tahap penyelesaian akhir, sang empu sudah membuat bentuk kinatah sesuai rancangan. Bagian-bagian yang kelak akan dipasang emas diberi alur khusus Berupa pamor, untuk “tempat pemasangan kedudukan emas” dan setelah penyelesaian wilah selesai, maka dilanjutkan dengan penempelan emas oleh pandai emas dari dalam kerajaan.

    Salah satu pembuat keris dengan dapur Nagasasra terbaik, adalah karya empu Ki Nom, merupakan seorang empu yang terkenal, dan hidup pada akhir zaman kerajaan Majapahit…!!!

    4. Keris Pusaka Kala Munyeng (Milik Sunan Giri)

    Dalam Riwayat Prabu Brawijaya murka. Pengaruh Sunan Giri salah satu dari sembilan Wali Songo, dianggap sudah mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Patih Gajahmada dan pasukannya lalu dikirim ke Giri untuk memberikan serangan, Penduduk Giri pun panik dan menghambur ke Kedaton Giri. Sunan Giri yang saat itu sedang menulis begitu terkejut dan pena (kalam) yang tengah digunakannya ia lontarkan ke arah pasukan Majapahit. Atas kehendak Sang Pencipta pena yang terlontar itu menjelma menjadi keris ampuh dan keris inilah yang memporakporandakan pasukan Majapahit.

    Sunan Giri yang nama kecilnya adalah Raden Paku alias Muhammad Ainul Yakin tidak hanya dikenal sebagai penyebar agama Islam yang gigih. Tetapi juga pembaharu pada masanya. Pesantrennya, yang dibangun di perbukitan desa Sidomukti di selalan Gresik, tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan agama dalam arti sempit, tetapi juga menjadi pusat pengembangan masyarakat. Gin Kedaton, pesantrennya di Gresik, bahkan tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa kala itu. Ketika Raden Patah (Demak Bintaro) melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Pada perkembangan, nya kemudian, Demak tak lepas dan pengaruh Sunan Giri. Dan Sunan Giri diakui sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan setanah Jawa.

    Meluasnya pengaruh Sunan Giri di Gresik membuat Prabu Brawijaya, raja Majapahit kala itu murka. la memerintahkan patihnya, Gadjah Mada, ke Gin Penduduk Giri ketakutan dan berlari ke kedaton Sunan, Babad Tanah jawa menuturkan, ketika itu Sunan Giri sedang menulis. Karena terkejut mendengar musuh berdatangan merusak Giri, pena (kalam) yang dipegangnya Beliau lontarkan. Sunan Giri kemudian berdoa pada Sang Pencipta. 

    Ternyata kalam yang terlempar itu berubah meniadi keris berputar-putar, Keris dari kalam itu mengamuk dan banyak tentara Majapahit yang menyerbu Giri tewas, Sisanya kabur,berlarian kembali ke Majapahit. Dan keris dari kalam itupun dikisahkan kembali sendiri ke kedaton Giri, Tergeletak di hadapan Sunan dengan berlumuran darah.Sunan lalu berdoa pada Yang Maha Kuasa, dan mengatakan pada rakyat Giri bahwa kerisnya yang ampuh itu dinamai Kalam Munyeng.

    Apakah keris Kalam Munyeng (pena yang berputar-putar) itu modelnya seperti keris yang pada masa kini populer dengan nama Kala Munyeng (raksasa yang berputar-putar), wallahu alam!!! Namun keris Kala munyeng juga termasuk keris yang amat tersohor Namanya di nusantara ini.

    5. Keris Pusaka Kyai Condong Campur

    Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur. Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an. Condong Campur merupakan suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan. Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, 

    Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu. Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.

    Dalam dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Keris Sabuk Inten yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus (komet atau bintang berekor), dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat huru hara, yang dalam bahasa Jawa disebut ontran-ontran.

    6. Keris Pusaka Setan Kober

    Keris setan kober ini dalam sejarah dibuat oleh mpu supo mandagri, beliau adalah keturunan seorang empu dari tuban. Dalam riwayat, Mpu supo memeluk islam dan berguru kepada sunan Ampel, sambil tetap membuat keris, Supo Mandagri adalah mpu sakti yang menjadikan karya nya begitu sangat terkenal antara lain Keris Kyai Sengkelat,dan Keris Kyai Nogo sosro dan setan kober ini sendiri, keris ini dulu bernama “Bronggot Setan Kober” di buat pada awal kerajaan islam demak Bintaro,kemudian keris ini di serahkan kepada Syekh Jafar Soddiq atau Sunan Kudus dalam perjalananya kemudian di berikan lagi kepada Arya penangsang.

    Keris pusaka setan kober ini sangat ampuh sekali, tapi membawa hawa perbawa panas, sehingga sering membuat si pemakainya mudah marah, begitu juga dengan arya penangsang yang mudah emosi akibat pembawaan keris ini. keris inilah yang di gunakan arya penangsang untuk bertanding melawan sutawijaya yang memiliki tombak kyai pleret. Sampai detik ini, keris ini juga tidak di ketahui asli keberadaan nya, sama halnya dengan pusaka lain seperti mpu gandring, demikian juga pamor dan dapur asli ciri setan kober tidak diketahui asli dan model nya, alasan ini mungkin menjadi kuat karena keris ini memakan banyak sekali korban petinggi penting, jadi para empu mungkin tidak membuat mirip asli nya karena di yakini membawa sial atau bala sebab telah di anggap haus darah.

    Mengenal Lebih Dalam Keris Pusaka Dhapur Lurus bagian Kedua

    Mengenal Lebih Dalam Keris Pusaka Dhapur Lurus bagian Kedua

    Keris dapur Lurus

    Keris lurus tidak sama dengan keris berluk satu, keris lurus tidak memiliki luk. Dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah "Dhuwung Leres". Bentuk Dhapur keris lurus ini banyak sekali. Terbanyak dibandingkan dengan keris luk manapun, karena banyaknya, pada keris lurus inilah, banyak pula terjadi kesimpangsiuran mengenai nama dhapur. Kesimpangsiuran ini bukan soal sinonim nama dan istilah dari daerah satu dengan daerah lainnya, tetapi juga sampai pada perbedaan mengenai bentuknya.
    ricikan keris

    Sebagaimana dijelaskan di muka, bahwa bentuk keris melambangkan maksud dan permohonan tertentu dari sang Empu, maka keris lurus pun secara umum mempunyai makna dan maksud tertentu pula. Oleh sang Empu, keris lurus dimaksudkan membawa perlambang permohonan pada Tuhan, agar pemilik keris lurus ini nantinya mendapatkan berkah Tuhan, menjadi orang yang teguh hatinya, tidak gampang tergoda, tidak mudah terpikat bujukan, sifat-sifat lugu, wajar, tidak neko-neko, apa adanya, dan mencerminkan kesederhanaan. Sebagian orang juga mengartikan bentuk dhapur keris lurus melambangkan "Ular Bertapa" atau Ulo Tapa.

    Di bagian kedua ini, dijelaskan dua puluh dhapur keris lurus dari no 21 s.d 40 :


    21. Dhapur Panji Penganten

    Ricikan : gandhiknya polos, ukurannya normal, pakai sogokan dua, sraweyan dan rondho nunut. Jadi sepintas lalu mirip sekali dengan keris dhapur Panjinom.

    Dhapur Panji Penganten ini, tergolong jarang dijumpai, langka.

    22. Dhapur Jalak Sangu Tumpeng
    Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, sogokannya dua, sraweyan dan thingil. Tapi pada keris tua, thingil ini sering sudah aus, sehingga tidak begitu jelas. Keris dhapur Jalak Sangu Tumpeng ini populer karena dipercaya membawa tuah memudahkan mencari rejeki.

    23. Dhapur Dungkhul atau Dhukul
    Ricikan : tikel alis, gandhik polos, sogokan satu depan, ganja kelap lintah. Biasanya bagian gandhiknya agak lebih panjang dibandingkan dengan dhapur Tilam Upih. Keris berdhapur Dungkul ini punya sifat menentramkan, baik dipakai oleh orang yang pemarah dan suka nekad.

    24. Dhapur Kelap Lintah
    Ricikan : hampir sama dengan ricikan pada dhapur Brojol, yakni ghandiknya polos, pejeten, tanpa ricikan lain. Tanda  khususnya adalah ganjanya yang berbentuk kelap lintah. Ujung-ujung  ganjanya mencuat ke atas, dhapur Kelap Lintah ini biasa dipakai oleh prajurit atau seorang pemimpin.

    25. Dhapur Yuyu Rumpung
    Ricikan : gandhik panjang di belakang, panjang sekali, hampir setengah bilah. Bagian yang biasa terdapat gandhik, justru tajam. Ganjanya kelap lintah. Sepintas terlihat seperti pedang dapur Suduk Maru, yang pendek kecil. Dhapur Yuyu Rumpung ini termasuk jarang dan langka.

    26. Dhapur Condong Campur
    Ricikan : pakai kembang kacang, lambe gajah, sogokannya hanya di depan, tetapi panjang sampai ujung bilah, pada  bagian bilah ada gusennya. Keris dhapur Condong Campur ini, biasanya hanya dimiliki oleh mereka yang menduduki posisi dan jabatan pimpinan, termasuk dhapur keris yang langka.

    27. Dhapur Jaga Upa atau Jaka Upa
    Ricikan : mirip dengan ricikan Tilam Upih, gandhiknya polos, pejetan, tikel alis dan pakai sogokan dua, pendek, sogokan ini hanya separuh dari panjang sogokan yang normal. Panjang bilahnya juga normal, keris berdhapur Jaka Upa ini, biasanya juga dipakai oleh kalangan prajurit.

    28. Dhapur Karna Tinanding
    Ricikan : bentuk bilah simetris, tetapi tetap condong ke depan, kembang kacang dua, lengkap dengan lambe gajah dan jalen, memiliki dua sogokan yang simetris. Ganja Karna Tinanding ini tidak memakai sirah cecak , kedua ujungnya meruncing, merupakan buntut yang berbentuk uceng mati.

    29. Dhapur Sepang
    Ricikan : bentuk bilah juga simetris, tetapi tanpa kembang kacang, tanpa sogokan, jadi kedua tepi bilah pada bagian sor-soran manajam. Ganjanya juga mirip ganja dhapur Karna Tinanding, tetapi ada  beberapa jenis dhapur Sepang yang ganjanya merupakan ganja wilut.

    30. Dhapur Regol
    Ricikan : bentuk bilah masih tetap simetris dengan dua gandhik polos, pejetannya melebar sehingga gandhiknya sempit, ukuran panjang gandhiknya normal. Selain itu, tanpa ricikan apa-apa. Dhapur Regol ini jarang dijumpai, tergolong langkah. Dhapur Regol biasanya memiliki fungsi sebagai penjaga.

    31. Dhapur Jalak Ruwoh atau Jalak Nguwuh
    Ricikan : gandhik polos, panjangnya normal, ada thingil, pejetan dan gusen, bagian ada-ada tampak jelas mengalir sampai ke ujung bilah, tanpa tikel alis. Dhapur Jalak Nguwuh ini sering dikelirukan dengan dhapur Tilam Sari. Tergolong dhapur keris yang langka.

    32. Dhapur Sempaner atau Sempana Bener
    Ricikan : kembang kacang, lambe gajah, jalen, tikel alis dan ri pandhan. Dhapur sempaner ini di daerah jogjakarta ke barat biasa disebut dengan sebutan Sempana saja. Dhapur Sempaner ini sering dijumpai karena jumlahnya relatif cukup banyak. Beberapa dhapur Sempaner tidak hanya pakai ri pandhan, tetapi greneng lengkap.

    33. Dhapur Jalak Dhinding
    Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, pakai pejetan dan thingil serta gusen, tanpa tikel alis. Sepintas lalu dhapur jalak Dhinding ini mirip dengan keris dhapur Tilam Sari. Perbedaan utama terletak pada gusen. Umumnya bilah kerisnya berukuran tebal.

    34. Dhapur Jalak Ngore
    Ricikan : gandhik polos, pejetan, sraweyan dan greneng, tanpa tikel alis. Dhapur Jalak Ngore inipun mirip dengan Tilam Sari. Bilahnya tipis, dhapur keris ini jarang dijumpai pada keris-keris tua, umumnya bilahnya juga agak tebal.

    35. Dhapur Jalak Ngucup Madu atau Jalak Madu
    Ricikan : gandhik polos, ukuran normal, pejetan dan greneng, pakai sogokan satu di depan, sogokan ini tidak terlalu dalam dan agak pendek, pakai tikel alis. Jalak Madu juga tergolong dhapur keris yang langka, jarang ditemui.

    36. Dhapur Jamang Murup
    Ricikan : ghandik polos, ukuran normal, pakai pejetan, sogokan dua tapi pendek, ukuran sogokannya hanya sekitar separuh dari ukuran normal. Ricikan lainnya tak ada, dhapur Jamang Murup banyak dijumpai pada  keris-keris tangguh pajang, keris dhapur ini termasuk juga keris langka.

    37. Dhapur Mendarang atau Mundarang
    Ricikan : kembang kacang, lambe gajah dua, pakai sogokan dua, jalen, sraweyan dan greneng lengkap. Sepintas lalu mirip dengan dhapur Kala Misani. Dhapur Mundarang ini biasa digunakan oleh prajurit.

    38. Dhapur Tumenggung
    Ricikan :  kembang kacang, lambe gajah satu, jalen, sraweyan, greneng, tanpa sogokan. Sepintas lalu mirip dengan dhapur Mundarang. Dhapur Tumenggung ini biasa dipakai oleh mereka yang menduduki posisi pimpinan. Tergolong dhapur keris yang langka.

    39. Dhapur Pasopati
    Ricikan : kembang kacang pogok, lambe gajah dua, sogokan dua, ri pandhan dan gusen. Ada pula pasopati yang tanpa gusen. Ada pula pasopati yang tanpa gusen, biasanya yang  dari tangguh tua. Pada umumnya keris dhapur pasopati bilahnya agak tebal. Dhapur pasopati kebanyakan memang dari tangguh muda.


    40. Dhapur Mesem

    Ricikan :  lambe gajah dua, kembang kacang, tanpa tikel alis, tanpa sogokan dan bagian belakang juga polos tanpa greneng. Dhapur Musem ini banyak terdapat pada keris tangguh Tuban dan Mataram. Sebagian dhapur Mesem, ujung bilahnya mucuk bung.